Aplikasi Raport SD dan MI. Raport ialah buku yang berisi keterangan mengenai nilai kepandaian dan prestasi belajar murid di sekolah, yang biasanya digunakan sebagai laporan guru kepada orang bau tanah siswa atau wali murid.
Raport memiliki fungsi yang berbeda-beda, yaitu:
Bagi Siswa : Mengetahui kemajuan hasil berguru diri, konsep-kosep atau teori-teori yang belum dikuasai, Memotivasi diri untuk berguru lebih baik, Memperbaiki seni administrasi belajar
Bagi Orang Tua : Mengetahui perkembangan anaknya sehingga orang tua sanggup membantu anaknya belajar, memotivasi untuk meningkatkan hasil berguru dan melengkapi kemudahan berguru di rumah.
Bagi Guru Mata Pelajaran : Sebagai feedback juga evaluasi digunakan guru untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam satu kelas. Hasil evaluasi harus sanggup mendorong guru biar mengajar lebih baik, dan membantu guru untuk memilih seni administrasi mengajar yang lebih tepat.
Bagi Wali Kelas : Melalui raport wali kelas sanggup mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam kelas yang diampunya wali kelas sanggup memilih seni administrasi dalam pengelolaan kelas yang menjadi tanggung jawabnya contohnya dengan menata ulang pengaturan kawasan duduk, pembagian anggota kelompok berguru dan langkah strategis lainnya untuk membantu siswa meningkatkan kompetensi siswa atau membantu mengatasi kesulitan berguru siswa yang lemah.
Revisi Penilaian Kelas Untuk SMP. Assessment is an integral component of any successful teaching effort.. students engage with subject matter based in part on their expectations about how their achievement will be evaluated. [M Lombardi, 2008]. “if you want to change student learning, then change the method of assessment.” [G Brown, et.al., 1997].
Prinsip Penilaian Mengukur capaian kompetensi siswa, Berdasar kriteria (criteria referenced), Berkelanjutan, untuk perbaikan dan peningkatan, Analisa untuk tindak lanjut pembelajaran, Sesuai pengalaman berguru siswa.
Penilaian satuan pendidikan: UTK kelas II, IV, VIII, XI, Ujian Sekolah
Penilaian eksternal (oleh Pemerintah/independent body) : UMTK kelas II, IV, VIII, XI (survey), UN (populasi)
Konsep penilaian
Penilaian dilakukan oleh pendidik baik selama proses pembelajaran (formative assessment) maupun final pembelajaran (summative assessment)
Tujuan penilaian: formatif (membentuk huruf dan perilaku, mengakibatkan pembelajar sepanjang hayat – to drive learning, terampil), diagnostik (melihat perkembangan siswa dan feedback-koreksi pembelajaran), serta mengukur achievement/capaian semoga sanggup dilakukan penilaian hasil pembelajaran
Ranah yang dinilai tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap dan sikap (attitude and behavior / penyesuaian dan pembudayaan)
Proses penilaian
lebih sederhana, terjangkau untuk dilakukan, tidak menjadi beban bagi guru/siswa, tetapi tetap mengutamakan prinsip dan kaidah penilaian
Penilaian yang dilakukan tidak hanya “assessment of learning” melainkan juga “assessment for learning” dan “assessment as learning”
Penilaian untuk mengetahui kesulitan berguru siswa sebagai dasar untuk melaksanakan perbaikan
Memungkinkan guru memakai isu kondisi siswa untuk pembelajaran
Formative assessment
Assessment as learning
Fokus pada pemantauan untuk meningkatkan pembelajaran siswa
Memungkinkan siswa untuk bercermin pada capaian dan kemajuan belajarnya sendiri serta menentukan sasaran belajarnya
Summative assessment
Assessment of learning
Menggambarkan capaian yang telah dicapai terhadap pola standar
Membantu guru untuk mengukur capaian siswa terhadap tujuan kompetensi dan standar yang ada
Penyempurnaan pada Penilaian Kelas
Kompetensi Inti
Penilaian Saat Ini
Penyempurnaan
Sikap Spiritual (KI-1) Sikap Sosial (KI-2)
Penilaian dilakukan pada setiap KD dengan memakai banyak sekali teknik (observasi, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antar-teman)
KI-1 dan KI-2 tidak dinilai pada setiap KD, dinilai oleh guru berdasar observasi sikap dan sikap siswa sehari-hari dengan tujuan untuk menyebarkan sikap dan huruf (formatif), penilaian untuk laporan ditetapkan dalam rapat dewan guru.
Pengetahuan (KI-3) Keterampilan (KI-4)
Penilaian dilakukan untuk setiap KD dengan banyak sekali teknik: (1) Pengetahuan (Tes Tulis, Tes Lisan, Penugasan) dan (2) Keterampilan (Praktik, Projek, Portofolio). Adanya dikotomi penilaian otentik dan non-otentik
Guru dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan perihal banyak sekali teknik penilaian (beserta kekuatan dan kelemahan masing-masing) Guru diberi kebebasan menentukan teknik penilaian yang sesuai dengan karakteristik KD dan bahan pembelajaran Guru menyusun rencana penilaian yang sinkron dan menyatu dengan RPP Kombinasi banyak sekali teknik dan pendekatan penilaian untuk meningkatkan validitas pengukuran.
Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan isu untuk mengukur pencapaian hasil mencar ilmu akseptor didik meliputi evaluasi otentik, evaluasi diri, evaluasi berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan final semester yang diuraikan sebagai berikut:
1. Penilaian otentik merupakan evaluasi yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai aspek sikap, pengetahuan, keterampilan mulai dari masukan (input ), proses, hingga keluaran ( output) pembelajaran. Penilaian otentik bersifat alami, apa adanya, tidak dalam suasana tertekan.
2. Penilaian diri merupakan evaluasi yang dilakukan sendiri oleh akseptor didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.
3. Penilaian berbasis portofolio merupakan evaluasi yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses mencar ilmu akseptor didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas dalam kurun waktu tertentu.
4. Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi akseptor didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil mencar ilmu akseptor didik.
5. Ulangan harian merupakan acara yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi akseptor didik setelah menuntaskan satu sub-tema. Ulangan harian terintegrasi dengan proses pembelajaran lebih untuk mengukur aspek pengetahuan, dalam bentuk tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
6. Ulangan tengah semester merupakan acara yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi akseptor didik setelah melaksanakan 8 – 9 ahad acara pembelajaran.
7. Ulangan final semester merupakan acara yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi akseptor didik di final semester.
Selain penilaian di atas, ada beberapa jenis evaluasi antara lain:
Ujian Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UTK merupakan acara pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
Ujian Mutu Tingkat Kompetensi yang selanjutnya disebut UMTK merupakan acara pengukuran yang dilakukan oleh pemerintahuntuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikanKompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
Penilaian dilakukan secara holistik meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan untuk setiap jenjang pendidikan, baik selama pembelajaran berlangsung (penilaian proses) maupun setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian hasil belajar). Pada jenjang pendidikan dasar, proporsi pelatihan huruf lebih diutamakan dari pada proporsi pelatihan akademik.
Penilaian di SD dilakukan dalam aneka macam teknik untuk semua kompetensi dasar yang dikategorikan dalam tiga aspek, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
1. Sikap a. Contoh muatan KI-1 (sikap spiritual) antara lain:
Ketaatan beribadah
Berperilaku syukur
Berdoa sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan
Toleransi dalam beribadah
b. Contoh muatan KI-2 (sikap sosial) antara lain:
Jujur
Disiplin
Tanggung jawab
Santun
Peduli
Percaya diri
Bisa ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll..
Penilaian apek sikap dilakukan melalui observasi, evaluasi diri, evaluasi antarteman, dan jurnal.
Observasi
Merupakan teknik evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan dengan memakai indera, baik secara pribadi maupun tidak pribadi dengan memakai format observasi yang berisi sejumlah indikator sikap yang diamati. Hal ini dilakukan dikala pembelajaran maupun diluar pembelajaran.
Penilaian Diri
Merupakan teknik evaluasi dengan cara meminta akseptor didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang dipakai berupa lembar evaluasi diri.
Penilaian Antarteman
Merupakan teknik evaluasi dengan cara meminta akseptor didik untuk saling menilai terkait dengan sikap dan sikap keseharian akseptor didik. Instrumen yang dipakai berupa lembar evaluasi antarpeserta didik.
Jurnal Catatan Guru
Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi isu hasil pengamatan wacana kekuatan dan kelemahan akseptor didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi.
2. Pengetahuan Aspek Pengetahuan sanggup dinilai dengan cara berikut:
Tes tulis
Tes tulis ialah tes yang soal dan jawabannya tertulis berupa pilihan ganda, isian, Benar-salah, menjodohkan, dan uraian.
Tes Lisan
Tes verbal berupa pertanyaan- pertanyaan yang diberikan guru secara ucap (oral) sehingga akseptor didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap juga, sehingga menjadikan keberanian. Jawaban sanggup berupa kata, frase, kalimat maupun faragraf yang diucapkan.
Penugasan
Penugasan ialah evaluasi yang dilakukan oleh pendidik yang sanggup berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugasnya.
3. Keterampilan Aspek keterampilan sanggup dinilai dengan cara berikut:
Kinerja atau Performance
ialah suatu evaluasi yang meminta siswa untuk melaksanakan suatu kiprah pada situasi yang sebetulnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Misalnya kiprah memainkan alat musik, memakai mikroskop, menyanyi, bermain peran, menari. Contoh evaluasi tes performance atau kinerja akan diberikan pada pecahan Implementasi pada pecahan selanjutnya.
