Showing posts sorted by relevance for query cara-belajar-efektif-persiapan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query cara-belajar-efektif-persiapan. Sort by date Show all posts

Thursday, 10 December 2020

Lebih Arif Cara Berguru Efektif Persiapan Menghadapi Un Tahun 2015

Sahabat Edukasi…

Tinggal beberapa bulan lagi perhelatan akbar dunia pendidikan, ujian nasional (UN) tahun 2015 akan digelar.

Meskipun kini UN tahun 2015 ini tidak lagi menjadi penentu kelulusan, bukan berarti untuk menghadapinya tidak dibutuhkan persiapan.

Berikut beberapa tips mencar ilmu efektif persiapan UN oleh Psikolog, Ayu Windiyaningrum, M.Psi. yang bisa membantu mempersiapkan diri dalam menghadapi UN tahun ini, sebagai berikut :

1.   Ciptakan Suasana Nyaman dan Kondusif Dalam Belajar

Setiap orang mempunyai cara dan kesukaan yang berbeda dalam belajar. Misalnya dengan mendengarkan musik atau lagu yang sesuai dengan mood untuk membangkitkan semangat belajar.

Perpustakaan atau taman sanggup menjadi alternatif pilihan daerah mencar ilmu yang lebih bervariasi sehingga tidak gampang bosan. Belajar dan berdiskusi bersama sobat juga sanggup membantu untuk lebih memahami bahan pelajaran.

2.   Belajar di Waktu Santai

Serius tapi santai! Belajar serius dengan situasi yang santai dan nyaman tentu akan sanggup mengoptimalkan hasil belajar. Belajar juga akan sangat menyenangkan bila dalam kondisi badan yang bugar. Bangun pagi dengan udara yang masih segar, sehingga pelajaran akan terserap lebih baik.

Setiap orang mempunyai waktu mencar ilmu masing-masing. Tapi ingat ya, sistem kebut semalam lebih baik tidak digunakan kalau ingin mendapat hasil maksimal.

3.   Olahraga

Olahraga rutin untuk menjaga stamina badan dan kondisi tetap sehat menjelang ujian. Tidak perlu olahraga berat, menyisihkan waktu 30 menit setiap hari untuk sekadar jalan kaki dan menggerakkan anggota badan lainnya akan mengembalikan energi yang terkuras alasannya belajar.

4.   Buat Catatan Materi yang Sudah Dipelajari

Buat catatan atau ringkasan untuk membantu mengingat bahan yang telah dipelajari. Gunakan tulisan, gambar, atau warna yang menarik. Teknik mindmap juga sanggup digunakan selain untuk mencatat juga untuk untuk membantu dalam memahami materi.

5.   Kenali Kata-kata Kunci

Kenali kata kunci dalam memahami bahan dan membantu mengingat. Misalnya dengan menciptakan kependekan “MEJIKUHIBINIU” untuk warna pelangi yaitu merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila dan ungu. Praktis bukan?

6.   Latih Kemampuan Penyelesaian Soal

Belajar tidak melulu dilakukan dengan menghafal. Untuk mengukur kemampuan kita, salah satunya bisa dengan melatih kemampuan pemecahan dilema melalui soal-soal latihan. Gunakan soal-soal prediksi atau kisi-kisi ujian yang sudah disiapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

7.   Berdoa dan Minta Restu Orang Tua

Selain berusaha dengan belajar, jangan lupa untuk berdoa. Sebelum berangkat ke sekolah jangan lupa pamitan dan minta restu dari orang tua.

8.   Istirahat Yang Cukup

Ingat, otak dan badan perlu istirahat. Jangan alasannya terlalu semangat menghadapi ujian jadi lupa istirahat.

9.   Jaga Asupan Gizi

Selama belajar, badan mengeluarkan energi yang tidak sedikit. Oleh alasannya itu harus diimbangi dengan gizi yang cukup. Makanan bergizi tidak perlu mahal. Yang penting semua zat yang dibutuhkan badan terpenuhi menyerupai : tempe, tahu, ikan, ayam, sayur-sayuran, dan susu.

