Showing posts with label INSPIRASI DAN MOTIVASI. Show all posts
Showing posts with label INSPIRASI DAN MOTIVASI. Show all posts

Sunday, 20 December 2020

Lebih Cerdik Ini Ia 10 Kebiasaan Efektif Bangsa Jepang Sehingga Negara Mereka Maju Pesat

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Mendengar kata ‘Jepang’ niscaya yang tersirat ialah kemajuan dan ilmu teknologinya yang maju. Walau pada tahun 1945 Jepang hancur lebur oleh kedahsyatan Bom Atom tidak jauh dengan Kemerdekaan Indonesia, Saat ini Jepang sudah menjadi negara yang sangat maju dan canggih.

Keberhasilan Jepang bukan tanpa kerja keras alasannya Jepang di berdiri dengan pondasi yang sangat baik tidak hanya masyarakatnya tapi juga pejabat-pejabat negaranya yang serius untuk mengurus negara.

Berikut ini merupakan cerita dari seorang bloger Indonesia yang bekerja di jepang yang mencatat perihal 10 Kebiasaan Orang Jepang Yang Menjadikan Jepang menjadi Negara yang sangat maju:

1. Budaya Baca

Jangan kaget kalau anda tiba ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik bawah umur maupun remaja sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.

Banyak penerbit yang mulai menciptakan man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, Sekolah Menengah Pertama maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang menciptakan minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku ajaib (bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dsb).

Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku ajaib sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan dan terus berkembang hingga jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa ahad semenjak buku asingnya diterbitkan.

Lihat ulasan mengenai kebiasaan membaca masyarakat Jepang diawali dari sekolah pada links artikel berikut.

2. Malu

Malu ialah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual semenjak kala samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat persoalan korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin ialah bawah umur SD, Sekolah Menengah Pertama yang kadang bunuh diri, alasannya nilainya buruk atau tidak naik kelas.

Karena aib jugalah, orang Jepang lebih senang menentukan jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Mereka aib terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi janji umum.

3. Hidup Hemat

Orang Jepang mempunyai semangat hidup irit dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam aneka macam bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30.
Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga hingga separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00.

4. Loyalitas

Loyalitas menciptakan sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan hingga pensiun.

Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau mendapatkan fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan.

5. Inovasi

Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca cerita Akio Morita yang menyebarkan Sony Walkman yang melegenda itu.

Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil menyebarkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun ialah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk.

Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa menyebarkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah.

6. Pantang Menyerah

Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua saluran ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat menyesuaikan diri dan menjadi fast-learner.

Kemiskinan sumber daya alam juga tidak menciptakan Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia.

Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita Rentetan tragedi terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo . Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen) .

Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih bisa merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di kala kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika memperlihatkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke aneka macam negara lain. Tapi karenanya melegenda dengan Sony Walkman-nya.

Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus berguru dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh perihal ini.

7. Kerja Keras

Sudah menjadi belakang layar umum bahwa bangsa Jepang ialah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang ialah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).

Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah kendaraan beroda empat dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk menciptakan kendaraan beroda empat yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melaksanakan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat ialah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan mengambarkan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.

8. Kerjasama Kelompok

Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga menyerupai itu, mengerjakan kiprah mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang.

Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.

Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” ialah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.

9. Mandiri

Sejak usia dini bawah umur dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak Orang Indonesia yang bekerja di Jepang yang paling gede sempat mencicipi masuk Taman Kanak-kanak (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya.

Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas Sekolah Menengan Atas dan masuk dingklik kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang bau tanah yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.

10. Jaga Tradisi & Menghormati Orang Tua

Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak menciptakan bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya wanita yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup hingga ketika ini.

Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.

Sampai ketika ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila menerima tawaran dari orang lain. Kaprikornus kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang alasannya “hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang.

Persaingan keras alasannya masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Referensi artikel : 10 Kebiasaan Baik Orang Jepang yang Membuat Mereka Maju – 101jakfm.com

Saturday, 19 December 2020

Lebih Cendekia Kebiasaan Membaca Orang Jepang Diawali Dari Sekolah – Seluruh Akseptor Latih Wajib Membaca Selama 10 Menit Sebelum Kbm

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Faktor utama kemajuan suatu bangsa salah satunya ditentukan oleh kebiasaan kasatmata dari masyarakat yang menjadi bab dari bangsa itu sendiri.

Salah misalnya yakni negera Jepang dimana di sana perpustakaan menjadi jaminan pendidikan di Jepang untuk memajukan generasi muda. Makanya, perpustakaan dengan koleksi komplet menjadi andalan bagi sekolah-sekolah di Jepang untuk menggaet calon-calon siswa.

"Perpustakaan yakni salah satu ciri sekolah di Jepang," tutur School System Coordinator untuk Hikari Japanese School, Wiginy Kusliawan, di Jakarta pada Senin (2/3/2015).

Media massa di Tokyo, Jepang, Yoshiko Shimbun, dalam wartanya beberapa waktu silam menawarkan bahwa kebiasaan membaca di Jepang berawal dari sekolah

Sebelum memulai pelajaran, guru mewajibkan siswa membaca selama sepuluh menit. Menariknya, kebiasaan ini berlangsung lebih dari 30 tahun.

Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama belum dewasa sekolah dasar diwajibkan membaca buku apa pun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah.

