Showing posts sorted by relevance for query ini-dia-10-kebiasaan-efektif-bangsa. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query ini-dia-10-kebiasaan-efektif-bangsa. Sort by date Show all posts

Saturday, 19 December 2020

Lebih Cendekia Kebiasaan Membaca Orang Jepang Diawali Dari Sekolah – Seluruh Akseptor Latih Wajib Membaca Selama 10 Menit Sebelum Kbm

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Faktor utama kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kebiasaan kasatmata dari masyarakat yang menjadi bab dari bangsa itu sendiri.

Salah misalnya yakni negera Jepang dimana di sana perpustakaan menjadi jaminan pendidikan di Jepang untuk memajukan generasi muda. Makanya, perpustakaan dengan koleksi komplet menjadi andalan bagi sekolah-sekolah di Jepang untuk menggaet calon-calon siswa.

"Perpustakaan yakni salah satu ciri sekolah di Jepang," tutur School System Coordinator untuk Hikari Japanese School, Wiginy Kusliawan, di Jakarta pada Senin (2/3/2015).

Media massa di Tokyo, Jepang, Yoshiko Shimbun, dalam wartanya beberapa waktu silam menawarkan bahwa kebiasaan membaca di Jepang berawal dari sekolah

Sebelum memulai pelajaran, guru mewajibkan siswa membaca selama sepuluh menit. Menariknya, kebiasaan ini berlangsung lebih dari 30 tahun.

Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama belum dewasa sekolah dasar diwajibkan membaca buku apa pun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah.

Bisa dibilang, Jepang merupakan macan Asia, di mana segala kemajuan, mulai dari kemajuan perekonomian sampai teknologi, berjalan sangat pesat. Pada dasarnya, kemajuan yang dicapai Jepang pada dikala ini merupakan buah dari kerja keras pemerintah Jepang untuk membangun budaya literasi yang dimulai semenjak dari dingklik sekolah dasar.

Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melaksanakan acara berguru mengajar di sekolah.

Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun. Para andal pendidikan Jepang mengakui bahwa pola kebiasaan yang diterapkan ini terlalu bersifat behavioristik, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun, penyesuaian yang dilakukan dari tingkat sekolah dasar dinilai cukup efektif, alasannya dilakukan pada belum dewasa semenjak usia dini.

Awalnya, ibarat yang disebutkan harian tersebut, pelaksanaan regulasi tersebut memang sulit dilakukan, mengingat para murid mempunyai latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda. Namun, alasannya pola pendidikan di Jepang didesain sedemikian sehingga berkesinambungan dengan pola pendidikan di rumah, sehingga dalam pelaksanaannya, orangtua juga proaktif membuatkan kebiasaan baca di sekolah.

Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama belum dewasa sekolah dasar diwajibakan membaca buku apapun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah.


Tidak hanya itu, pola pendidikan di Jepang juga dibentuk untuk mendorong siswa supaya aktif membaca, ibarat mempresentasikan karya sastra klasik, menciptakan kelompok story telling menurut buku yang telah dibacanya untuk acara amal yang berlangsung pada simpulan tahun pelajaran.

Saat ini peraturan ini memang tak seketat ketika pertama kali diterapkan. Banyak sekolah yang tidak menyebutkan peraturan tersebut secara tertulis. Namun demikian, budaya baca yang telah tertanam pada pelajar di Jepang rupanya menciptakan siswa-siswa ini secara sadar dan sanggup berdiri diatas kaki sendiri membuka ruang-ruang diskusi ilmiah informal di luar jam pelajaran mereka, dengan salah satu agendanya yakni membahas banyak buku-buku yang tengah terbit ataupun fenomenal.

Referensi artikel :

Tuesday, 25 August 2020

Lebih Pintar Kebiasaan Membaca Sanggup Meningkatkan Kemampuan Bicara, Menulis, Dan Karier Pekerjaan / Profesi

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Menulis ataupun berbicara itu jikalau dianalogikan dengan sebuah air yang dituangkan dari sebuah botol ke dalam gelas. Dan tentunya apapun yang dituangkan tergantung air apa yang telah dimasukkan ke dalam botol itu.