10.    Catat Jadwal UN dan Datang Lebih Awal

Catat agenda UN dengan baik, jangan hingga lupa hari ujian ataupun salah bahan yang diujikan. Datang lebih awal ke lokasi ujian, jangan hingga terlambat. Datang lebih awal akan menawarkan waktu yang cukup untuk istirahat sebelum memulai ujian.

11.    Berpikiran Positif dan Percaya Diri

UN yaitu pengukur sejauh mana kompetensimu di beberapa mata pelajaran. Belajar dengan baik dan berpikiran konkret terhadap ujian. Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki sehingga tidak perlu menyontek ataupun khawatir dengan ujian yang akan dilakukan.

Demikian tips mencar ilmu efektif untuk lebih mempersiapkan diri jelang pelaksanaan Ujian Nasional Tahun 2015 ini yang admin share dari Tabloid Asah-Asuh Kemdikbud Edisi Khusus UN 2015. Semoga bermanfaat dan terimakasih… …!

Sunday, 13 October 2019

Jadi Pintar Penggunaan Dan Taktik Pembelajaran Ekspositori


Konsep Strategi Pembelajaran Ekspositori. Strategi pembelajaran ekspositori yaitu taktik pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian bahan secara mulut dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud biar siswa sanggup menguasai bahan pelajaran secara optimal.

Strategi pembelajaran ekspositori merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach). Hal ini dikarenakan guru memegang kiprah yang sangat dominan. Guru memberikan bahan pembelajaran secara terstruktur dengan impian bahan tersebut dikuasai siswa dengan baik.

Karakteristik taktik pembelajaran ekspositori ada tiga. Pertama, taktik ekspositori dilakukan dengan cara memberikan bahan pelajaran secara verbal. Kedua, biasanya bahan pelajaran yang disampaikan yaitu bahan pelajaran yang sudah jadi, menyerupai data atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang. Ketiga, tujuan utama pembelajaran yaitu penguasaan bahan pelajaran itu sendiri. Artinya, sesudah proses pembelajaran berakhir siswa diperlukan sanggup memahaminya dengan benar dengan cara mengungkapkan kembali bahan yang telah diuraikan.

Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori


Dalam penggunaan taktik pembelajaran ekspositori terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu :

  • Berorientasi pada Tujuan

Sebelum penerapan strategi, guru terlebih dahulu merumuskan tujuan pembelajaran secara terang dan terukur. Seperti kriteria pada umumnya, tujuan pembelajaran harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laris yang sanggup diukur atau berorientasi pada kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Hal ini sangat penting untuk dipahami, alasannya tujuan yang spesifik memungkinkan kita bisa mengontrol efektifitas penggunaan taktik pembelajaran.

  • Prinsip Komunikasi

Proses pembelajaran sanggup dikatakan sebagai proses komunikasi, yang menunjuk pada proses penyampaian pesan dari seseorang (sumber pesan) kepada seseorang atau kelompok orang (penerima pesan). Dalam proses komunikasi, guru berfungsi sebagai penyampai  pesan dan siswa berfungsi sebagai peserta pesan. Sistem komunikasi dikatakan efektif, manakala pesan itu sanggup dengan gampang ditangkap oleh peserta pesan secara utuh; dan sebaliknya, system komunikasi dikatakan tidak efektif, manakala peserta pesan tidak sanggup setiap pesan yang disampaikan. Sehingga, guru harus berupaya untuk menghilangkan gangguan (noise) yang bisa mengganggu proses komunikasi.