Bisa dibilang, Jepang merupakan macan Asia, di mana segala kemajuan, mulai dari kemajuan perekonomian sampai teknologi, berjalan sangat pesat. Pada dasarnya, kemajuan yang dicapai Jepang pada dikala ini merupakan buah dari kerja keras pemerintah Jepang untuk membangun budaya literasi yang dimulai semenjak dari dingklik sekolah dasar.

Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melaksanakan acara berguru mengajar di sekolah.

Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun. Para andal pendidikan Jepang mengakui bahwa pola kebiasaan yang diterapkan ini terlalu bersifat behavioristik, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun, penyesuaian yang dilakukan dari tingkat sekolah dasar dinilai cukup efektif, alasannya dilakukan pada belum dewasa semenjak usia dini.

Awalnya, ibarat yang disebutkan harian tersebut, pelaksanaan regulasi tersebut memang sulit dilakukan, mengingat para murid mempunyai latar belakang keluarga dan lingkungan yang berbeda. Namun, alasannya pola pendidikan di Jepang didesain sedemikian sehingga berkesinambungan dengan pola pendidikan di rumah, sehingga dalam pelaksanaannya, orangtua juga proaktif membuatkan kebiasaan baca di sekolah.

Jam masuk sekolah di Jepang dimulai pada pukul 07.00 waktu setempat. Tetapi gerbang sekolah mulai ditutup 15 menit sebelum pelajaran formal dimulai. Pada jam inilah biasanya peraturan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, pada lima belas menit pertama belum dewasa sekolah dasar diwajibakan membaca buku apapun yang dipilihnya dari perpustakaan sekolah.


Tidak hanya itu, pola pendidikan di Jepang juga dibentuk untuk mendorong siswa supaya aktif membaca, ibarat mempresentasikan karya sastra klasik, menciptakan kelompok story telling menurut buku yang telah dibacanya untuk acara amal yang berlangsung pada simpulan tahun pelajaran.

Saat ini peraturan ini memang tak seketat ketika pertama kali diterapkan. Banyak sekolah yang tidak menyebutkan peraturan tersebut secara tertulis. Namun demikian, budaya baca yang telah tertanam pada pelajar di Jepang rupanya menciptakan siswa-siswa ini secara sadar dan sanggup berdiri diatas kaki sendiri membuka ruang-ruang diskusi ilmiah informal di luar jam pelajaran mereka, dengan salah satu agendanya yakni membahas banyak buku-buku yang tengah terbit ataupun fenomenal.

Referensi artikel :

Wednesday, 16 December 2020

Lebih Berakal Perilaku Guru Yang Profesional Dalam Kehidupan Sehari-Hari, Di Lingkungan Sekolah, Dan Masyarakat

Sahabat Edukasi…

Membicarakan guru selalu menarik, alasannya banyak aspek yang sanggup dibahas. Pada kesempatan kali ini, kita menguliknya dari aspek profesionalitas guru.

Ada pendapat yang mengaitkan profesionalitas guru dengan kesejahteraan dan kompetensi.

Kesejahteraan dan kompetensi guru menyerupai sebuah mata uang dengan dua sisi yang berbeda tapi menyatu, tidak sanggup dipisahkan satu sisi dengan sisi lainnya.

Maka, peningkatkan kesejahteraan sebaiknya diikuti dengan peningkatan kompetensi, sedangkan kompetensi akan melahirkan perilaku profesional. Hal sanada pernah disampaikan oleh  Wapres RI, Jusuf Kalla. 

Sebagaimana diberitakan, pada kesempatan menghadiri peringatan Hari Guru Nasional 2014 di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (27/11), Jusuf Kalla menyatakan bahwa meningkatkan kesejahteraan guru harus diikuti dengan peningkatan kualitas guru.

Seorang guru dihentikan berhenti mencar ilmu alasannya ilmu berkembang dengan sangat cepat. Selain harus mengajar dengan cara yang baik dan menyenangkan, guru juga harus menjadi pembelajar yang baik dan mencar ilmu terus menerus. Misalnya dengan rajin mengikuti penataran dan banyak membaca dari banyak sekali sumber.

Anjuran Jusuf Kalla demikian itu mengatakan bahwa guru harus bersikap profesional dengan melaksanakan kebiasaan yang sanggup meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Hanya saja, sebagian besar guru beranggapan, kesejahteraan merupakan bab dari profesionalitasnya. Jadi, profesionalitas bukan hanya diukur dari kompetensi semata.

Guru dinilai kurang bersemangat kalau peningkatan kompetensi tanpa disertai peningkatan kesejahteraan. Bahkan sanggup jadi guru mencari perhiasan dengan menjalankan profesi lainnya untuk menutupi kebutuhan hidupnya, mirip menjadi tukang ojek misalnya. Tentu saja, hal ini akan sanggup mengganggu konsentrasi guru dalam menjalankan kewajibannya di depan kelas, di hadapan akseptor didik.

Sebaliknya, meningkatkan kesejahteraan saja tanpa disertai dengan peningkatkan kompetensi guru, tidak akan menyebabkan guru  lebih kreatif daripada sebelumnya. Padahal kreativitas sangat diperlukan dalam sebuah pembelajaran, semoga akseptor didik istiqomah dalam mengikuti proses mencar ilmu dan lebih gampang dalam menangkap bahan pembelajaran. Tanpa ada kreativitas, proses pembelajaran akan terasa membosankan bagi akseptor didik.