Projek
Penilaian Projek merupakan evaluasi terhadap kiprah yang mengandung pemeriksaan dan harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. Projek juga akan menunjukkan isu wacana pemahaman dan pengetahuan siswa pada pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan siswa untuk mengomunikasikan informasi.
Penilaian projek sangat dianjurkan alasannya ialah membantu membuatkan ketrampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir kreatif) akseptor didik . contohnya menciptakan laporan pemanfaatan energy di dalam kehidupan, menciptakan laporan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman.
Portofolio
Penilaian dengan memanfaatkan Portofolio merupakan evaluasi melalui sekumpulan karya akseptor didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio dipakai oleh guru dan akseptor didik untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan akseptor didik dalam bidang tertentu. Dengan demikian evaluasi portofolio menunjukkan citra secara menyeluruh wacana proses & pencapaian hasil mencar ilmu akseptor didik.
Portofolio merupakan pecahan terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan akseptor didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema.Misalnya kompetensi pada tema “selalu berhemat energy”.Contoh kompetensi menciptakan laporan hasil percobaan. Kemampuan menciptakan laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai akseptor didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, hingga laporan final yang siap disajikan. Selama proses ini diharapkan bimbingan guru melalui catatan-catatan wacana karya akseptor didik sebagai masukan perbaikan lebih lanjut.
Kumpulan karya anak semenjak draf hingga laporan final berserta catatan-catatan sebagai masukan guru inilah, yang menjadi potofolio.
Di samping memuat karya-karya anak beserta catatan guru, terkait kompetensi menciptakan laporan hasil percobaan tersebut di atas, portofolio juga bisa memuat catatan hasil evaluasi diri dan sobat sejawat wacana kompetensi yang sama serta sikap dan sikap sehari hari akseptor didik yang bersangkutan.
Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta akseptor didik perlu menentuan hal-hal yang harus dilakukan dalam memakai portofolio Sebagai berikut:
masing-masing akseptor didik mempunyai porto folio sendiri yang di dalamnya memuat hasil mencar ilmu siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan.
sewaktu waktu akseptor didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan akseptor didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap.
peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru.
catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan akseptor didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan mencar ilmu akseptor didik sanggup terlihat.
Bagi sekolah, hasil penilaian prestasi kerja sangat penting dalam rangka pelatihan dan pengembangan karier, antara lain untuk mengidentifikasi kebutuhan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan, promosi, dan banyak sekali aspek lain dari keseluruhan proses administrasi sumber daya insan secara efektif dan efisien.
Oleh sebab itu, hasil penilaian prestasi kerja sanggup menunjukkan apakah guru, kepala sekolah, dan guru diberi kiprah komplemen sudah memenuhi sasaran atau sasaran yang telah direncanakan baik secara kualitas, kuantitas, waktu, dan/atau biaya serta menunjukkan sikap kerja dalam pelaksanaan tugasnya.
Tujuan Penilaian Prestasi Kerja
Penilaian prestasi kerja ini bertujuan untuk menjamin obyektivitas pelatihan yang dilakukan menurut sistem prestasi kerja yang berdampak pada peningkatan karir dalam jabatan dan kepangkatan.
Manfaat Penilaian Prestasi Kerja
Penilaian prestasi kerja merupakan hasil penilaian kinerja dalam jangka waktu tertentu dan sebagai alat kendali biar setiap kegiatan pelaksanaan kiprah pokok selaras dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam renstra dan planning kerja tahunan sekolah. Penilaian prestasi kerja dilaksanakan oleh pejabat penilai sekali dalam satu tahun yang dilakukan untuk menilai prestasi kerja dari bulan Januari hingga dengan Desember.
Hasil penilaian prestasi kerja dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan penetapan keputusan kebijakan pelatihan prestasi dan karier, yang berkaitan dengan bidang-bidang sebagai berikut.
Bidang Pekerjaan Sebagai dasar pertimbangan dalam kebijakan perencanaan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, serta kegiatan perancangan pekerjaan dalam organisasi.
Bidang Pengangkatan dan Penempatan Sebagai dasar pertimbangan dalam proses rekrutmen, seleksi dan penempatan serta penugasan sesuai dengan kompetensi dan prestasi kerjanya.
Bidang Pengembangan Sebagai dasar pertimbangan pengembangan karier dan pengembangan kemampuan serta keterampilan yang berkaitan dengan referensi karier dan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Bidang Penghargaan Sebagai dasar pertimbangan dukungan penghargaan dengan berbasis prestasi kerja menyerupai kenaikan pangkat, kenaikan gaji, promosi, atau kompensasi dan lain-lain.
Bidang Disiplin Sebagai dasar peningkatan kinerja dan kewajiban sebagai pegawai dalam mematuhi peraturan perundang-undangan perihal disiplin PNS
Penilaian prestasi kerja dilakukan menurut prinsip-prinsip sebagai berikut:
Obyektif Penilaian Prestasi Kerja harus sesuai dengan keadaan yang bekerjsama tanpa dipengaruhi oleh pandangan atau penilaian subyektif langsung dari pejabat penilai terhadap guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi kiprah komplemen yang dinilai.
Terukur penilaian prestasi kerja harus sanggup diukur secara kuantitatif dan kualitatif sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Akuntabel seluruh hasil penilaian prestasi kerja harus sanggup dipertanggung- jawabkan kepada pejabat yang berwenang.
Partisipatif seluruh proses penilaian prestasi kerja harus melibatkan secara aktif antara pejabat penilai dengan guru, kepala sekolah, dan guru yang diberi kiprah komplemen yang dinilai melalui proses diskusi untuk mencapai janji antara pejabat penilai dengan PNS yang dinilai.
Transparan seluruh proses dan hasil penilaian prestasi kerja terbuka dan tidak bersifat rahasia.
Tepat Waktu kegiatan diimplementasikan segera sesudah SKP ditandatangani sesuai dengan planning yang telah ditetapkan.
Pengembangan kegiatan yang dituangkan dalam SKP merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja kini dan yang akan datang, bukan hanya untuk mengukur kinerja yang telah berlalu.
Kali ini saya bagikan Model raport kurikulum 2013 untuk sd smp sma smk. Ini hanya teladan saja, selebihnya silahkan sesuaikan dengan kondisi di sekolah masing-masing. Dan untuk tingkat RA Taman Kanak-kanak PAUD, saya sudah buat file raport RA TK di artikel tersebut.
Penilaian kelas yaitu suatu perjuangan mengumpulkan dan menafsirkan banyak sekali gosip secara sistematis, berkala, berkelanjutan, menyeluruh ihwal proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak melalui pembelajaran dan menginterpretasi gosip tersebut untuk menciptakan keputusan-keputusan.
Penilaian dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan gosip melalui sejumlah bukti yang mengatakan pencapaian hasil mencar ilmu anak didik, pelaporan, dan penggunaan gosip ihwal hasil mencar ilmu anak didik. Penilaian di Taman Kanak-kanak (TK) dilaksanakan melalui banyak sekali cara, menyerupai evaluasi hasil kerja anak melalui kumpulan hasil kerja/karya anak (portfolio), evaluasi produk, evaluasi proyek dan evaluasi unjuk kerja (performance ) anak didik.
Penilaian tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga di luar kelas secara formal dan informal, atau dilakukan seca ra khusus. Penilaian dilakukan secara terpadu dengan kegiatan mencar ilmu mengajar. Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung sanggup dijaring dan dikumpulkan melalui mekanisme dan alat evaluasi yang sesuai dengan kompetensi atau hasil mencar ilmu yang akan dinilai.
Manfaat Penilaian Kelas
Memberikan gosip ihwal tingkat pencapaian kompetensi anak yang berkaitan dengan bidang pengembangan adaptasi dan bidang pengembangan kemampuan dasar.
Memberikan umpan balik kepada guru untuk memperbaiki aktivitas dan kegiatan pembelajaran.
Sebagai materi pertimbangan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan bimbingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Sebagai materi pertimbangan bagi guru untuk menempatkan anak dalam kegiatan yang sesuai deng an minat dan kebutuhannya.
Memberikan informasi kepada orang tua ihwal pertumbuhan dan perkembangan yang telah dicapai oleh anak sebagai bentuk pertanggung-jawaban TK.
Sebagai gosip bagi orang renta untuk melaksanakan pendidikan keluarga yang sesuai dan berkesinambungan dengan proses pembelajaran di TK.
Sebagai materi masukan bagi banyak sekali pihak dalam rangka training selanjutnya terhadap anak didik.
Menemukan kesulitan mencar ilmu dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan anak.
Sebagai alat untuk mendiagnosis dan memilih perlakuan (treatment) yang sesuai untuk anak, serta me mbantu guru memilih apakah seseorang perlu mengikuti remedial atau pengayaan.
Penilaian dilakukan secara teratur dan terprogram dengan baik, dan dilakukan secara terpadu antara kegiatan mencar ilmu mengajar dan penilaian.
2. Menyeluruh
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh meliputi semua aspek perkembangan anak baik budpekerti dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kemandirian, kognitif, fisik/motorik, bahasa, dan seni. Penilaian harus memakai bermacam-macam cara dan alat untuk menilai bermacam-macam kompetensi anak, sehingga tergambar profil kompetensi anak
3. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara terencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh citra ihwal pertumbuhan dan perkembangan anak didik dalam kurun waktu tertentu.
4. Obyektif
Penilaian dilakukan terhadap semua aspek perkembangan sebagaimana adanya, harus bersifat adil, dan harus mempertimbangkan banyak sekali kebutuhan khusus anak.