Dan ini berarti apapun yang sanggup kita tulis dan kita ungkapkan dengan kata-kata tentu merupakan inti sari / hasil dari apapun yang telah kita pahami dari proses membaca sebelumnya, dan secara umum membaca tidak hanya pada sebuah buku. Akan tetapi dengan melihat, mendengar, kemudian memperhatikan dengan segenap pikiran sehingga sanggup tersimpan berpengaruh ilmu-ilmu yang terkandung di dalam obyek yang menjadi fokus bacaan tersebut.

Membaca berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis baik dengan melisankan (melafalkan dengan suara) ataupun hanya di dalam hati, akan tetapi pikiran tetap bekerja dalam memperhitungkan hingga dengan memahami apa yang sedang dibacanya itu.

Sehingga kebiasaan membaca ini secara umum telah terbukti melahirkan manusia-manusia yang berkualitas dalam banyak sekali bidang, mereka cenderung mempunyai kemampuan lebih salah satunya yaitu para penulis, motivator, narasumber, personalia, dan profesional di bidang lainnya. Dan tentu saja yang dikala ini masih menjadi orang biasa, dikarenakan adanya kemauan berguru dan membaca yang tinggi, kemungkinan besar, mereka inilah yang akan menggantikan posisi-posisi sang mahir dikala ini.

Walaupun penulis fiksi pun, dipastikan mempunyai pengalaman yang tidak sebentar dalam membaca, setidaknya untuk membaca kamus bahasa ataupun mempelajari tata bahasa maupun tata penulisan yang benar pada waktu-waktu sebelum berkarya.

Terlebih dalam dunia pendidikan, yang mana membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang penerima didik, selain kemampuan menghitung, menulis, hingga dengan menganalisa sesuatu tema pembelajaran.


Maka tak pelak, seluruh elemen dalam dunia pendidikan mulai dari penerima didik hingga dengan pendidiknya pun dituntut untuk selalu membuatkan dirinya salah satunya yaitu dengan terus meningkatkan acara membaca di sela-sela mengisi waktu yang kosong, dan untuk selanjutnya akan bermetamorfosis menjadi sebuah kebiasaan yang sangat membangun bukan hanya untuk langsung akan tetapi juga bangsa dan negara ke depannya. Hal ini sudah terbukti di negara-negara maju di dunia ini, salah satunya yaitu Jepang.

Selain itu, bagi para profesional di banyak sekali bidang, dengan mempunyai wawasan yang luas dari kebiasaan membaca, tentu saja akan meningkatkan kapasitas dan kompetensi di bidangnya, dan pada hasilnya potensi kasatmata ini akan sangat mendukung dalam kesuksesan kariernya.

Yang terpenting juga apa yang dibaca juga harus dipertimbangkan seoptimal mungkin, biar kiranya apapun yang sudah kita baca, dipelajari, dipahami, hingga pada hasilnya diterapkan baik untuk berkarya maupun untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari bermanfaat dan berkah bagi kita dan sekitar kita dalam turut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia tercinta. …!

Sunday, 20 December 2020

Lebih Cerdik Ini Ia 10 Kebiasaan Efektif Bangsa Jepang Sehingga Negara Mereka Maju Pesat

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Mendengar kata ‘Jepang’ niscaya yang tersirat ialah kemajuan dan ilmu teknologinya yang maju. Walau pada tahun 1945 Jepang hancur lebur oleh kedahsyatan Bom Atom tidak jauh dengan Kemerdekaan Indonesia, Saat ini Jepang sudah menjadi negara yang sangat maju dan canggih.

Keberhasilan Jepang bukan tanpa kerja keras alasannya Jepang di berdiri dengan pondasi yang sangat baik tidak hanya masyarakatnya tapi juga pejabat-pejabat negaranya yang serius untuk mengurus negara.

Berikut ini merupakan cerita dari seorang bloger Indonesia yang bekerja di jepang yang mencatat perihal 10 Kebiasaan Orang Jepang Yang Menjadikan Jepang menjadi Negara yang sangat maju:

1. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda tiba ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik bawah umur maupun remaja sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

Banyak penerbit yang mulai menciptakan man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, Sekolah Menengah Pertama maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang menciptakan minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku ajaib (bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dsb).

Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku ajaib sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang hingga jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa ahad semenjak buku asingnya diterbitkan.

Lihat ulasan mengenai kebiasaan membaca masyarakat Jepang diawali dari sekolah pada links artikel berikut.

2. Malu

Malu ialah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual semenjak kala samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat persoalan korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin ialah bawah umur SD, Sekolah Menengah Pertama yang kadang bunuh diri, alasannya nilainya buruk atau tidak naik kelas.

Karena aib jugalah, orang Jepang lebih senang menentukan jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka aib terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi janji umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang mempunyai semangat hidup irit dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam aneka macam bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga hingga separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas menciptakan sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan hingga pensiun.

Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau mendapatkan fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca cerita Akio Morita yang menyebarkan Sony Walkman yang melegenda itu.

Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil menyebarkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun ialah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa menyebarkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua saluran ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat menyesuaikan diri dan menjadi fast-learner.

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak menciptakan Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia.

Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan tragedi terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) .

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih bisa merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di kala kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika memperlihatkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke aneka macam negara lain. Tapi karenanya melegenda dengan Sony Walkman-nya.

Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus berguru dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh perihal ini.

7. Kerja Keras

Sudah menjadi belakang layar umum bahwa bangsa Jepang ialah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang ialah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah kendaraan beroda empat dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk menciptakan kendaraan beroda empat yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melaksanakan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat ialah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan mengambarkan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga menyerupai itu, mengerjakan kiprah mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.

Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” ialah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini bawah umur dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak Orang Indonesia yang bekerja di Jepang yang paling gede sempat mencicipi masuk Taman Kanak-kanak (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.

Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas Sekolah Menengan Atas dan masuk dingklik kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang bau tanah yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak menciptakan bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya wanita yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup hingga ketika ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai ketika ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila menerima tawaran dari orang lain. Kaprikornus kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang alasannya “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.

Persaingan keras alasannya masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Referensi artikel : 10 Kebiasaan Baik Orang Jepang yang Membuat Mereka Maju – 101jakfm.com

Monday, 18 November 2019

Lebih Terpelajar 10 Hal/Cara Membentuk Perilaku Etos Kerja Sesuai Dengan Tuntunan Nabi Untuk Mendapat Keberkahan Dunia Dan Akhirat

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Manusia yaitu makhluk pekerja. Dengan bekerja insan akan bisa memenuhi segala kebutuhannya biar tetap hidup. Manusia harus bekerja dan berusaha sebagai manifestasi kesejatian hidupnya demi menggapai kesuksesan dan kebahgaian hakiki, baik jasmani maupun rohani, dunia dan akhirat. Namun, bekerja tanpa dilandasi seamangat untuk mencapai tujuan tentu saja akan sia-sia. Karena itu, sebuah pekerjaaan yang berkualitas seharusnya dilandasi dengan niat yanng benar dengan disertai semangat yang kuat.

Tujuan bekerja setiap orang berbeda-beda, tergantung pada niatnya, sebagian orang tidak menghadirkan rasa religius dalam niat bekerjanya akan berakibat tidak merasa senang dalam bekerja, mereka hanya mendapat tujuan dari bekerjanya atau cukup secara jasmani namun tidak senang batinnya. Al Alquran telah menegaskan bahwasannya yang perlu dicari yaitu keutamaan dan keridhoan.makna kerja sanggup diartikan sebagai suatu upaya untuk memenuhi kebutuhannya, baik didunia maupun akhirat. Bekerja bukanlah sekedar untuk memperoleh penghasilan, namun bekerja yang lebih hakiki merupakan perintah Tuhan untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi sesamanya. Melalui bekerja, sanggup diperoleh beribu pengalaman, dorongan kerja, bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Sebagian dari umat Islam, masih memahami Islam secara sederhana, yakni dengan memandang hanya sholat wajib dan sunnah, mengaji, dan bermacam-macam ibadah lainnya. Masih belum banyak yang memahami bahwa islam juga mendorong umatnya untuk mempunyai etos kerja yang handal. Nilai spiritual berupa “keberkahan” sangatlah penting untuk diutamakan dalam bekerja, bahkan lebih penting dari segala-galanya. Bayangkan saja jikalau seseorang melaksanakan pekerjaan yang tidak baik atau penghasilan yang tidak halal cepat atau lambat akan berimbas pada keluarganya maupun dirinya sendiri bahkan orang-orang disekitarnya. Bekerja memang sangat dianjurkan tetapi harus ada batasannya, jangan hingga kita lupa akan segalanya yang telah kita punya lantaran kita sibuk mengejar materi terus menerus. Bisa kita lihat sendiri kini banyak sekali keluarga-keluarga yang hancur lantaran kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan bekerja sehingga anak-anaknya mengalami pergaulan bebas lantaran kurangnya perhatian dari orang tua.