Sebenarnya, semenjak Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 wacana Sistem Pendidikan Nasional diundangkan, guru di manapun berada ialah seorang profesional. Selain mempunyai keahlian khusus di bidangnya, guru selalu dituntut bersikap lebih mengutamakan untuk terlibat secara aktif dalam upaya mencerdaskan bangsa. Artinya, menempatkan hal-hal di luar urusan pembelajaran, contohnya kenaikkan gaji/tunjangan, pada urutan yang kesekian. Bukan pada urutan yang pertama.

Begitu pula dengan upaya menambah ilmu untuk meningkatkan kompetensinya, sudah menjadi hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru profesional. Menambah ilmu ialah bab dari profesionalitas itu sendiri.

Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 itu disebutkan, pendidik merupakan tenaga profesional. Penempatan kedudukan pendidik/guru sebagai tenaga profesional bertujuan meningkatkan martabat guru serta kiprahnya sebagai biro pembelajaran dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Pendidikan nasional itu sendiri bertujuan membuatkan potensi akseptor didik menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Mengaca pada UU tersebut, masyarakat menempatkan guru pada posisi sangat strategis dalam membangun generasi muda penerus bangsa. Guru berperan  dalam setiap upaya peningkatan mutu, serta efektivitas dan efisiensi pendidikan. Maka, peningkatan dan pengembangan aspek kompetensi profesional guru merupakan kebutuhan dasar bagi pendidikan.

Telah banyak bukti yang dikemukakan bahwa pendidikan, di dalamnya termasuk pengajaran, mengalami kemajuan berkat kepiawan guru dalam menerapkan kompetensi standar yang dimilikinya, termasuk kompetensi profesional.

Tidak berlebihan kalau kita berharap, semua guru bersikap profesional dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat. (*)

Referensi artikel : Kita Berharap, Semua Guru Bersikap Profesional – Kemdikbud.go.id

Sunday, 15 November 2020

Lebih Cerdik Pengalaman Ialah Guru Terbaik Kehidupan

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Setahu aku orang yang maju itu yaitu orang yang selalu bergerak, orang yang selalu aktif, dan selalu punya inisiatif. 

Banyak hal yang sebelumnya tidak seseorang ketahui, namun sebab ada keberanian untuk mau mencoba melaksanakan dengan serius yakni “bekerja sambil belajar”. Maka bertahap akan biasa dan jadinya menjadi bisa.

Bisa sebab sudah terbiasa, bisa sebab sering mengampu, dan hebat sebab sering terlibat menjadi kunci dari sebuah pengalaman.

Banyak andal dalam suatu bidang disebut berpengalaman bukan sebab tinggi ijazah ataupun pendidikannya, akan tetapi dari track record (rekam jejak) mereka di mana mereka mengalami sendiri dengan intensif proses demi proses, detil demi detil mulai dari yang kecil hingga yang terbesar, dan dari awal hingga akhir.

Kita pun demikian pula, di kala kesibukan yang cukup padat, di sela-sela kiprah yang tak lagi sempat bermain-main dengan hobi. Di ketika itulah kesempatan untuk menambah pengalaman gres sedang terbuka.

Dan tentunya dikarenakan kita mendapatkan beberapa kiprah dari pimpinan dalam suatu lingkungan kerja, maka fisik kita pun akan kurang istirahat, namun dengan inilah memang kita akan menjadi orang yang berpengalaman bukan hanya dalam 1 bidang tertentu, namun pastinya juga semakin bertambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman serta lambat laun semakin bertambah pula kedewasaan.

Sampai pada saatnya kelak, bila kita diamanatkan menjadi seorang pemimpin, maka kita pun bisa menampilkan jiwa kepemimpinan yang jempolan sebab mempunyai kompetensi dan juga wawasan yang tak lagi dipertanyakan sekaligus mempunyai jiwa kebijaksanaan.

Maka, banyak kerja banyak tahu, banyak tahu, banyak ilmu, dan banyak ilmu semakin maju. Hal ini tentu dalam hal-hal yang aktual dan konstruktif. 

Dan benarlah kiranya kalimat bijak “Guru terbaik yaitu Pengalaman”. Selamat berkarya Sahabat…! Semoga sukses selalu… …!

Saturday, 14 November 2020

Lebih Berakal Hidup Tanpa Kesedihan, Kebahagiaan Tiada Berarti

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dalam kehidupan ini, keadaan senang sedih silih berganti, tetaplah tegar dalam menghadapi apapun dilema hidup. 

Jangan menyerah, jangan juga jengah, proses akan terus berjalan, asalkan menetapkan tujuan pada kebaikan dan kebenaran, petunjuk Tuhan niscaya khan datang…

Jika ketika ini, Anda sedang bersedih, itu wajar, alasannya yaitu fungsi hati salah satunya memang untuk mencicipi sedih, maka biarkan rasa sedih itu melintas di relung hati untuk membersihkan noda-noda di hati, hingga tiba saatnya hati khan kembali bersinar dan berbahagia…

Jangan hingga mengalah di tengah-tengah perjuangan, jikalau mundur maka langkah pun kembali dari awal. Lanjutkan dan terus lanjutkan kaki melangkah dan pasrahkan kepada Tuhan apapun yang terjadi. Hidup tanpa kesedihan, kebahagiaan tiada berarti.