5. Mendidik
Proses dan hasil evaluasi sanggup dijadikan dasar untuk memotivasi, menyebarkan dan membina anak semoga tumbuh dan berkembang secara optimal.
6. Kebermaknaan
Hasil evaluasi harus memiliki arti dan bermanfaat bagi guru, orang tua, anak didik, dan pihak lain.
Memandang evaluasi dan kegiatan belajar-mengajar secara terpadu.
Mengembangkan seni administrasi yang mendorong dan memperkuat evaluasi sebagai cermin diri.
Melakukan banyak sekali seni administrasi evaluasi di dalam aktivitas pengajaran untuk menyediakan banyak sekali jenis gosip ihwal hasil mencar ilmu anak.
Mempertimbangkan banyak sekali kebutuhan khusus anak.
Mengembangkan dan menyediakan sistem pencatatan yang bervariasi dalam pengamatan kegiatan mencar ilmu anak.
Menggunakan cara dan alat evaluasi yang bervariasi. Penilaian kelas sanggup dilakukan dengan cara tertulis, lisan, produk portofolio, unjuk kerja, proyek, dan tingkah laku.
Aplikasi Cetak Rekap Nilai Siswa UTS UAS dan Raport. Aplikasi ini mempunyai kegunaan bagi guru kelas / wali kelas untuk me-rekap semua nilai siswa SD / MI, kelas 1 2 3 4 5 dan 6 semua mata pelajaran, baik itu nilai UTS, UAS, atau Raport.
Isi Aplikasi Cetak Rekap Nilai Siswa UTS UAS dan Raport ini sebagai berikut:
Contoh Format Rekap Nilai Ujian Nasional. Format Rekapitulasi Nilai Ujian Sekolah dan Nilai Ujian Nasional ini merupakan kumpulan hasil nilai ujian siswa baik ujian nasional atau ujian sekolah / madrasah yang dipakai sebagai referensi / pedoman pada waktu pengisian nilai ijazah / SKHU.
Contoh Format Rekapitulasi Nilai Ujian Sekolah dan Nilai Ujian Nasional ini juga dapat dipakai sebagai rekapitulasi nilai ujian semester. Karena kolom mata pelajaran hanya 3 maka harus menambah kolom untuk semua mata pelajaran termasuk muatan lokal (mulok).
Anda dapat nonton preview dibawah ini:
Dan untuk selanjutnya silahkan anda unduh pada link dibawah ini:
Contoh Format Penilaian Harian dan Bulanan PAUD Taman Kanak-kanak RA Kurikulum 2013. Catatan harian seakan-akan dengan catatan anekdot, tetapi lebih panjang. Pengamat secara obyektif menuliskan segala sesuatu secara naratif. Catatan harian mencatat segala hal yang dilakukan dan diucapkan anak pada dikala anak bermain dalam rentang waktu tertentu (misalnya 15 menit atau 30 menit). Catatan harian secara khusus sanggup membantu guru dalam menganalisa perkembangan keterampilan sosial atau dilema perilaku. Catatan harian juga sanggup difokuskan pada area tertentu contohnya bagaimana seorang anak berguru menulis / membaca.
Perhatikan bahwa catatan harian berupa catatan ihwal apa yang kita LIHAT atau DENGAR bukan perkiraan atau interpretasi, Obyektif & Akurat antara lain perkataan, gerakan tubuh, ekspresi wajah, hasil yang dibentuk anak.
Catatan anekdot ialah alat perekam observasi secara bersiklus terhadap suatu bencana atau bencana penting yang melukiskan sikap anak yang terjadinya tidak umum atau bencana khusus, yang diuraikan dalam bentuk pernyataan singkat dan obyektif.
Karakteristik Catatan anekdot
Catatan sederhana ihwal sikap tertentu atau tidak biasa
Dalam banyak kasus, menggambarkan interaksi antar anak, anak dengan orang dewasa, anak dengan material
Memberikan konteks dari munculnya sikap tersebut
Sebagai hasil dari pengamatan secara langsung
Akurat dan spesifik
Tujuan Catatan Anekdot
Catatan anekdot yang dikumpulkan dari waktu ke waktu sanggup memperkuat pemahaman guru terhadap setiap anak sebagai suatu tumpuan atau munculnya profil anak.
Catatan anekdot sanggup menangkap kekayaan dan kompleksitas pada dikala anak berinteraksi dengan sesama anak dan dengan material.
Perubahan sikap yang muncul yang dikumpulkan dalam portofolio menawarkan usulan untuk rencana pengamatan selanjutnya, rencana pembelajaran dan pertemuan orangtua.
Hasil karya ialah hasil kerja anak didik sesudah melaksanakan suatu kegiatan. Hasil karya sanggup berupa pekerjaan tangan, karya seni atau hasil acara anak lain
Penilaian Hasil Karya Anak
Penilaian hasil karya anak berupa gambar, karya seni, unjuk kerja, hasil karya, dll
Penilaian hasil karya anak sanggup dilakukan, pada dikala anak melaksanakan kegiatan, atau pada dikala anak telah menuntaskan hasil karyanya
Rambu-rambu Penilaian Hasil Karya
Tuliskan waktu(hari, tanggal, bulan dan tahun) pada hasil karya anak
Tuliskan deskripsi singkat ihwal karya anak di hasil karya anak atau pada kertas lain
Pilihlah hasil karya anak untuk dimasukkan ke dalam portofolio
Hasil karya anak yang dikumpulkan cukup diambil 1 bulan sekali untuk setiap jenis karya anak.
Pelaporan merupakan acara mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil evaluasi pendidik/ guru ihwal pertumbuhan dan perkembangan anak.
Rambu-rambu Pembuatan Laporan
Laporan Perkembangan Anak Didik dilaporkan oleh kepala forum / pendidik / secara mulut dan tertulis
Lembaga wajib menjaga kerahasiaan data atau informasi
Menggunakan bahasa yang gampang dipahami.
Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak.
Memberikan gosip ihwal tingkat pencapaian dan perkembangan hasil berguru anak secara bijaksana.
Memberikan masukan ihwal tingkat pencapaian anak pada seluruh kompetensi dasar untuk membantu membuatkan kemampuan anak lebih lanjut
Informasi isi laporan sudah menggambarkan hasil berguru yang mendukung tingkat pencapaian perkembangan anak (TPPA)
Menggambarkan sikap khusus anak di kelas
Menyajikan gosip secara komunikatif, autentik, dan bermakna(tambahkan foto-foto, hasil karya atau video pendukung)
Tidak menyalahkan anak ataupun orangtua
Pengaruh laporan terhadap perasaan anak dan orang tua
Pengaruh laporan terhadap hubungan anak dan guru juga hubungan anak dan orangtua.
Laporan harus mendidik orang renta ihwal perkembangan anak.
Download Contoh Format Penilaian Harian dan Bulanan PAUD Taman Kanak-kanak RA
Contoh Panduan / Pedoman Teknik Penilaian Hasil Pembelajaran PAUD Kurikulum 2013. Penilaian yakni PROSES mengumpulkan dan menafsirkan aneka macam isu secara sistematis, terukur, berkelanjutan, menyeluruh wacana tumbuh kembang yang telah dicapai penerima didik selama kurun waktu tertentu.
Contoh Panduan / Pedoman Teknik Penilaian Hasil Pembelajaran PAUD Kurikulum 2013 ini sangat penting dimiliki dan di pahami oleh sahabat guru PAUD; baik jenjang RA / Taman Kanak-kanak / KB. Sebagai pedoman evaluasi anak didik di forum / sekolah masing-masing untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini.
Mengumpulkan isu Melalui observasi, interview anak,orangtua, anggota keluarga lainnya dan guru-guru. Dokumentasi Melalui video, catatan harian, rekaman suara, foto, dll. Menganalisa Menggunakan teori-teori untuk memilih rekaman atau data-data sehingga berkaitan dengan teori.
Mengapa Penilaian?
Mengetahui tumbuh kembang anak selama mengikuti program
Umpan balik untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran
Dasar untuk optimalkan fisik dan psikis dengan memberi kegiatan yang sesuai minat dan kebutuhan anak
Memberi isu kepada orang bau tanah biar bisa menjadi team bagi pendidik dalam melakukan pendidikan di rumah
Ciri-ciri evaluasi yang baik
Mengandung pemahaman yang penting wacana perkembangan anak
Terhubungkan dengan kurikulum
Sesuai dengan sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diukur
Menghargai keberagaman dari kemampuan anak.
Tidak menghabiskan waktu
Download Pedoman Penilaian PAUD Taman Kanak-kanak RA Penilaian dilakukan oleh pendidik dengan memakai Pendekatan Otentik (Authentic Assessment). Pendidik yang memahami perkembangan anak menjadi syarat mutlak untuk sebuah evaluasi yang otentik
Penilaian Otentik berafiliasi dengan kondisi aktual dan dalam konteks yang bermakna. Penilaian Otentik dilakukan pada dikala anak terlibat dalam kegiatan bermain (tugas) secara dapat bangkit diatas kaki sendiri atau bersama anak lain.
Aspek yang dinilai oleh pendidik meliputi semua aktivitas pengembangan yang ada dalam Kompetensi Dasar (KD) yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak; baik perilaku religius, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
Kognitif ialah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga menghasilkan pengetahuan. Kognitif meliputi banyak sekali acara mental menyerupai memperhatikan, mengingat, melambangkan, mengelompokkan, merencanakan, menalar, memecahkan masalah, menghasilkan dan membayangkan. Perkembangan kognitif anak melibatkan ketrampilan berguru pada anak yang terjadi melalui proses klarifikasi terperinci di dalam otak (mind), dan kegiatan mental internal yang kompleks. Dengan demikian keterampilan berguru bukan hanya diperoleh lantaran perubahan sikap atau sekedar lantaran proses kematangan.