  • Prinsip Kesiapan

Setiap individu akan merespon dengan cepat dari setiap stimulus manakala dalam dirinya sudah mempunyai kesiapan, begitu pun sebaliknya. Agar siswa sanggup mendapatkan isu sebagai stimulus yang guru berikan, terlebih dahulu harus memposisikan siswa dalam keadaan baik secara fisik maupun psikis untuk mendapatkan pelajaran. Jangan mulai menyajikan bahan pelajaran manakala siswa belum siap untuk menerimanya.

  • Prinsip Berkelanjutan

Proses pembelajaran ekspositori harus sanggup mendorong siswa untuk mau mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut. Pembelajaran bukan hanya berlangsung pada ketika itu, akan tetapi juga untuk waktu selanjutnya.

Langkah Penerapan Strategi Pembelajaran Ekspositori


Menurut Sanjaya (2006: 185) ada 5 langkah penerapan taktik ekspositori yaitu :

  • Persiapan (Preparation)

Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan siswa untuk mendapatkan pelajaran. Langkah persiapan merupakan langkah yang sangat penting, alasannya keberhasilan taktik ekspositori bergantung pada tahap persiapan ini. Hal ini bertujuan untuk mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif, membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar, merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa, dan membuat suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka. Beberapa hal bisa dilakukan dalam tahapan ini menyerupai memperlihatkan sugesti aktual dan menghindari sugesti negatif, memulai dengan mengemukakan tujuan yang ingin dicapai, serta membuka file dalam otak siswa.

  • Penyajian (Presentation)

Langkah ini berupa penyampaian bahan sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. Dalam hal ini peranan komunikasi sangat penting, biar bahan pelajaran sanggup dengan gampang ditangkap dan dipahami oleh siswa. Oleh alasannya itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu penggunaan bahasa, intonasi suara, kontak mata dengan siswa, serta penggunaan joke-joke yang menyegarkan.

  • Menghubungkan (Correlation)

Langkah relasi yaitu menghubungkan bahan pelajaran dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa sanggup menangkap keterkaitannya dalam struktur pengetahuan yang dimilikinya. Langkah relasi dilakukan untuk memperlihatkan makna terhadap mata pelajaran, baik makna untuk memperbaiki maupun makna untuk meningkatkan kualitas kemampuan berpikir dan kemampuan motorik siswa.

  • Menyimpulkan (Generalization)

Menyimpulkan yaitu tahapan untuk memahami inti(core) dari bahan pelajaran yang telah disajikan. Tahap ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya pertama, mengulang kembali inti-inti bahan yang menjadi pokok persoalan. Kedua, memperlihatkan pertanyaan yang relevan dengan bahan yang disajikan. Ketiga, dengan cara maping melalui pemetaan keterkaitan antar pokok-pokok materi.

  • Penerapan (Aplication)

Langkah aplikasi yaitu langkah unjuk kemampuan siswa sesudah mereka menyimak klarifikasi guru, sehingga guru sanggup mengumpulkan isu ihwal penguasaan dan pemahaman bahan oleh siswa. Teknik yang bisa dipakai menyerupai membuat kiprah yang relevan dengan bahan yang telah disajikan, atau dengan memperlihatkan tes yang sesuai dengan bahan pelajaran yang telah disajikan.

Keunggulan, Kelemahan


Cara Mengatasi Kelemahan Strategi Pembelajaran Ekspositori. Adapun keunggulan-keunggulan taktik pembelajaran ekspositori sebagai berikut:

  1. Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan bahan pembelajaran.
  2. Sangat efektif apabila bahan pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk berguru terbatas.
  3. Siswa sanggup mendengar melalui penuturan (kuliah) ihwal suatu bahan pelajaran dan sekaligus siswa bisa melihat atau mengobservasi (melalui pelaksanaan demontrasi)
  4. Dapat dipakai untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.