Karena bekerja berkaitan dengan nilai kejiwaan seseorang, hendaknya setiap eksklusif muslim harus mengisinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang kasatmata dan ada semacam kerinduan untuk memperlihatkan kepribadiaannya sebagai seorang muslim dalam bentuk hasil kerja serta perilaku dan prilaku yang menuju atau mengarah kepada hasil yang jenih sempurna. Akibatnya, cara dirinya mengekspresi sesuatu selalu menurut semangat untuk menuju kepada perbaikan dan terus berupaya dengan semangat bersungguh-sungguh meghindari yang negatif.


Bekerja memperlihatkan pula perilaku dan harapan seseorang. Imam Al-Qusairi mengartikan harapan sebagai keterpaduan hati kepada yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang. Perbedaan antara harapan dengan angan-angan yaitu sebenarnya angan-angan menciptakan seseorang menjadi pemalas dan terbuai oleh khayalannya tanpa mau mewujudkannya. Kita menyaksikan begitu banyak orang yang berhasil dan bisa mengubah wajah dunia, mereka yaitu yang seluruh hidupnya diabdikan untuk mewujudkan pengetahuan dan harapannya tersebut melalui semangat kerja yang tak kenal kata mundur atau menyerah. Hidupnya menjadi bermakna lantaran ada harapan. Pantaslah Allah SWT menyeru kita untuk tetap mempunyai harapan dan menggolongkan mereka yang berputus asa ke dalam golongan orang-orang yang sesat.

Di Indonesia tingkat pekerja dan pengangguran masih belum seimbang bahkan malah lebih banyak yang pengangguran, Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, pada tahun 2017 telah terjadi kenaikan jumlah  pengangguran di Indonesia sebesar 10.000 orang menjadi 7,04 juta orang pada Agustus 2017 dari Agustus 2016 sebesar 7,03 juta orang. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, pertambahan jumlah  pengangguran tersebut disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja di Indonesia. "Setahun terakhir, pengangguran bertambah 10.000 orang menjadi 7,04 juta di Agustus 2017," ujar Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (6/11/2017). "Jumlah angkatan kerja yang masuk mencapai 3 juta orang per tahun, jadi komposisi pekerja dan penganggurannya akan terus naik seiring jumlah penduduk. Tapi yang penting persentase TPT-nya turun," katanya. Sementara dari tingkat pendidikan, jumlah pengangguran tertinggi ada pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibandingkan dengan tingkat pendidikan lain, yakni mencapai sebesar 11,41 persen. Padahal lulusan Sekolah Menengah kejuruan sendiri mungkin bisa menyalurkan bakatnya atau keahliannya di BLK (Balai Latihan Kerja) untuk di bimbing lagi dan nantinya bisa membuka perjuangan tersendiri dan malah sanggup membantu orang lain.

Mereka sadar bahwa untuk mewujudkan harapannya itu haruslah mempunyai kualitas sehingga bisa bersaing. Hidup yaitu sebuah persaingan (fastabiqul khairat). Itulah sebabnya, untuk menimbulkan diri yang berkualitas, beliau tak kenal berhenti untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Merekapun sadar bahwa tiga potensi dirinya, yaitu head, heart, dan hand, hanyalah sebuah imajinasi bila tidak ditambah dengan satu perilaku yang mutlak diperlukan, yaitu hard working.