Guru penting untuk memahami perkembangan kognitif anak. Dengan pemahaman yang baik, diperlukan guru sanggup memperlihatkan stimulasi yang sesuai dengan karakteristik anak dan mempunyai impian yang realistis terhadap anak didiknya. Perkembangan kognitif terkait dengan peningkatan kemampuan daya pikir atau logika akseptor didik seiring dengan perkembangan motorik anak. Gagasan pada anak sanggup ditumbuh kembangkan dengan memperlihatkan kesempatan berguru dengan banyak sekali gaya. Anak berguru dengan bermacam cara, diantaranya berguru memelui bermain (learning by gaming), berguru dengan melaksanakan kegiatan (learning by doing), berguru melalui stimulasi panca indra, dan berguru dengan segenap kecerdasan majemuknya.
Salah satu hebat perkembangan kognitif yang terkemuka ialah Jean Piaget (1896-1980) yang mengintegrasikan elemen-elemen psikologi, biologi, filosofi, dan logika dalam memperlihatkan klarifikasi menyeluruh perihal bagaimana pengetahuan bisa diperoleh individu. Tahap-tahap perkembangan daya pikir yang dikemukakan oleh Jean Piaget meliputi tahap:
1. Tahap sensori motor (lahir-18 bulan)
Pada tahap ini anak berguru melalui indra dan gerakan serta berinteraksi dengan lingkungan fisik. Melalui bergerak, meraba, memukul, menggigit dan memanipulasi obyek-obyek secara fisik anak berguru mengenal sifat ruang, waktu, lokasi, ketetapan, dan alasannya akibat.Perilakunya masih pra verbal. Anak memahami obyek disekitarnya melalui sensori dan acara motor serta gerakkannya. Reflek yang paling menonjol ialah reflek menghisap; bayi-bayi secara otomatis menghisap dikala bibir bayi disentuh.
Fase sensori motor dimulai dengan gerakan-gerakan reflek yang dimiliki anak semenjak ia dilahirkan. Fase ini berakhir pada usia 2 tahun. Pada masa ini, anak mulai membangun pemahaman perihal lingkungannya melalui kegiatan sensorimotor, menyerupai menggenggam, menghisap, melihat, melempar, dan secara perlahan ia mulai menyadari bahwa suatu benda tidak menyatu dengan lingkungannya atau sanggup dipisahkan dari lingkungan di mana benda itu berada. Selanjutnya ia mulai berguru bahwa benda-benda itu mempunyai sifat-sifat khusus. Keadaan ini mengandung arti bahwa anak telah mulai membangun pemahamannya terhadap aspek – aspek yang berkaitan dengan hubungan kuasalitas, bentuk dan ukuran, sebagai hasil pemahamannya terhadap acara sensorimotor yang dilakukannya.
Pada simpulan usia 2 tahun anak sudah menguasai pola –pola sensorimotor yang bersifat kompleks bagaimana cara mendapatklan benda yang diinginkannya (menarik, menggenggam atau meminta), memakai suatu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada di tangannya, ia melaksanakan satu benda dengan tujuan yang berbeda. Dengan benda yang ada di tangngannya, ia melaksanakan apa yang diinginkanya. Kemampuan ini merupakan awal kemampuan berpikir secara simbolik, yaitu kemampuan untuk memikirkan suatu objek tanpa kehadiran objek tersebut secara empiirik.
2. Tahap pra operasional (18 bulan – 6/7 tahun)
Pada tahap ini pedoman anak masih didominasi oleh hal-hal yang berkaitan dengan acara fisik dan persepsinya sendiri, sekalipun tidak selalu apa yang ada dalam pikirannya ditampilkan lewat tingkah laris konkret menyerupai pada periode sebelumnya. Menurut Siti Rahayu Haditono (1982), stadium pra operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolik, imitasi, serta bayangan dalam mental. Semua proses ini memperlihatkan bahwa anak sudah bisa untuk melaksanakan tingkah laris simbolik.
Usia 18 – 24 bulan ditandai dengan internalized thought. Pada tahap ini anak mulanya memecahkan problem dengan memikirkannya terlebih dahulu melalui kesan mental (mental image). Mereka sanggup berguru menggandakan sikap orang lain.
Outcome perkembangan kognitif dan berguru anak usia 6 tahun antara lain:
Memahami angka dan bisa menghitung angka (minimal hingga 10)
Dapat menggambar sederhana
Dapat menulis kata-kata sederhana
Dapat menciptakan kalimat sederhana
Dapat bermain pura-pura
Memahami fungsi uang
3. Tahap operasional kongkret (8 - 12 tahun)
Pada tahapan ini yang sanggup dipikirkan oleh anak masih terbatas pada benda-benda kongkret yang sanggup dilihat dan diraba, benda-benda yang tidak jelas, yang tidak tampak dalam kenyataan masih sulit dipikirkan oleh anak. Kesulitan matematika lantaran upaya untuk mengajarkan anak yang masih dalam tahapan operasi kongkret dengan materi yang abstrak.
4. Tahap operasional formal (diatas 12 tahun)
Dalam tahap ini anak bisa mempertimbangkan semua kemungkinan dalam memecahkan problem dan bisa menalar atas dasar hipotesis dan dalil.Dampaknya anak sanggup meninjau problem dari banyak sekali faktor dikala memecahkan masalah.Pemikiran anak menjadi lebih kongkrit dan fleksibel dan mereka bisa menggabungkan warta dari sejumlah sumber yang berbeda.
Perkembangan sosial-emosional berdasarkan para ahli, bertujuan untuk mengetahui diri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain yaitu sahabat sebaya dan orang dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan sikap prososial. Perkembangan sosial, sebagaimana dikatakan Muhibbin (1999:35), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
Adapun Hurlock menyampaikan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk menjadi individu yang bisa bermasyarakat dibutuhkan tiga proses sosialisasi. Ketiga proses tersebut nampak terpisah, tetapi bahu-membahu saling berhubungan:
belajar untuk bertingkah laris dengan cara yang sanggup diterima masyarakat
belajar memainkan tugas sosial yang ada di masyarakat
mengembangkan sikap atau tingkah laris sosial terhadap individu lain dan kegiatan sosial yang ada di masyarakat (Hurlock:250).
Fase-fase perkembangan sosial emosional anak usia dini
1. Fase Pembentukan Dasar Kepercayaan vs Tidak Percaya (0-12-18 Bulan)
Dalam fase ini anak mengalami krisis pertama dalam kehidupannya.Krisis ini menyangkut krisis kepercayaan terhadap lingkungan. Perawatan yang diberikan pada bayi merupakan prasyarat untuk timbulnya percaya dalam diri bayi tewrhadap lingkungannya.
Untuk membangun dasar kepercayaan tersebut maka pemenuhan kebutuhan bayi perlu dilakukan secara teratur. Misalnya : kebutuhab terhadap makanan, kebersihan (mandi, ganti, dan sebagainya. Di samping itu dibutuhkan juga cara-cara penanganan dalam merawat bayi. Perawatan ini haruslah menjadikan rasa aman dan rasa terlindungi pada bayi. Hal tersebut merupakan faktor penentu untuk timbulnya rasa percaya dalam diri bayi. Apabila bayi tidak memperoleh perawatan yang demikian maka yang tumbuh dalam diri bayi yakni rasa tidak percaya atau curiga.
2. Fase Autonomi vs Malu dan ragu-ragu (18 bulan -3 tahun)
Bermodalkan rasa percaya dan sejalan dengan perkembangan baik fisik, kognitif dan bahasa, anak mulai mengeksplorasi lingkungannya. Ia bergerak kesana-kemari. Pada masa ini anak mencicipi kebebasannya. Seiring dengan hal itu berkembang pula krisis tahap ke dua dalam diri anak. Rasa aib ini merupakan awal dari kepekaan anak terhadap sesuatu yang salah dan yang benar. Oleh alasannya yakni itu tugas orang bau tanah sangat penting dalam mengarahkan perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik.
Kontrol yang terlalu ketat menimbulkan autonomi anak tidak berkembang. Sebaliknya kontrol yang terlalu longgar menimbulkan autonomi anak kurang peka terhadap mana yang salah dan mana yang benar.
3. Fase inisiatif vs Merasa Bersalah (3-6 tahun)
Pada tahap ini krisis yang terjadi dalam diri anak yakni antara inisiatif dan melaksanakan inisiatif tersebut, dan rasa bersalah untuk melaksanakan apa yang ingin dilakukan oleh anak. Oleh alasannya yakni itu anak perlu berguru mengendalikan perasaan ini. Salah satu cara yang sanggup dilakukan yakni dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Di samping itu anak masih perlu mencicipi kebebasannya. Apabila perkembangan rasa besalah melebihi perkembangan inisiatif anak maka anak akan menjadi anak yang tidak sanggup mengespresikan keperibadiannya lantaran takut diangap salah. Anakakan diliputi rasa ragu-ragu.
Bertitik tolak dari pendapat para hebat tersebut di atas maka sanggup diketahui bahwa perkembangan psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh alasannya yakni itu apabila terjadi kendala dalam perkembangan dalam perkebangan psikososial pada tahap awal maka keadaan ini akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya.