Disamping mempunyai keunggulan taktik pembelajaran ekspositori juga mempunyai kelemahan, diantaranya:
  1. Hanya sanggup dilakukan terhadap siswa yang mempunyai kemampuan mendengarkan menyimak secara baik.
  2. Strategi ini tidak sanggup melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
  3. Karena taktik ini lebih banyak diberikan melalui ceramah. Maka akan sulit menyebarkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, relasi interpersonal, serta kemampuan berfikir kritis.
  4. Keberhasilan taktik pembelajaran sangat tergantung kepada apa yang dimiliki oleh guru, menyerupai persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi, komunikasi, dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu proses pembelajaran tidak akan berhasil.
  5. Gaya komunikasi taktik pembelajaran lebih banyak terjadi satu arah (one–way–communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan pembelajaran akan sangat terbatas pula. Disamping itu, pula komunikasi satu arah bisa menjadikan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan guru.

Dalam upaya menanggulangi kelemahan-kelemahan yang ada pada taktik pembelajaran ekspositori terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya:

  • Guru harus benar-benar mempersiapkan terhadap isi dari bahan yang akan dibahas serta siswa juga dalam keadaan siap untuk mendapatkan bahan yang akan guru sampaikan.
  • Guru harus bisa memotivasi siswa untuk ulet dalam belajar
  • Bahasa yang dipakai oleh guru harus komunikatif dengan intonasi bunyi yang baik
  • Guru harus pandai-pandai dalam mengelola kelas
  • Pandanglah siswa satu persatu dan jangan biarkan pandangan siswa pada hal diluar pelajaran.

Referensi :
Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Ciputat: Gaung Persada Press 2009
Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, dan Kualitatif. Bandung : Alfabeta 2008

Tuesday, 15 December 2020

Lebih Arif Tata Tertib Penerima Un Tahun Pelajaran 2014/2015

Sahabat Edukasi yang berbahagia… Bagi seluruh siswa-siswi yang akan mengikuti Ujian Nasional tahun pelajaran 2014/2015. Tentu aneka macam persiapan telah dilakukan khususnya dalam peningkatan berguru pada materi-materi yang diujikan pada UN tahun 2015.

Selain itu, untuk lebih memantapkan diri dalam keikutsertaan UN tahun 2015 ini, pada hari H pelaksanaan UN nantinya setiap akseptor akan diperdengarkan tata tertib akseptor UN yang dibacakan oleh masing-masing pengawas UN pada setiap ruangan.


Berikut Tata Tertib Peserta UN Tahun Pelajaran 2014/2015 selengkapnya :