Dalam Islam sendiri telah diperintahkan untuk bekerja, sesuai dengan sabda Nabi SAW :

“Dari Rifa’ah bin Rafi’ berkata bahwa Nabi Muhammad SAW ditanya perihal perjuangan yang bagaimana dipandang baik?. Nabi menjawab: Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap perdagangan yang higienis dari penipuan dan hal-hal yang diharamkan.” (HR. Al-Bazzar dan ditashihkan Hakim)

Di dalam hadis tersebut menjelaskan bahwa Islam senantiasa mangajarkan kepada umatnya biar beruasaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak dibenarkan seorang muslim berpangku tangan saja atau berdoa mengharapkan rezeki tiba dari langit  tanpa adanya usaha. Namun demikian, tidak dibenarkan pula terlalu mengandalkan kemampuan diri sehingga melupakan pemberian dari Allah SWT dan tidak mau berdoa kepada-Nya. Telah menjadi sunnatullah di dunia bahwa kemkamuran akan dicapai oleh mereka yang bekrja keras dan memanfaatkan segala potensinya untuk mencapai keinginannya. Hikmah dari rezeki yang dihasilkan melalui tangan sendiri yaitu terasa lebih nikmat daripada hasil kerja orang lain juga akan menumbuhkan hidup ekonomis lantaran mencicipi bagaimana payahnya mencari rezeki.

Dalam bekerja sangatlah penting kita memperhatikan hal-hal berikut biar sanggup menjadi pekerjaan yang mendapat keberkahan dunia dan alam abadi yaitu:

1. Niat

Segala sesuatu memang menurut niat, semua yang terjadi itu tergantung pada niat awal kita. Maka berniatlah nrimo lantaran Allah ta’ala, sehabis itu kita akan merasa bahwa semua yang kita lakukan selalu di awasi oleh Allah dan di ridhoi-Nya sehingga kita akan selalu berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaan dan kita akan merasa bersyukur atas apapun yang kita peroleh.

2. Bekerja keras

Cita-cita yaitu penyemangat kita dalam melaksanakan suatu hal, jikalau kita mempunyai harapan yang tingggi maka kita perlu melaksanakan kerja keras tanpa ada rasa mengalah dan puas sebelum terpenuhinya cita-cita. Dalam bekerja kita seharusnya menjauhi gaya hidup yang hura-hura, membuang uang dengan sia-sia, dan kita harus selalu ingat tujuan awal kita bekerja dan apa harapan kita.

3. Tangguh dan pantang menyerah

Keuletan merupakan modal yang sangat besar di dalam mengahapi segala tanatngan atau tekanan (pressur), lantaran sejarah telah banyak menerangkan batapa banyak bangsa yang mempunyai sejarah pahit, namun hasilnya sanggup keluar dengan banyak sekali inovasi, kohesivitas kelompok, dan bisa memperlihatkan prestasi yang tinggi bagi lingkungan.

4. Efisiensi Waktu

Bagi yang mempunyai etos kerja islam ia selalu menganggap waktu yaitu aset Illahi yang sangat berharga, yaitu ladang subur yang membutuhkan ilmu dan amal untuk diolah serta dipetik hasilnya pada waktu yang lain. Waktu yaitu kekuatan. Mereka yang mengabaikan waktu berarti menjadi budak kelemahan. Bila kita memanfaatkan seluruh waktu, kita sedang berada di atas jalan keberuntungan. Hal ini sebagaimana firmanNya : “Wal-‘ashri, sesungguhnya insan niscaya dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan berinfak saleh saling berwasiat dalam kebaikan dan dalam kesabaran.”(Al-‘Ashr : 1-3)

5. Percaya Diri         

Pribadi muslim yang percaya diri tampil bagaikan lampu yang benderang, memancarkan raut wajah yang cerah dan berkharisma. Orang yang berada disekitarnya merasa tercerahkan, optimis, tentram, dan muthma’innah. Penelitian Boyatzis menerangkan bahwa para penyelia, manajer, dan administrator yang percaya diri lebih berprestasi dari orang yang biasa-biasa saja.Percaya diri melahirkan kekuatan, keberanian, dan tegas dalam bersikap. Berani mengambil keputusan yang sulit walaupun harus membawa konsekuensi berupa tantangan atau penolakan.