Perkembangan sosialisasi pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya. Perkembangan sosialisasi anak yakni proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, berguru menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya perihal orang di luar dirinya, dan juga berguru kebijaksanaan sehat susila dan perilaku.
Perkembangan sosial emosional melibatkan pemahaman yang mendalam perihal diri sendiri dan orang lain. Feeney (et.al) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional mencakup; kompetensi sosial (kemampuan dalam menjalin kekerabatan dalam kelompok sosial), kemampuan sosial (perilaku yang dipakai dalam situasi sosial), kognisi sosial (pemahaman terhadap pemahaman, tujuan, dan sikap diri sendiri dan orang lain), sikap sosial (kesediaan untuk berbagi, membantu, bekerjasama, merasa nyaman dan aman, dan mendukung orang lain), serta penguasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas (perkembangan dalam menentukan standar baik dan buruk, kemampuan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan orang lain).
Sosialisasi yakni suatu proses mental dan tingkah laris yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Sosialisasi merupakan proses dimana anak berguru untuk berperilaku sesuai dengan keinginan budaya dimana anak dibesarkan. Sebagaimana Manning menyatakan "socialization is the process by which children learn to be have in acceptable manner, as defined by culture of which the family is apart". Sementara itu Drever mengemukakan pengertian sosialisasi sebagai suatu proses dimana individu mengikuti keadaan dengan lingkungan sosial dan menjadi dikenali, dan bekerjasama dengan anggota kelompok tersebut.
Ada beberapa faktor yang mensugesti kemampuan anak dalam bersosialisasi, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan kelompok masyarakat, (4) faktor dari dalam diri anak.
Proses sosialisasi membutuhkan 3 (tiga) keterampilan khusus, yiatu: (1) proses imitasi, (2) proses identifikasi, dan (3) proses internalisasi. Proses imitasi yakni proses dimana anak berguru menggandakan sikap yang sanggup ditterima secara sosial. Anak melhat secara eksklusif sikap orang lain yang dijadikan contoh/model. Proses identifikasi yakni terjadinya efek sosial pada anak, dimana anak ingin menjadi menyerupai orang lain yang dicontoh. Proses internalisasi yakni proses penanaman serta perembesan nilai-nilai. Dalam proses ini dibutuhkan pemahaman anak untuk membedakan nilai-nilai sosial yang baik dan buruk. Proses sosialisai juga diawali dengan adanya proses pengamatan terhadap sikap orang lain.
Bandura mengemukakan tahapan atau fase yang dilalui individu dalam mengamati sikap tertentu, yaitu; (1) memperhatikan (attention), (2) menyimpan (retention), (3) mereproduksi (reproduction), dan (4) motivasi (motivation).
Menurut Erikson, masa kanak-kanak merupakan citra awal individu sebagai seorang manusia, dimana prola sikap dan sikap yang diperoleh anak, akan menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Pada anak usia 4-5 tahun sangat bahagia menggandakan pembicaraan maupun tindakan orang lain. Menurutnya, tahapan perkembangan psikososial pada anak pra sekolah yakni tahapan inisiatif atau prakarsa versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak terlihat aktif dan mulai bermain serta menjalin komunikasi dengan belum dewasa lain. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan memperlihatkan perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin.
Ciri-ciri perkembangan sosial berdasarkan Steinberg (1995), Hughes (1995) dan Piaget (1996) adalah: (1) menentukan sahabat yang sejenis, (2) cenderung lebih percaya pada sahabat sebaya, (3) agresivitas lebih meningkat, (4) bahagia bergabung dalam kelompok, (5) memahami keberadaan bersama kelompok, (6) berpartisipasi dengan pekerjaan orang dewasa, (7) berguru membina persahabatan dengan orang lain, dan (8) memperlihatkan rasa setia kawan.
Dalam kaitannya dengan perkembangan emosi pada anak usia dini, terdapat 3 (tiga) pola dasar emosi yang timbul pada anak, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Emosi sanggup berubah bukan hanya disebabkan lantaran adanya perubahan perasaan, tetapi juga lantaran kondisi lingkungan yang dialami anak. Rasa takut sanggup timbul lantaran adanya peristiwa yang mendadak atau tidak terduga, dimana anak perlu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Rasa murka biasa muncul pada belum dewasa untuk menarik perhatian orang lain. Rasa bahagia merupakan bentuk emosi yang memperlihatkan kegembiraan atau keriangan yang sanggup disertai dengan ekspresi tawa, senyum sebagai tanda relaksasi tubuh.
Karakteristik perkembangan emosi pada anak usia dini
Emosi anak berlangsung singkat
Emosi anak bersifat intense
Emosi anak bersifat temporer
Emosi anak muncul cukup sering
Respon emosi anak bermacam-macam
Emosi anak sanggup dideteksi dengan melihat tanda-tanda perilakunya
Kekuatan emosi anak sanggup berubah
Ekspresi emosi anak sanggup berubah
Menurut Piaget, anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional (2-7 tahun) ditendai dengan egosentrisme yang kuat, gagasan imajinatif, bertindak berdasarkan pemikiran intuitif atau tidak berdasarkan pemikiran yang rasional. Menurut Kroh, bahwa emosi anak usia 4-5 tahun berada pada masa kegoncangan atau biasa disebut sebagai trotz period. Pada masa ini muncul tanda-tanda kenakalan yang umum terjadi pada anak, menyerupai menentang pada orang tua, memakai kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar hal yang tidak boleh dan sebagainya.
Karakteristik perkembangan emosi anak usia 5-6 tahun
Memiliki keinginan untuk menyenangkan hati teman
Sudah lebih bisa mengikuti aturan
Sudah lebih berdikari di satu sisi, namun juga memperlihatkan ketergantungan di sisi lain
Sudah lebih bisa membaca situasi
Mulai bisa menahan tangis dan kekecewaan
Mulai sabar menunggu giliran
Menunjukkan kasih sayang terhadap saudara maupun teman
Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa
Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan emosi anak
Kematangan
Belajar: penyesuaian dan contoh
Inteligensi
Jenis kelamin
Status ekonomi
Kondisi fisik
Posisi anak dalam keluarga
Untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosi pada anak, maka pendidik mempunyai tugas yang sangat penting. Di antara tugas pendidik tersebut adalah:
a. Memberikan aneka macam stimulasi pada anak
Pendidik perlu memperlihatkan stimulasi edukatif pada anak supaya kemampuan sosial emosi anak berkembang sesuai tahapan usianya. Kegiatan berguru melalui permainan sanggup dioptimalkan dengan cara menstimulasi anak misalnya; mengajak anak terlibat dalam permainan kelompok kecil, melatih anak bermain bergiliran, mengajak anak menceritakan pengalamannya di depan kelas, melatih kesadaran anak untuk menyebarkan dalam kegiatan kemanusiaan bila terjadi bencana, dan sebagainya.
b. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Pendidik perlu mengelola kelas yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial emosinya terutama kesadaran anak untuk bertanggungjawab terhadap benda dan tidakan yang dilakukannya. Lingkungan ini berupa fisik dan psikis. Lingkungan fisik menekankan pada ruang kelas sebagai daerah anak berlatih kecakapan sosial emosinya. Sedangkan lingkungan psikis lebih ditekankan pada suasana lingkungan penuh cinta kasih sehingga merasa nyaman dan aman di kelas.
c. Memberikan contoh
Pendidik yakni pola konkrit bagi anak. Segala tindakan dan tutur kata pendidik anak diikuti oleh anak. Oleh lantaran itu pendidik seharusnya sanggup menjaga sikap sesuai dengan norma sosial dan nilai agama, menyerupai menghargai pendapat anak, bersedia menyimak keluh kesah anak, membangun sikap positif anak, berempati terhadap problem yang dihadapi anak, dan sebagainya.
d. Memberikan kebanggaan atas perjuangan yang dilakukan anak
Pendidik sebaiknya tidak sungkan memperlihatkan kebanggaan terhadap kecakapan sosial yang sudah dilakukan oleh anak secara proporsional. Pujian sanggup diberikan secara mulut maupun non lisan. Misalnya dengan kata-kata yang menyenangkan, atau dengan senyuman, pelukan, dan sumbangan tanda-tanda terentu yang bermakna untuk anak.
Dalam proses pembelajaran, aneka macam acara sanggup dikembangkan oleh pendidik supaya sanggup meningkatkan sosialisasi dan emosi anak. Di antara acara yang sanggup dikembangkan adalah:
Memberikan pilihan pada anak
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan
Mendorong anak untuk bekerja secara mandiri
Menghargai ide/gagasan anak
Membimbing anak untuk melaksanakan pemecahan masalah
Moral berasal dari bahasa latin "mores" yang artinya tata cara, kebiasaan, dan adat. Menurut Hurlock, moralitas yaitu kebiasaan yang terbentuk dari standar sosial yang juga dipengaruhi dari luar individu. Moralitas berkaitan dengan sistem kepercayaan, penghargaan, dan ketetapan yang terjadi di bawah sadar wacana tindakan yang benar dan yang salah, dan untuk memastikan individu tersebut akan berusaha berbuat sesuai dengan harapan masyarakat.
Sedangkan berdasarkan Immanuel Kant, sopan santun yaitu kesesuaian sikap dan perbuatan kita dengan norma atau aturan batiniah kita, yakni apa yang kita pandang sebagai kewajiban kita. Dapat disimpulkan bahwa moralitas yaitu sistem kepercayaan, penghargaan, danketetapan wacana perbuatan benar dan salah yang terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan dari standar sosial yang dipengaruhi dari luar individu atau sesuai dengan harapan masyarakat atau kelompok sosial tertentu.