1.   Memasuki ruangan sesudah tanda masuk dibunyikan, yaitu 15 (lima belas) menit sebelum UN dimulai;
2.  Yang terlambat hadir hanya diperkenankan mengikuti UN sesudah menerima izin dari Ketua Panitia UN Tingkat Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan, tanpa diberi perpanjangan waktu;
3.   Dilarang membawa alat komunikasi elektronik dan kalkulator ke Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan.
4.   Tas, buku, dan catatan dalam bentuk apapun dikumpulkan di dalam ruang kelas di bab depan;
5.   Membawa alat tulis menulis berupa pensil 2B, karet penghapus, peraut, penggaris, dan kartu tanda akseptor ujian;
6.   Mengisi daftar hadir dengan memakai pulpen yang disediakan oleh pengawas ruangan;
7.  Mengisi identitas pada halaman pertama butir naskah soal dan identitas pada LJUN secara lengkap dan benar serta menyalin pernyataan “Saya mengerjakan UN dengan jujur” dan menandatanganinya;
8.  Yang memerlukan klarifikasi cara pengisian identitas pada LJUN sanggup bertanya kepada pengawas ruang UN dengan cara mengacungkan tangan terlebih dahulu;
9. Diberi kesempatan untuk mengecek ketepatan antara cover naskah dan isi naskah serta mengecek kelengkapan soal, mulai dari kelengkapan halaman soal hingga kelengkapan nomor soal.
10.  Yang memperoleh naskah soal/LJUN cacat, rusak, atau LJUN terlipat, maka naskah soal beserta LJUN-nya tersebut digantidengan naskah soal cadangan yang terdapat di ruang tersebut atau di ruang lain.
11. Yang tidak memperoleh naskah soal/LJUN alasannya kekurangan naskah/LJUN, maka akseptor yang bersangkutan diberikan naskah soal/LJUN cadangan yang terdapat di ruang lain atau sekolah/madrasah yang terdekat.
12.    Memisahkan LJUN dari naskah soal secara hati-hati;
13.    Mulai mengerjakan soal sesudah ada tanda waktu mulai ujian;
14.   Selama UN berlangsung, hanya sanggup meninggalkan ruangan dengan izin dan pengawasan dari pengawas ruang UN;
15.    Yang meninggalkan ruangan sesudah membaca soal dan tidak kembali lagi hingga tanda selesai dibunyikan, dinyatakan telah selesai menempuh/mengikuti UN pada mata pelajaran yang terkait;
16.   Yang telah selesai mengerjakan soal sebelum waktu UN berakhir tidak diperbolehkan meninggalkan ruangan sebelum berakhirnya waktu ujian;
17.    Berhenti mengerjakan soal sesudah ada tanda berakhirnya waktu ujian;
18.    Selama UN berlangsung, dilarang:
a.   menanyakan balasan soal kepada siapa pun;
b.   bekerjasama dengan akseptor lain;
c.   memberi atau mendapatkan sumbangan dalam menjawab soal;
d. memperlihatkan pekerjaan sendiri kepada akseptor lain atau melihat pekerjaan akseptor lain;
e.   membawa naskah soal UN dan LJUN keluar dari ruang ujian;
f.    menggantikan atau digantikan oleh orang lain.

Demikian tata tertib bagi akseptor UN tahun pelajaran 2014/2015 yang admin share menurut POS UN Tahun 2015Dan untuk melihat Tata Tertib Pengawas UN sanggup dibaca selengkapnya pada links artikel berikut. Semoga bermanfaat dan terimakasih… …!

Sunday, 3 February 2019

Jadi Cerdik Bagaimana Cara Menyusun Rpp Yang Benar Dan Baik? Yuk Intip Disini


Bagaimana Cara Menyusun RPP Yang Benar dan Baik?. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yaitu planning yang menggambarkan mekanisme dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar. Persiapan di sini sanggup diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan mencar ilmu yang produktif termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. [Menurut Kunandar (2011: 263)]

Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. Rencana pembelajaran perlu dilakukan untuk mengkoordinasikan komponen-komponen pembelajaran, yakni: kompetensi dasar, bahan pokok, indikator, dan evaluasi berbasis kelas. [Menurut Wahyuni dan Ibrahim (2012: 69)]

RPP merupakan komponen penting dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang dalam pengembangannya harus dilakukan secara Profesional. Dari pendapat tersebut, sanggup disimpulkan bahwa RPP yaitu planning pembelajaran yang dibentuk oleh guru untuk memperkirakan tindakan dalam pembelajaran. [Menurut Mulyasa (2007: 212)]

A. Tujuan dan Fungsi RPP


Tujuan RPP berdasarkan Kunandar (2011: 264) yaitu untuk: (1) mempermudah, memperlancar dan meningkatkan hasil proses mencar ilmu mengajar; (2) dengan menyusun RPP secara profesional, sistematis dan berdaya guna, maka guru akan bisa melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi acara pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana.

Kunandar (2011: 264) menyampaikan bahwa fungsi RPP yaitu sebagai pola bagi guru untuk melaksanakan kegiatan mencar ilmu mengajar (kegiatan pembelajaran) biar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien. Dengan kata lain RPP berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh sebab itu, RPP hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk menyesuaikannya dengan respons siswa dalam proses pembelajaran sesungguhnya.