6. Tanggung Jawab

Tanggung jawab yaitu menanggung dan memberi jawaban, demikian pengertian takwa yang kita tafsirkan sebagai tindakan bertanggungjawab sanggup didefinisikan sebagai perilaku dan tindakan seseorang di dalam menrima sesuatu sebagai amanah; dengan penuh rasa cinta, ia ingin menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang melahirkan amal prestatif.

7. Kejujuran

Seorang  muslim yaitu tipe insan yang terkena kecanduan kejujuran; dalam keadaan apapun, beliau merasa bergantung pada kejujuran. Diapun bergantung pada amal saleh, dirinya ibarat terkena sugesti yang besar lengan berkuasa untuk selalu berbuat amal saleh. Sekali beliau berbuat jujur atau berbuat amal saleh prestatif, dirinya bagaikan ketagihan untuk mengulangi dan mengulanginya lagi. Dia terpenjara dalam cintanya kepada Allah. Tidak ada kebebasan yang beliau nikmati kecuali dalam pelayanannya kepada Allah.

8. Istiqamah dan Kuat Pendirian

Pribadi muslim yang profesional dan berakhlak mempunyai perilaku konsisten yaitu kemampuan untuk bersikap secara taat asas, pantang menyerah, dan bisa mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan resiko yang membahayakan dirinya. Mereka bisa mengendalikan diri dan mengelola emosinya secara efektif. Tetap teguh pada komitmen, positif, dan tidak ringkih kendati berhadapan dengan situasi yang menekan. Sikap konsisten telah melahirkan kepercayaan diri yang besar lengan berkuasa dan mempunyai integritas serta bisa mengelola stres dengan penuh gairah.

Seorang yang istiqamah tidak gampang berbelok arah betapapun godaan untuk mengubah tujuan begitu memikatnya. Dia tetap pada niat semula. Istiqamah berarti berhadapan dengan segala rintangan masih tetap berdiri. Konsisten berarti tetap menapaki jalan yang lurus walaupun sejuta halangan menghadang. Ini bukan idealisme, tetapi sebuah abjad yang menempel pada jiwa setiap eksklusif muslim yang mempunyai semangat tauhid laa ilaaha illahhah. Sebagaimana Bilal yang tetap mengucapkan “ahad…ahad…ahad !!! walaupun dicambuk dan kulitnya melepuh lantaran dibakar di atas pasir panas dan ditindih watu yang besar di atas perutnya. Dan Nabi pernah bersabda bahwa: ”satu keistiqomahan lebih baik dari seribu karomah”.

9. Profesionalisme

Sebagaimana sabda Nabi SAW

“Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah menyayangi seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

Hadis di atas sudah menjelaskan dengan terang bahwa Allah mnecintai seseorang yang apabila beliau bekrja dengan profesional, dengan beliau profesional berarti beliau telah menerapkan sifat amanah, dan terbukti bahwa beliau bekerja sesuai dengan bidang yang digeluti.

10. Memiliki Sifat Semangat Perubahan

Pribadi yang mempunyai etos kerja sangat sadar bahwa tidak akan ada satu makhlukpun di muka bumi ini yang bisa mengubah dirinya kecuali dirinya sendiri. Betapapun hebatnya seseorang untuk memperlihatkan motivasi, hal itu hanyalah sebuah kesia-siaan belaka, bila pada diri orang tersebut tidak ada keinginan untuk dimotivasi, tidak ada elan api yang menyala-nyala untuk mengubah diri. Benarlah apa yang difirmankan Allah SWT …..”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubah keadaan diri mereka sendiri…(Ar-Rad : 11). Ayat ini mengajak kita untuk memainkan peran, mengubah nasib, dan menempatkan diri dalam posisi diri yang mulia ataukan yang hina.

Dengan menumbuhkan sikap-sikap di atas, maka kita termasuk seorang muslim yang menumbuhkan etos kerja yang sesuai dengan tuntunan Nabi, maka akan tumbuh banyak perkerja yang berkualitas dan mungkin bisa mengurangi tingkat korupsi. Karena mereka tidak hanya mengejar keduniawian saja, tetapi juga mendapat bekal untuk di alam abadi kelak.

Ditulis dan dikirimkan oleh : Novia Fahris Salimi (Mahasiswi IAIN Kudus)