Mungkin dirasa usaha sudah mati-matian (bukan mati beneran khan..? J), masih ada kesempatan di depan. Sadari bahwasannya setiap kegagalan itu niscaya membuahkan pengalaman dam setiap kesulitan itu membuahkan pelajaran.

Ingat…! Berapa banyak penyesalan yang tiba alasannya yaitu harus memulai dari permulaan, frustasi yang terang berakhir sia-sia atau bahkan lebih nestapa.

Jadilah pemenang dari kehidupan Anda sendiri, pemenang tidak harus menang, menang, dan menang tapi pemenang sejati yaitu beliau yang bisa mengendalikan diri untuk tetap hening di segala keadaan.

Semoga segera mendapat jalan menuju realisasi pada setiap tujuan yang penuh kemanfaatan serta keberkahan hidup. Aamiin… …!

Friday, 13 November 2020

Lebih Bakir Bertahap Lama-Lama Menjadi Bukit

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Sedikit Demi Sedikit Lama Lama Menjadi Bukit, itulah peribahasa yang sudah tak abnormal lagi bagi kita bukan…? Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini. Semua hasil melalui prosesnya masing-masing. 

Mekanisme alam pun bekerja menurut aturan alam ini yang sudah ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. 

Lihat artikel berikut ==> Bagaimana Hukum Alam Bekerja..?

Tak terkecuali alam semesta ini pun diciptakan-Nya melalui proses yang memerlukan waktu yang telah ditentukan dan ditetapkan-Nya, namun juga bukan berarti Ia tak bisa membuat secara instan.

Akan tetapi pelajaran besar kepada kita bahwasannya Tuhan pun membuat segala sesuatu dengan waktu-waktu tertentu menurut kehendak-Nya, sehingga pelajaran yang sanggup kita petik yakni mengenai perjalanan waktu demi waktu yang terus melaju ini merupakan konskuensi serta kelanjutan dari waktu-waktu sebelumnya.

Alhasil antara masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yakni rangkaian proses yang saling terkait dan saling menghipnotis baik aktual maupun negatifnya.

Jika memang hidup ini yakni pilihan, sempurna kiranya pilihan kita yakni menentukan jalan yang baik, di mana jalan yang baik dalam proses kehidupan ini pastinya akan menuju pada kebaikan dan kebahagiaan yang sebenar-benarnya.

Dalam beberapa sesi kehidupan pun, kita dituntut mempunyai pemahaman yang komprehensif akan arti daripada proses demi proses yang harus dilewati dengan penuh kerja keras dan kerja cerdas yang disertai dengan permohonan / do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta mempersiapkan mental siap dalam mendapatkan apapun hasil kesannya nanti.

Dan pada pada dasarnya untuk mendapatkan sukses itu seseorang harus melewati proses yang benar, menyerupai halnya “Salah jalan yang ditempuh tak akan hingga pada tujuan”. Oleh alasannya itu, betapa pentingnya tujuan dalam suatu hidup ini sebagai suatu pilihan yang telah ditetapkan dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Untuk menjadi cendekia dibutuhkan proses berguru (membaca, menulis, berhitung) intensif dan berkelanjutan, mau bertanya, mau dikritik, dan sebagainya yakni prosesnya. Untuk menjadi kaya, bekerja dan memanajemen finansial dengan baik yakni prosesnya, dan lain sebagainya.

Proses itu menyerupai menabung uang, di mana sedikit demi-sedikit akan menjadi bukit, alasannya secara kongkrit, bukitpun merupakan tumpukan batu-batu kecil, tanah / pasir-pasir kecil, tumbuhan-tumbuhan kecil yang sama dengan yang ada di kawasan lainnya, yang membedakannya alasannya di sana batu, tanah, tumbuhan, dan lain-lain itu menyatu menjadi satu, terakumulasi, dan saling terintegrasi antara satu elemen dengan yang lainnya sehingga sanggup disebut dengan bukit.

Sahabat..! Mari terus memutuskan niat yang baik, proses yang baik, pembelajaran yang tiada henti, kerja keras, kerja cerdas yang dilandasi dengan kesabaran, konsistensi, komitmen, dan persistensi (keseriusan).

Prosesnya memang tidak sebentar Sobat…! Perlu waktu untuk melaksanakan secara tuntas proses demi prosesnya, tahap demi tahapnya, hingga satu paket hasil dari daya dan upaya kita itu telah memenuhi syarat untuk pencapaian suatu tujuan.

Insya Allaah apapun tujuan (goal) kita nantinya akan sanggup tercapai dan terlaksana (terwujud) atau bahkan lebih baik lagi dari asumsi kita alasannya Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang pada hamba-Nya. Semoga sukses dan senang selalu… …!

Thursday, 5 November 2020

Lebih Berakal Ini Dia...! Manfaat Aktual Di Ketika Hidup Sendiri

Sahabat Maya Yang Berbahagia…

Seringkali kesendirian menjadi suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan bagi seseorang. 

Sehingga ketika kesendirian terjadi maka ia akan berusaha mencari teman dan ini tentu saja manusiawi alasannya yaitu memang intinya insan itu tidak sanggup hidup sendiri tanpa pemberian yang lainnya (hidup bersosial).