Perkembangan sopan santun berkaitan dengan aturan dan konvensi wacana apa yang seharusnya dilakukan oleh insan dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan sopan santun mempunyai dimensi intrapersonal yang mengatur acara seseorang saat beliau tidak terlibat dalam interaksi sosial dan dimensi interpersonal yang mengatur interaksi sosial dalam penyelesaian konflik. Pada usia 4-6 tahun anak mulai menyadari dan mengartikan bahwa sesuatu tingkahlaku ada yang baik dan ada yang tidak baik.
Menurut Piaget dalam pengamatan dan wawancara pada anak usia 4-12 tahun menyimpulkan bahwa anak melewati tahap yang berbeda dalam cara berfikir wacana moralitas, yaitu:
1. Tahap moralitas Heteronom. Anak usia 4-7 tahun
Menunjukkan moralitas heteronom, yaitu tahap pertama dari perkembangan moral. Anak berfikir bahwa keadilan dan peraturan yaitu properti dunia yang tidak sanggup diubah dan dikontrol oleh orang. Anak berfikir bahwa peraturan dibentuk oleh orang cukup umur dan terdapat pembatasan-pembatasan dalam bertingkah laku.
Pada tahap ini, anak menilai kebenaran atau kebaikan tingkah laris berdasarkan konsekuensinya, bukan niat dari orang yang melakukan. Anak juga percaya bahwa aturan tidak sanggup diubah dan diturunkan oleh sebuah otoritas yang berkuasa. Anak berfikir bahwa mereka tidka berhak menciptakan peraturan sendiri, melainkan dibuatkan aturan oleh orang dewasa. Orang cukup umur perlu memperlihatkan kesempatan pada anak untuk menciptakan peraturan, biar anak menyadari bahwa peraturan berasal dari akad dan sanggup diubah.
2. Tahap moralitas otonomi. Usia 7-10 tahun
Anak berada dalam masa transisi dan memperlihatkan sebagian ciri-ciri dari tahap pertama perkembangan sopan santun dan sebagian ciri dari tahap kedua yaitu moralitas otonom. Anak mulai sadar bahwa peraturan dan aturan dibentuk oleh manusia, dan saat menilai sebuah peraturan, anak akan mempertimbangkan niat dan konsekuensinya. Moralitas akan muncul dengan adanya kerjasama atau korelasi timbal balik antara anak dengan lingkungan dimana akan berada.pada masa ini anak percaya bahwa saat mereka melaksanakan pelanggaran, maka otomatis akan mendapatkan hukumannya.
Hal ini sering menciptakan anak merasa khawatir dan takut berbuat salah. Namun saat anak mulai berfikir secara heteronom, anak mulai menyadari bahwa eksekusi terjadi apabila ada bukti dalam melaksanakan pelanggaran. Piaget yakin bahwa semakin berkembang cara berfikir anak, akan semakin memahami wacana persoalan-persoalan sosial dan bentuk kerjasama yang ada di dalam lingkungan masyarakat.
Selain Piaget, Kohlberg juga menekankan bahwa cara berfikir anak wacana sopan santun berkembang dalam sebuah tahapan. Kohlberg menggambarkan 3 (tiga) tingkatan kebijaksanaan sehat wacana moral, dan setiap tingkatannya mempunyai 2 (dua) tahapan, yaitu:
3. Moralitas prakonvensional
Pada tingkatan ini, baik dan jelek diinterpretasikan melalui reward (imbalan) dan punishment (hukuman) eksternal. Pada tingkatan ini terdapat dua tahapan, yaitu tahap pertama moralitas heteronom dan tahap kedua individualisme, tujuan instrumental, dan pertukaran. Pada tahap pertama anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman, anak berfikir bahwa mereka harus patuh dan takut pada hukuman.
Moralitas dari suatu tindakan dinilai atas dasar akhir fisiknya. Misalnya dicubit saat anak bersalah, dan sebagainya. Pada tahap kedua anak berfikir bahwa mementingkan diri sendiri yaitu hal yagn benar dan hal ini juga berlaku untuk orang lain. Karena itu, anak berfikir apapun yang mereka lakukan harus mendapatkan imbalan atau pertukaran yang setara. Jika beliau berbuat baik, maka orang juga harus berbuat baik terhadap dirinya, anak menyesuaikan terhadap sosial untuk memperoleh penghargaan. Contoh; berbuat benar dan dipuji “benar sekali”.
4. Moralitas konvensional
Pada tingkatan ini individu memberlakukan standar tertentu, tetapi standar ini ditetapkan oleh orang lain, contohnya oleh orang bau tanah atau pemerintah. Moralitas atas dasar persesuaian dengan peraturan untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan korelasi baik dengan mereka. Pada tingkatan ini mempunyai dua tahapan, yaitu tahap pertama ekspektasi interpersonal, dan tahap kedua moralitas sistem sosial. Pada tahap pertama anak menghargai kepercayaan, perhatian, dan kesetiaan terhadap orang lain sebaga dasar evaluasi moral. Seseorang menyesuaikan dengan peraturan untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan korelasi baik dengan mereka. Contoh; mengembalikan krayon ke daerah semula setelah dipakai (nilai sopan santun tanggungjawab).
Pada tahap kedua, evaluasi sopan santun didasari oleh pemahaman wacana keteraturan di masyarakat, hukum, keadilan, dan kewajiban. Seseorang yakin bahwa jikalau kelompok sosial mendapatkan peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok, maka mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu biar terhindar dari kamanan dan ketidaksetujuan sosial. Contoh; bantu-membantu membersihkan kelas, semua anggota kelompok wajib membawa alat kebersihan (nilai moral=gotong royong).
5. Moralitas pascakonvensional
Pada tingkatan ini seseorang menyadari adanya jalur sopan santun alternatif, sanggup memperlihatkan pilihan, dan menetapkan bersama wacana peraturan, dan moralitas didasari pada prinsip-prinsip yang diterima sendiri. Ini mengarah pada moralitas sesungguhnya, tidak perlu disuruh alasannya merupakan kesadaran dari diri orang tersebut. Tingkatan ini mempunyai dua tahap, pertama hak individu, dan tahap kedua prinsip universal. Pada tahap pertama, individu menalar bahwa nilai, hak, dan prinsip lebih utama. Seseorang menyadari perlunya keluwesan dan adanya modifikasi dan perubahan standar sopan santun apabila itu sanggup menguntungkan kelompok secara keseluruhan.
Contoh; pada awal tahun ajaran, orang bau tanah diperkenankan menunggu anaknya selama kurang lebih satu minggu, setelah itu anak harus berani ditinggal. Pada tahap kedua seseorang menyesuaikan dengan standar sosial dan impian internal terutama untuk menghindari rasa tidak puas dengan diri sendiri dan bukan menghindari kecaman sosial. Contoh; anak secara sadar merapikan kamar sendiri segera setelah ia berdiri tidur dengan harapan biar kamarnya terlihat selalu dalam keadaan rapi.
Nilai-nilai sopan santun yang sanggup dikembangkan pada anak usia dini antara lain; (1) kerjasama, (2) bergiliran, (3) disiplin diri, (4) kejujuran, (5) tanggungjawab, (6) bersikap sopan dan berbahasa yang santun. Untuk mengembangkan sopan santun tersebut, sanggup dilakukan dengan beberapa seni administrasi melalui banyak sekali kegiatan berguru yang menyenangkan dan bervariasi. Beberapa seni administrasi yang sanggup dilakukan untuk mengembangkan sikap sopan santun pada anak usia dini yaitu:
Memberi anak kesempatan untuk sharing wacana perasaan dalam lingkungan yang nyaman dan aman.
Mengajarkan hal-hal yang realistik sanggup dimengerti oleh anak.
Memberi kesempatan anak untuk berlatih berguru kooperatif dan menyebarkan tanggungjawab.
Mengundang sobat yang berbeda budaya, mengembangkan rasa nasionalisme.
Mengembangkan aturan kelas bersama.
Memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapat, bereksperimen dalam belajar.
Memberi pola sikap/perilaku yang baik; keingin-tahuan, toleransi, dan lain-lain.
Beragam teknik sanggup dilakukan untuk mengumpulkan info wacana perkembangan dan pertumbuhan anak di TK. Teknik mengumpulkan info tersebut pada prinsipnya yakni cara evaluasi kemajuan perkembangan dan pertumbuhan anak menurut standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai. Penilaian kompetensi dasar dilakukan menurut indikator-indikator pencapaian hasil mencar ilmu yang memuat aneka macam aspek perkembangan.
Indikator-indikator pada setiap kompetensi dasar merupakan contoh yang dipakai untuk melaksanakan evaluasi dengan memakai alat dan cara evaluasi serta serangkaian prosedur.
a) Cara Penilaian
1) Pengamatan (Observasi)
Pengamatan (Observasi) yakni cara pengumpulan data untuk memperoleh info melalui pengamatan pribadi terhadap bidang pengembangan penyesuaian (agama, moral, sosial emosional, dan kemandirian) dan bidang pengembangan kemampuan dasar (kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni) yang dilakukan sehari-hari secara terus menerus.
Agar observasi lebih terarah maka diharapkan buku bantu atau kertas catatan yang dikembangkan oleh guru untuk mencatat hal-hal yang dianggap dianggap perlu dan yang dituangkan dalam RKH.
2) Catatan Anekdot (Anecdotal Record)
Catatan anekdot yakni catatan wacana sikap dan sikap anak secara khusus yang terjadi pada anak secara insidental/tiba-tiba atau dalam situasi tertentu.