Namun di sini saya tidak mengulas wacana hal tersebut di atas, akan tetapi saya akan mencoba menguraikan manfaat konkret (hikmah) ketika seseorang mengalami keadaan hidup yang sendiri. 

Pernahkan Anda mendengar sebuah kata bijak “Menyendiri yaitu sekolahnya jenius”…? Jika belum, silahkan disimak beberapa manfaat ketika hidup sendiri, ibarat uraian berikut ini :

1. Meningkatkan Kesadaran dan Evaluasi Diri

Saat menyendiri, seringkali saya ingat akan apa yang sudah saya lakukan sebelumnya, mulai dari apa yang sudah saya tuliskan, ucapkan, sampai perilaku yang sudah dilakukan. Sehingga merasa bersalah ketika itu, pikiran dan hati pun lebih akur dalam memutuskan apa yang nantinya sanggup kita lakukan lebih baik ke depannya. Sehingga kesalahan yang sama tidak terulang kembali.

2. Mempertajam Inspirasi dan Imajinasi.

Kalau jaman dulu sering kudengar, dengan bertapa orang akan sakti, dengan menyendiri di suatu daerah seseorang akan mendapat sesuatu bisikan ghaib dan lain-lain. Intinya menyendiri ini menjadi kunci dalam mendapat ide yang pure (asli) dan juga menunjukkan ruang dan kesempatan yang luas bagi imajinasi kita untuk membuatkan ide tersebut.

3. Lebih Fokus Dalam Berpikir dan Merasa.

Ketika menyendiri, otomatis pikiran dan hati kita benar-benar mempunyai kesempatan yang cukup optimal dalam menjalankan kiprah dan fungsinya masing-masing. Pikiran untuk berpikir dan hati untuk merasa. Maka patutlah ketika menyendiri keputusan yang diambil lebih baik dan objektif. Akan tetapi ini juga ditentukan seberapa banyak ilmu yang sudah berhasil kita tahu, wawasan dan pengalaman dari masing-masing individu tentunya.

4. Meningkatkan Produktivitas Berkelas.

Banyak para penemu berkelas dunia diawali dari menyendiri di kamar bahkan menyendiri di dalam hutan… J. Tapi yang mereka lakukan bukanlah menyendiri alasannya yaitu putus asa akan tetapi sebaliknya, mereka menyendiri untuk terus menggali dan membuatkan seluruh potensi diri sehingga mereka sanggup melahirkan sesuatu yang berkhasiat bagi sesamanya.

Di jaman kinipun cara ini masih cukup efektif bagi setiap orang yang ingin membuatkan sesuatu yang lain daripada yang lain (unik) dan pastinya berkelas nantinya. Dan tentu saja, apabila produktifitas itu nantinya bukan hanya menguntungkan diri-sendiri akan tetapi juga bermanfaat bagi sesama.

Demikian beberapa uraian wacana manfaat konkret ketika kesendirian terjadi pada hidup kita. Semoga bermanfaat dan terimakasih… Sampai berjumpa pada kesempatan berikutnya Saudara/iku…!

Wednesday, 7 October 2020

Lebih Cendekia Hidup Yaitu Proses Pembelajaran Yang Tiada Henti

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dalam setiap perjalanan dalam kehidupan dunia ini, proses demi proses dalam setiap harinya kita lewati, di sana ada proses mencar ilmu yang terus-menerus, di pengujung setiap proses ada yang masih perlu diperbaiki, ada yang berhasil, hingga ada yang gagal.

Dan tentunya dengan disikapi dengan proses hidup yaitu pembelajaran yang tiada pernah berakhir, maka dalam setiap kegagalan dalam suatu perjuangan yang kita alami tak akan begitu terasa menyakitkan. Karena di sana kita temui hal-hal apa saja yang perlu kita perbaiki, atau bahkan kita rombak secara total atau mengawali dari permulaan tentunya dengan cara yang berbeda dengan sebelumnya, yakni memakai cara usang yang berhasil dan menghindari cara usang yang salah.

Mari kita ambil pelajaran berharga dari kehidupan yang tidak akan pernah habis ini semampu kita, semampu kita dalam arti seberapa optimal / maksimal daya dan upaya kita yang diiringi dengan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga kita diberikan petunjuk, perlindungan, kekuatan, hingga keberhasilan dan kesuksesan yang membawa berkah.

Mengapa hasil selesai menjadi prioritas? Karena keberkahan tidak memandang berapa jumlah yang didapatkan, berapa besar yang diperoleh, ataupun berapa tinggi prestasi, akan tetapi berkah itu identik dengan kebahagiaan yang berlandaskan kedamaian dan ketenangan dalam hati serta pikiran kita. 

Selain itu, keberkahan juga sanggup dinilai dari adanya kegunaan / manfaat kasatmata bagi sesama. Dan kalau pun belum bisa memberi manfaat, setidaknya jangan hingga merugikan sesama dalam hal apapun.

Secara mental, kendali emosi pun tak kalah pentingnya, bahkan ada kalimat bijak menyampaikan “Kemarahan yang tidak pada tempatnya sebagai bukti adanya kekalahan diri yakni tidak bisa mengendalikan diri-sendiri”.

Belajar tidak memandang usia, jabatan, latar belakang, atapun status sosial lainnya. Kehidupan merupakan sebuah wahana pembelajaran yang setiap dikala selalu terhampar di depan kita kapanpun dan di manapun kita berada. Namun untuk menangkap setiap pelajaran berharga dari alam semesta ini, hendaknya kita selalu membuka pikiran dan hati kita untuk tidak merasa paling pintar, paling hebat, paling kuat, dan sebagainya.

Selain itu, orang-orang secara yang secara sadar selalu mau mengevaluasi diri dalam setiap proses kehidupan, maka dia akan selalu disibukkan dengan perbaikan dan perbaikan diri yang terus-menerus.

Selanjutnya, dalam menyikapi semua kelebihan hanyalah titipan dan tentunya yaitu ujian yang suatu dikala nanti apapun kesannya menjadi tanggung jawab kita sendiri. Maka tetap lakukan yang terbaik walaupun berada dalam situasi sulit, alasannya yaitu menyesal selalu tiba belakangan di mana roda waktu tak akan sanggup dikembalikan lagi.

Semoga kita semua tergolong manusia-manusia yang mawas diri serta selalu bisa mengendalikan diri dalam situasi apapun. Dengan begitu, pembelajaran dari proses demi proses kehidupan ini pun akan terus mengalir tanpa menjadi beban akan tetapi telah bermetamorfosis menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan hingga di ujung kehidupan. Semoga bermanfaat dan terimakasih… …!

Tuesday, 25 August 2020

Lebih Bakir Pentingnya Memperhatikan Kualitas Pada Setiap Aktivitas

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Apapun kegiatan ataupun aktifitas yang sedang dilakukan hendaknya merupakan sesuatu yang tidak sia-sia belaka. Hal ini amat sangat penting sekali kita perhatikan, alasannya yakni dalam setiap kegiatan tentu saya menyita waktu, energi, maupun sumber daya yang lainnya.

Walaupun memang tidak ada insan yang tepat dalam kenyataannya. Namun, justru alasannya yakni insan memang jauh dari kesempurnaan inilah, maka perjuangan kita untuk menghasilkan sesuatu hasil kinerja ataupun karya harus seoptimal ataupun semaksimal mungkin.

Berikut beberapa tips supaya setiap kegiatan yang dilakukan benar-benar mempunyai kualitas :

1.  Lakukan sesuatu pekerjaan yang sanggup diselesaikan ketika itu, maka tuntaskan pada ketika itu juga alasannya yakni sehabis pekerjaan tersebut sanggup dipastikan akan ada pekerjaan yang gres lagi.

2.   Jika sanggup dipelajari segera, cepat ambil tindakan dalam memahami sistem dan prosedur dari sesuatu yang menjadi materi pembelajaran yang sudah tersedia. Dengan begitu pengembangan diri akan lebih cepat dan lebih baik.

3.   Tidak menunda-nunda apapun yang sanggup dilakukan pada suatu waktu.

4. Orientasi pada hasil bukan untuk sementara akan tetapi hasil yang berkelanjutan.

5.  Berpikir lebih terbuka dan siaplah untuk terus berguru dalam rangka meningkatkan SDM diri baik dalam pelaksanaan kiprah maupun pekerjaan, sampai dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Dengan begitu kualitas hasil dari setiap hal yang kita lakukan akan terus mengalami peningkatan kualitas ke depannya.

6.  Selalu positif dalam berpikir dan merasa, menyerupai halnya memandang sebuah kegagalan bukan sebagai alasan untuk berputus asa, namun justru dari kegagalan inilah berarti kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas sedang terbuka.

Selanjutnya apapun yang kita lakukan bila tidak dibarengi dengan keseriusan, maka tak akan menghasilkan suatu kinerja ataupun karya yang berkualitas. Jangankan kita, seseorang yang berprofesi sebagai pelawak / pelawak pun serius dalam setiap penampilannya, dan performa tersebut tampil juga dengan sebuah persiapan yang matang tentunya bukan…?

Pada akhirnya, sebagai apapun kita, selama orientasinya yakni dalam kebaikan, kemanfaatan, serta dedikasi insya Allaah suatu kelak kita akan mencicipi hasil akhirnya. Hal ini penting dikarenakan sumber daya yang sama sekali tidak sanggup kita kendalikan yakni waktu, bahkan waktu (kesempatan) yakni sumber daya yang paling langka, alasannya yakni ia terus berjalan dan tentunya tak sanggup dikembalikan. 

Oleh alasannya yakni itu, pilihan yang terbaik yakni mengisi seluruh kegiatan dari waktu ke waktu itu tidak sia-sia, ada hasilnya, ada pelajarannya, dan tentunya menguntungkan.

Terlebih lagi di kala globalisasi di mana konsekuensinya yakni adanya persaingan hampir di setiap bidang kehidupan yang semakin terbuka sampai pada skala dunia / internasional, maka menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas tak sanggup ditawar lagi bila ingin mendapat sesuatu yang lebih berarti.

Maka seberapa besar fokus dan perhatian kita dalam melaksanakan suatu aktivitas, maka sebesar itu pula raihan kualitas yang akan di sanggup dan pada hasilnya akan secara otomatis membentuk gambaran diri, kompetensi, sampai kebiasaan tersebut akan membentuk manusia-manusia yang benar-benar berkualitas. …!