Contoh Format Catatan Anekdot Taman Kanak-kanak RA
b) Teknik Penilaian
1. Unjuk Kerja (Performance)
Penilaian unjuk kerja merupakan evaluasi yang dilakukan dengan mengamati aktivitas anak dalam melaksanakan sesuatu, contohnya praktek menyanyi, olah raga, bermain peran, memperagakan seni. Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan aspek-aspek yang diamati supaya sanggup dinilai.
Teknik evaluasi unjuk kerja sanggup dilakukan dengan memakai alat atau format instrumen daftar cek atau skala penilaian. Contoh Penilaian Kinerja Bidang Pengembangan PEMBIASAAN: Pada indikator "Berdoa sebelum dan setelah melaksanakan aktivitas kegiatan"
2. Menggunakan Daftar Chek
Catatan :
= Anak yang belum mencapai indikator menyerupai diharapkan dalam RKH atau dalam melaksanakan kiprah selalu dibantu guru.
√ = Anak menawarkan kemampuan sesuai dengan indikator yang tertuang dalam RKH.
0= Anak yang sudah melebihi indikator yang tertuang dalam RKH atau bisa melaksanakan kiprah tanpa pertolongan secara tepat/cepat/ lengkap/benar.
3. Menggunakan Skala Penilaian
Format Penilaian Bernyanyi
Penjelasan: Penilaian 1,2,3,dan 4, menawarkan tingkatan nilai yang diperoleh
1 = belum berkembang
2 = sudah berkembang
3 = berkembang
4 = mempunyai talenta khusus
Jika seorang anak memperoleh skor 24 sanggup ditetapkan "memiliki talenta khusus dalam bernyanyi".
4. Hasil Karya (Product)
Hasil karya yakni hasil kerja anak setelah melaksanakan suatu aktivitas sanggup berupa pekerjaan tangan atau karya seni. Penilaian hasil karya anak tidak diperoleh dari hasil selesai saja tetapi juga proses pembuatannya.
Contoh format evaluasi Produk : Contoh Penilaian Produk Bidang Pengembangan FISIK MOTORIK Pada indikator "Membuat aneka macam bentuk dengan memakai plastisin, playdough, tanah liat".
Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau andangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap sanggup dibentuk, sehingga terjadinya sikap atau tindakan yang diinginkan.
Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif ialah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif ialah doktrin atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif ialah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
1. Teknik Penilaian Sikap
Penilaian sikap sanggup dilakukan dengan observasi sikap . Perilaku seseorang pada umumnya menawarkan kecenderungan dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi sanggup dipahami sebagai kecenderungannya yang bahagia kepada kopi. Oleh sebab itu, guru sanggup melaksanakan observasi terhadap akseptor didik yang dibinanya. Hasil observasi sanggup dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi sikap di sekolah sanggup dilakukan dengan memakai buku catatan khusus perihal kejadian-kejadian berkaitan dengan akseptor didik selama di sekolah.
rujukan format buku catatan harian
Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai sikap akseptor didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap akseptor didik serta sanggup menjadi materi dalam evaluasi perkembangan akseptor didik secara keseluruhan.
Portofolio
Penilaian portofolio merupakan evaluasi berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan isu dan hasil percobaan/proses dalam bentuk diskripsi baik berupa gambar atau goresan pena sederhana yang dibuat anak. Kumpulan hasil selama satu periode dianalisis/dikaji untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan anak menurut kompetensi /indikator yang telah ditetapkan.
Data berupa hasil karya anak, untuk memperoleh kesimpulan perihal citra tamat perkembangan anak. Penilaian jenis ini akan sanggup mendeteksi setiap kemajuan yang diperoleh anak dari waktu ke waktu. Penilaian Portofolio sanggup dipakai untuk bidang pengembangan adaptasi dan bidang pengembangan kemampuan dasar.
Penugasan (Project)
Penugasan merupakan cara evaluasi berupa pemberian kiprah yang harus dikerjakan anak dalam waktu tertentu baik secara perorangan maupun kelompok. Misalnya melaksanakan percobaan menanam biji.
2. Langkah-Langkah Penilaian
Menentukan jenis evaluasi untuk setiap indikator yang dirumuskan di dalam silabus atau Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Teknik Penilaian. Tujuan Pemetaan standar kompetensi dilakukan untuk memudahkan guru dalam memilih teknik penilaian.
Penilaian dilakukan seiring dengan aktivitas pembelajaran. Acuan yang dipakai dalam melaksanaan evaluasi sehari-hari kompetensi yang tertuang pada rencana aktivitas harian (RKH) untuk setiap anak.
Hal-hal dan cara pencatatan hasil evaluasi harian dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:
Catatlah hasil evaluasi perkembangan anak pada kolom evaluasi di rencana aktivitas harian (RKH). Ada tiga kelompok anak yang perlu dicatat, kelompok pertama, yaitu: anak yang belum mencapai atau melakukan/menyelesaikan pekerjaan masih selalu dibantu guru, kelompok kedua, yaitu: anak yang sudah atau bisa melakukan/menyelesaikan kiprah tanpa pertolongan guru secara tepat, cepat, dan benar, dan kelompok ketiga, yaitu: anak yang menawarkan kemampuan melebihi indikator-indikator yang diperlukan dalam RKH.
Simbol yang dipakai untuk mencatat tingkat pencapaian anak untuk setiap indikator ialah sebagai berikut:
Anak yang selalu dibantu guru dalam melakukan/menyelesaikan tugas-tugas sesuai indikator menyerupai yang diperlukan dalam RKH, maka pada kolom evaluasi dituliskan tanda lingkaran kosong (O) pada nama anak bersangkutan.
Anak yang sudah atau bisa melakukan/menyelesaikan kiprah tanpa pertolongan guru secara tepat, cepat, dan benar sesuai dengan indicator menyerupai yang diperlukan dalam RKH, maka pada kolom tersebut dituliskan nama anak dan tanda lingkaran berisi penuh .
Anak yang menawarkan kemampuan sesuai dengan indikator yang tertuang dalam RKH, diberi dengan tanda cek (V).
Hasil catatan evaluasi yang ada dalam rencana aktivitas harian (RKH) dirangkum dan dipindahkan ke dalam format rangkuman evaluasi perkembangan anak di TK.
Apabila hasil evaluasi perkembangan anak dalam 1 (satu) bulan pada RKH lebih cenderung memperoleh bulatan penuh maka risikonya akan dipindahkan bulatan penuh pada rangkuman bulanan. Dan pada kolom keterangan ditampilkan jenis aktivitas pengayaan yang sesuai untuk anak bersangkutan.
Apabila hasil evaluasi pada perkembangan anak dalam 1 (satu) bulan pada RKH lebih cenderung memperoleh bulatan kosong maka risikonya akan dipindahkan bulatan kosong pada rangkuman bulanan. Dan pada kolom keterangan ditampilkan jenis aktivitas remedial yang sesuai untuk anak bersangkutan.
Apabila hasil evaluasi pada perkembangan anak dalam 1 (satu) bulan pada RKH lebih cenderung seimbang perolehan bulatan penuh dan bulatan kosong, maka risikonya berupa tanda cek yang kemudian dipindahkan ke rangkuman bulanan. Dan pada kolom keterangan ditampilkan jenis aktivitas remedial dan pengayaan yang sesuai untuk anak bersangkutan.
Data dari buku rangkuman selama 1 (satu) semester ditambah dengan data dari alat evaluasi yang lain menyerupai absensi, catatan anekdot dianalisis dan disimpulkan sebagai dasar pembuatan laporan deskripsi.
3. Pelaporan Hasil Penilaian
Pelaporan merupakan aktivitas mengkomunikasikan dan menjelaskan hasil evaluasi guru perihal pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bentuk Laporan
Berdasarkan hasil rangkuman perkembangan anak setiap bagian tertentu,penilaian dilaporkan dalam bentuk uraian (deskripsi) singkat dari masing-masing bidang pengembangan di Taman Kanak-kanak yaitu: (1) bidang pengembangan pembentukan sikap melalui pembiasaan, dan (2) bidang pengembangan kemampuan dasar.
Uraian (deskripsi) dirumuskan menurut hasil pencatatan evaluasi dalam periode waktu satu semester. Hasilnya dibuat seobyektif mungkin sehingga tidak menjadikan penafsiran yang salah bagi orang tua/wali atau bagi yang berkepentingan dalam bentuk Laporan Perkembangan Anak di TK.
Contoh bentuk pelaporan perkembangan anak di Taman Kanak-kanak sanggup dilihat pada lampiran.
Teknik Melaporkan Hasil Penilaian
Laporan Perkembangan Anak di Taman Kanak-kanak dilaporkan oleh kepala/guru Taman Kanak-kanak secara mulut dan tertulis. Cara yang ditempuh sanggup dilaksanakan dengan bertatap muka serta dimungkinkan adanya hubungan dan isu timbal balik antara pihak Taman Kanak-kanak dan orang tua/wali. Hal yang perlu diingat dalam pelaksanaan aktivitas ini hendaknya menjaga kerahasiaan data atau informasi, artinya bahwa data atau isu perihal anak hanya diinformasikan dan dibicarakan dengan orang tua/wali anak yang bersangkutan atau tenaga hebat dalam rangka bimbingan selanjutnya.
Pada umumnya orang bau tanah menginginkan balasan dari pertanyaan tentang:
Keadaan anak waktu berguru di sekolah secara fisik, akademik, sosial dan emosional.
Partisipasi anak dalam aktivitas di sekolah.