Lebih Pintar Kebiasaan Membaca Sanggup Meningkatkan Kemampuan Bicara, Menulis, Dan Karier Pekerjaan / Profesi

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Menulis ataupun berbicara itu jikalau dianalogikan dengan sebuah air yang dituangkan dari sebuah botol ke dalam gelas. Dan tentunya apapun yang dituangkan tergantung air apa yang telah dimasukkan ke dalam botol itu.

Dan ini berarti apapun yang sanggup kita tulis dan kita ungkapkan dengan kata-kata tentu merupakan inti sari / hasil dari apapun yang telah kita pahami dari proses membaca sebelumnya, dan secara umum membaca tidak hanya pada sebuah buku. Akan tetapi dengan melihat, mendengar, kemudian memperhatikan dengan segenap pikiran sehingga sanggup tersimpan berpengaruh ilmu-ilmu yang terkandung di dalam obyek yang menjadi fokus bacaan tersebut.

Membaca berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis baik dengan melisankan (melafalkan dengan suara) ataupun hanya di dalam hati, akan tetapi pikiran tetap bekerja dalam memperhitungkan hingga dengan memahami apa yang sedang dibacanya itu.

Sehingga kebiasaan membaca ini secara umum telah terbukti melahirkan manusia-manusia yang berkualitas dalam banyak sekali bidang, mereka cenderung mempunyai kemampuan lebih salah satunya yaitu para penulis, motivator, narasumber, personalia, dan profesional di bidang lainnya. Dan tentu saja yang dikala ini masih menjadi orang biasa, dikarenakan adanya kemauan berguru dan membaca yang tinggi, kemungkinan besar, mereka inilah yang akan menggantikan posisi-posisi sang mahir dikala ini.

Walaupun penulis fiksi pun, dipastikan mempunyai pengalaman yang tidak sebentar dalam membaca, setidaknya untuk membaca kamus bahasa ataupun mempelajari tata bahasa maupun tata penulisan yang benar pada waktu-waktu sebelum berkarya.

Terlebih dalam dunia pendidikan, yang mana membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang penerima didik, selain kemampuan menghitung, menulis, hingga dengan menganalisa sesuatu tema pembelajaran.


Maka tak pelak, seluruh elemen dalam dunia pendidikan mulai dari penerima didik hingga dengan pendidiknya pun dituntut untuk selalu membuatkan dirinya salah satunya yaitu dengan terus meningkatkan acara membaca di sela-sela mengisi waktu yang kosong, dan untuk selanjutnya akan bermetamorfosis menjadi sebuah kebiasaan yang sangat membangun bukan hanya untuk langsung akan tetapi juga bangsa dan negara ke depannya. Hal ini sudah terbukti di negara-negara maju di dunia ini, salah satunya yaitu Jepang.

Selain itu, bagi para profesional di banyak sekali bidang, dengan mempunyai wawasan yang luas dari kebiasaan membaca, tentu saja akan meningkatkan kapasitas dan kompetensi di bidangnya, dan pada hasilnya potensi kasatmata ini akan sangat mendukung dalam kesuksesan kariernya.

Yang terpenting juga apa yang dibaca juga harus dipertimbangkan seoptimal mungkin, biar kiranya apapun yang sudah kita baca, dipelajari, dipahami, hingga pada hasilnya diterapkan baik untuk berkarya maupun untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari bermanfaat dan berkah bagi kita dan sekitar kita dalam turut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia tercinta. …!

Lebih Terpelajar Selalu Jadikan Nilai Kebaikan Menjadi Prioritas Dalam Hidup

Sahabat Edukasi yang sedang berbahagia...

Dalam proses kehidupan yang relatif singkat ini, tentu saja kita sangat mengharapkan pada kehidupan kita masing-masing menjadi sebuah kesempatan untuk sanggup hidup sebahagia mungkin. 

Untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut tentu dibutuhkan beberapa pencapaian ataupun syarat-syarat yang juga relatif berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Jika bagi siswa, naik kelas, lulus, hingga sanggup melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi terlebih di sekolah maupun forum yang telah menjadi favoritnya sebelumnya, tentu saja akan berbeda dengan yang sudah berkeluarga di mana kebahagiaan seringkali identik dengan tercukupinya seluruh kebutuhan primer dalam melangsungkan kehidupan keluarganya.

Pada setiap proses dalam rangka pencapaian tujuan yang hendak dicapai ternyata memang seringkali terdapat beberapa halang rintang, kerikil sandungan, atau bahkan jurang pemisah terjal yang mau tidak mau harus dilewati untuk mencapai tujuan yang diidamkannya. 

Namun di sini diharapkan langkah-langkah bijak, di mana setiap perjuangan harus dilandasi dengan keberanian bukannya kenekatan semata.


Selain itu, ada aturan-aturan baku yang tidak sanggup ditempuh dengan jalan pintas yang tidak dibenarkan, di mana hal ini sangat berkaitan dengan prosedur alam semesta ini bekerja. Untuk akil ataupun mahir dalam suatu bidang maka diharapkan perjuangan maksimal dalam belajar, mencoba, dan terus berlatih. Tak terkecuali untuk cukup secara ekonomi pun diharapkan kerja keras serta kerja cerdas, ulet, rajin, pantang menyerah, dan sebagainya.

Namun yang terpenting sesungguhnya ialah nilainya, di mana nilai sebuah perjuangan akan sangat memilih hasil serta manfaat positif lainnya. Dan ini tidak akan pernah tergantikan dengan jalan pintas. Kebaikan ialah nilai paling berharga dalam kehidupan alasannya di dalamnya tidak pernah menjanjikan kerugian, ibarat halnya pedagang yang jujur dalam usahanya ternyata ditipu oleh partnernya, ia masih mendapatkan kebaikan dari Tuhan dengan dikaruniakannya nikmat tulus dan sabar.

Lain halnya dengan cara-cara yang tidak bijak, cara pintas, cara cepat, membabi buta, bahkan tak beretika, kalau pun sukses sifatnya pun semu belaka (menipu). Semuanya sementara, semuanya sesaat, dan tak ada yang awet kecuali Tuhan Yang Maha Pencipta itu sendiri. Oleh alasannya itu janji-Nya ialah kebaikan akan dibalas dengan kebaikan bahkan sekecil apapun kebaikan itu, dan sebaliknya, keburukan niscaya akan dibalas juga dengan keburukan walau sekecil apapun juga.

Maka langkah bijak bagi insan yang jauh dari tepat ialah mendapatkan segala hal dengan berpikir sekaligus berprasangka baik kepada Tuhan, tidak merugikan sesama, serta tetap berusaha, belajar, beramal, serta beribadah maksimal dengan segala daya dan upaya yang ada dengan tetap mengedepankan kebaikan itu sendiri, baik dari niatnya hingga dengan proses usahanya. Maka gagal ataupun berhasil itu tak penting lagi, yang terpenting ialah kesuksesan dalam menjaga nilai-nilai kebaikan secara sadar, dan nilai kebaikan itu sendiri telah menjadi investasi berharga untuk masa depan.

Dan keberuntungan di masanya nanti pun akan menjadi hak dari seluruh insan yang bergelimang kebaikan sebagai buah dari setiap tanaman-tanaman yang telah ia tanam dan pelihara sedari dulunya. Aamiin… ...!

Lebih Cendekia Keberuntungan Ialah Pertemuan Antara Persiapan Dan Kesempatan

Sahabat Edukasi yang berbahagia…

Dalam kesempatan kali ini saya akan mencoba memaparkan ihwal kata bijak dari Elmer Leterman yang berbunyi “Luck is what happens when preparation meets opportunity” (Keberuntungan yaitu pertemuan antara persiapan dengan kesempatan (peluang).

Masih ingat betul, saya mendapati membaca kalimat ini sekitar tahun 2006 lampau, sontak menciptakan kesadaran saya untuk mengevaluasi segala hal yang ada pada diri ini, mulai dari apa yang sudah saya persiapkan untuk sukses, apa yang sudah dapat, apa yang belum bisa dicapai, sampai apa-apa yang kurang semakin intensif. Dan jawabannya saya waktu itu sangat jelas, saya masih belum banyak bekal artinya saya minim persiapan untuk meraih kualitas hidup yang sudah terlanjur diinginkan.

Dan mulai ketika itu, kebiasaan membaca saya semakin menjadi. Yang biasanya membaca buku setebal kurang lebih 200-an halaman diharapkan waktu sekitar 3 minggu, mulai ketika itupun dalam 3 hari seringkali saya berhasil membaca lebih dari 3 jilid buku yang relatif tebal. 

Buku-buku yang saya secara umum dikuasai buku ihwal agama dan pengembangan diri. Dan kebiasaan inipun berlangsung kurang lebih selama 6 bulan sampai saya harus pergi merantau dalam rangka memperbaiki kualitas hidup itu sendiri, dan khusus merantau ini memang sudah jalan hidup saya tentunya… J

Kembali ke tema Sabahat… Terkait dengan mengapa Keberuntungan = Persiapan + Kesempatan kebetulan insiden kasatmata sudah saya alami sendiri, yakni pada final tahun 2007, kebetulan ada teman dari ayah saya yang mengatakan beberapa pekerjaan kepada saya di dunia kerja yang sebetulnya cukup menjanjikan. Akan tetapi, salah satu syarat untuk sanggup diterima dalam bidang pekerjaan ketika itu, pelamar harus menguasai beberapa kegiatan komputer, dan jawabannya saya belum bisa memenuhi persyaratan tersebut. Lalu saya pun menyimpulkan alasannya yaitu saya belum mempunyai persiapan (skill komputer), maka kesempatan yang sudah ada di depan mata pun hanya numpang lewat saja... J

Dan tentu dalam berbahagai hal pun, rumus ini pastinya berlaku di mana sesuatu yang sudah dipersiapkan adakalanya untuk sementara memang tidak berguna, akan tetapi pada suatu ketika, ketika ada kesempatan (peluang) maka yang paling siap dipastikan yang paling beruntung. 

Maka, marilah kita perbanyak persiapan-persiapan dalam hidup bukan hanya skill (keterampilan) ataupun wawasan ilmu pengetahuan namun juga teladan pikir yang positif dan huruf baik mulai kita berdiri sedikit demi sedikit, maka seluruh ajaran baik serta perilaku baik dalam hidup yang sudah terbangun tersebut akan sanggup semakin memperkokoh konstruksi hidup kita masa depan yang lebih baik lagi. Aamiin… Semoga bermanfaat dan terimakasih… …!