Kemampuan/kompetensi yang sudah dan belum dikuasai anak.
Yang harus dilakukan orang bau tanah untuk membantu dan berbagi anak lebih lanjut.
Untuk hal tersebut, isu yang diberikan kepada orang tua/wali hendaknya:
Menggunakan bahasa yang gampang dipahami.
Menitikberatkan kekuatan dan apa yang telah dicapai anak.
Memberikan isu perihal tingkat pencapaian dan perkembanga hasil berguru anak secara bijaksana.
Memberikan masukan perihal tingkat pencapaian anak pada seluruh kompetensi.
Penilaian dilakukan untuk mengetahui nilai dari sesuatu. Dalam pelaksanaan program, evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui nilai semua hal yang berkaitan dengan kegiatan pelaksanaan program, yaitu nilai anak, nilai guru, dan nilai program.
Untuk memperoleh nilai yang benar menggambarkan nilai sesungguhnya dari sesuatu atau anak yang dinilai, guru hendaknya memenuhi prinsip-prinsip evaluasi berikut
a. Menyeluruh
Penilaian secara menyeluruh maksudnya ialah evaluasi dilakukan baik terhadap proses maupun hasil kegiatan anak. Penilaian terhadap proses ialah evaluasi pada ketika kegiatan pelaksanaan kegiatan tersebut sedang berlangsung. Sedangkan evaluasi terhadap hasil ialah evaluasi wacana hasil kerja anak. Di TK, hasil kerja anak sanggup berupa hasil keterampilan tangannya berupa bentuk tertentu, menyerupai guntingan, gambar, roncean dll. Penilaian proses dan hasil dibutuhkan sanggup menggambarkan adanya perubahan sikap anak, baik yang menyangkut pengetahuan, sikap, perilaku, nilai serta keterampilan. Perubahan disebut faktual apabila berangsur-angsur dari yang ada menuju ke arah yang lebih baik.
b. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, sedikit demi sedikit dan terus menerus. Hal tersebut dilakukan semoga warta yang diperoleh betul-betul berasal dari citra perkembangan hasil berguru anak sebagai hasil didik dari kegiatan pelaksanaan program. Penilaian direncanakan terlebih dahulu baik secara harian, caturwulan, maupun tahunan. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, guru sanggup memakai catatan sehingga secara sedikit demi sedikit hasil evaluasi sanggup diketahui. Dengan cara demikian dibutuhkan diperoleh citra wacana kemajuan perkembangan hasil berguru anak sebagai hasil kegiatan pelaksanaan program. Dengan prinsip tersebut akan cepat diketahui anak yang mengalami kesulitan atau permasalahan dalam perkembangannya.
c. Berorientasi pada proses dan tujuan
Penilaian pada pendidikan anak Taman Kanak-kanak dilaksanakan dengan berorientasi pada tujuan dan proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Penetapan kegiatan diubahsuaikan dengan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak. KBK yang telah dirumuskan intinya telah diubahsuaikan dengan tugas-tugas pertumbuhan dan perkembangan anak usia TK. KBK tersebut sanggup dipakai sebagai rambu-rambu penilaian. Masing-masing tujuan dirumuskan indikatornya sehinggah lebih memudahkan dalam memberi nilai. Dengan demikian guru harus benar-benar menguasai irama dan tugas-tugas perkembangan anak usia Taman Kanak-kanak baik secara kelompok seusianya maupun individual.
d. Objektif
Penilaian harus memenuhi prinsip objektifitas. Penilaian objektif ialah evaluasi yang sanggup memperlihatkan warta yang sesungguhnya atau mendekati sesungguhnya wacana objek kemampuan atau perubahan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak. Guru harus memperhatikan perbedaan-perbedaan perkembangan pada setiap anak. Artinya guru tidak sanggup memperlihatkan interpretasi yang sama pada setiap sikap anak yang sama atau bersamaan. Perilaku yang sama dari beberapa anak mungkin saja terjadi tetapi akan mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan anak. Guru harus tetap melihat anak sebagai individu yang unik, yang berbeda antara satu dengan yang lain.
e. Mendidik
Hasil evaluasi harus sanggup membina dan mendorong timbulnya harapan anak untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh alasannya ialah itu, hasil evaluasi harus dirasakan sebagai suatu penghargaan bagi yang berhasil dan sebaliknya merupakan peringatan bagi yang belum berhasil. Namun, guru harus ingat bahwa pada setiap diri anak terdapat kelebihan-kelebihan. Ada anak yang cantik menggambar, tetapi dalam bahasa belum baik. Mulai dari yang baik itu, guru member motivasi semoga perkembangan yang lain juga baik.
f. Kebermaknaan
Hasil evaluasi harus mempunyai makna bagi orang tua, anak didik dan pihak lain yang berkepentingan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal tersebut akan terpenuhi kalau guru sanggup memperlihatkan nilai yang benar-benar menggambarkan ketercapaian pertumbuhan dan perkembangan anak dalam waktu kurun tertentu.
g. Kesesuaian
Penilaian memperlihatkan kesesuain antara hasil atau nilai yang diperoleh anak dengan apa yang dilakukan atau diajarkan guru. Artinya, nilai yang menggambarkan kemajuan pertumbuhan dan perkembangan anak itu memang benar-benar diperoleh dari kegiatan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan guru di sekolah.
A. Pendekatan Pembelajaran Pendekatan pembelajaran pada pendidikan Taman Kanak-kanak dan RA dilakukan dengan berpedoman pada suatu kegiatan kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh sikap dan kemampuan dasar yang ada pada anak sanggup dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Pendekatan pembelajaran pada anak Taman Kanak-kanak dan RA hendalmya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak
Anak berguru dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasa kondusif dan tenteram secara psikologis.
Siklus berguru anak selalu berulang.
Anak berguru melalui interaksi sosial dengan orang' pandai balig cukup akal dan bawah umur lainnya.
Minat dan keingintahuan anak akan memotivasi belajamya.
Perkembangan dan belajar. anak harus memperhatikan perbedaan individu.
2. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
Kegiatan pembelajaran pada anak harus senanti?sa: berorientasi kepada kebutuhan anak- anak usia dini: adalah- anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan, baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional). Dengan dem.ikian aneka macam jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan dengan aneka macam aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak.
3. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain
Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia Taman Kanak-kanak dan RA. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan memakai strategi, metode, materi/bahan dan media yang: menarik serta gampang diikuti oleh anak.
Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang akrab dengan anak sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Bermain bagi anak merupakan proses untuk bereksplorasi, sanggup keterampilan yang gres dan sanggup memakai simbol untuk menggambarkan dunianya. Ketika bermain mereka membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya. Pendidik kiprah yang sangat penting dalam pengembangan bermain anak.
4. Menggunakan Pendekatan Tematik
Kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang dengan memakai pendekatan tematik dan beranjak dari tema yang menarik minat anak. Tema sebagai alat/sarana atau. wadah untuk mengenalkan aneka macam konsep pada anak. Tema diberikan dengan tujuan:
Menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh
Memperkaya perbendaharaan kata anak
Jika pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan tema, maka pemilihan tema dalam kegiatan pembelajaran dikembangkan dari hal-hal yang paling akrab dengan anak, sederhana, serta menarik minat anak. Penggunaan tema dimaksudkan .agar anak bisa mengenal aneka macam konsep secara gampang dan jelas.
5. Kreatif dan Inovatif
Proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif sanggup dilakukan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berpikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Selain itu pengelolaan pembelajaran hendalmya dilakukan secara dinamis. Artinya anak tidak hanya diperlakukan sebagai objek tetapi juga sebagai subjek dalam proses pembelajaran.
6. Lingkungan Kondusif
Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan sehingga an?k selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan ruang harus diadaptasi dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga dalam interaksi baik dengan pendidik maupun dengan temannya sanggup dilakukan secara demokratis. Selain itu, dalam pembelajaran hendaknya pendidik memberdayakan lingkungan sebagai sumber berguru dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan kemampuan interpersonalnya.
Dengan demikian anak merasa bahagia walaupun antar mereka berbeda (perbedaan individual). Lingkungan hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya yaitu dengan tidak membedakan nilai-nilai yang dipelajari di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sekitar. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.
7. Mengembangkan Kecakapan Hidup
Proses pembelajaran harus diarahkan untuk menyebarkan kecakapan hidup. Pengembangan konsep kecakapan hidup didasarkan atas pembiasaan-pembiasaan yang mempunyai tujuan untuk menyebarkan kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan bersosialisasi, serta memperoleh keterampilan dasar yang berkhasiat untuk kelangsungan hidupnya.
B. Penilaian
Penilaian sanggup dilakukan dengan aneka macam cara, antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laris anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus-menerus, sedangkan pencatatan anekdot merupakan sekumpulan catatan perihal sikap dan sikap anak dalam situasi tertentu. Berbagai alat penilaian yang sanggup dipakai untuk citra perkembangan kemampuan dan sikap anak, antara lain:
Portofolio, yaitu evaluasi menurut kumpulan hasil kerja anak yang sanggup menggambarkan sejauh mana anak berkembang.
Unjuk kerja (performance) merupakan evaluasi yang menuntut anak untuk melaksanakan kiprah dalam perbuatan yang dap-at diamati, contohnya praktik menyanyi, olahraga, sesuatu.
Penugasan (Project) merupakan kiprah yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relatif usang dalam pengerjaannya. Misalnya melaksanakan percobaan menanam biji.
Hasil karya (Product) merupakan hasil kerja anak sesudah melaksanakan suatu kegiatan.