B. Unsur-unsur yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan RPP


Menurut Kunandar (2011: 265), unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RPP adalah:

  1. mengacu pada kompetensi dan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa, serta bahan dan submateri pembelajaran, pengalaman mencar ilmu yang telah dikembangkan di dalam silabus;
  2. menggunakan banyak sekali pendekatan yang sesuai dengan bahan yang memperlihatkan kecakapan hidup (life skill ) sesuai dengan permasalahan dan lingkungan sehari-hari;
  3. menggunakan metode dan media sesuai, yang mendekatkan siswa dengan pengalaman langsung;
  4. penilaian dengan sistem pengujian meny eluruh dan berkelanjutan didasarkan pada sistem pengujian yang dikembangkan selaras dengan pengembangan silabus.

C. Komponen-komponen RPP


Komponen-komponen RPP berdasarkan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 wacana Standar Proses yaitu sebagai berikut.

1) Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran meliputi; sa tuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pelajaran, jumlah pertemuan.

2) Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal penerima didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang dibutuhkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.

3) Kompetensi dasar
Kompetensi dasar yaitu sejumlah kemampuan yang harus dikuasai penerima didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai tumpuan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

4) Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi yaitu sikap yang sanggup diukur dan/atau diobservasi untuk memperlihatkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi pola evaluasi mata pelajaran. Indikator pe ncapaian kompetensi dirumuskan dengan memakai kata kerja operasional yang sanggup diamati dan diukur, yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

5) Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil mencar ilmu yang dibutuhkan dicapai oleh penerima didik sesuai dengan kompetensi dasar.

6) Materi ajar
Materi latih memuat fakta, konsep, prinsip, dan mekanisme yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

7) Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.

8) Metode pembelajaran
Metode pembelajaran dipakai oleh guru untuk mewujudkan suasana mencar ilmu dan proses pembelajaran biar penerima didik mencapai kompetensi dasar suasana mencar ilmu dan proses pembelajaran biar penerima didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran diadaptasi dengan situasi dan kondisi penerima didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

9) Kegiatan pembelajaran

(1) Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian penerima didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan pendahuluan, guru: menyiapkan penerima didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan bahan yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan memberikan bahan dan klarifikasi uraian kegiatan sesuai silabus.

(2) Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis pesert a didik. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru: melibatkan penerima didik mencari informasi yang luas dan dalam wacana topik / tema materi yang akan dipelajari dengan mencar ilmu dari aneka sumber; memakai bermacam-macam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber mencar ilmu lain; memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara penerima didik dengan guru, lingkungan, dan sumber mencar ilmu lainnya; melibatkan penerima didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan memfasilitasi penerima didik melaksanakan percobaan di laboratorium, studio, dan lapangan.

Dalam kegiatan elaborasi, guru: membiasakan penerima didik membaca dan menulis yang bermacam-macam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; memfasilitasi penerima didik melalui derma tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan gres baik secara verbal dan tert ulis; memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menuntaskan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; memfasilitasi penerima didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; memfasilitasi penerima didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, memfasilitasi penerima didik menciptakan laporan eksplorasi yang dilakukan baik verbal maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; memfasilitasi penerima didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; memfasilitasi penerima didik melaksanakan pameran, turnamen, ekspo serta produk yang dihasilkan; dan memfasilitasi pe serta didik melaksanakan kegiatan yang menumbuhkan pujian dan rasa percaya diri penerima didik.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru memperlihatkan umpan balik faktual dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan penerima didik, memperlihatkan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan klarifikasi terperinci penerima didik melalui banyak sekali sumber; memfasilitasi penerima didik melaksanakan refleksi untuk memperoleh pengalaman mencar ilmu yang telah dilakukan; dan memfasilitasi penerima didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.

(3) Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran yang sanggup dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, evaluasi dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Dalam kegiatan penutup, guru: bahu-membahu dengan penerima didik dan/atau sendiri menciptakan rangkuman/simpulan pelajaran; melaksanakan evaluasi dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; dan memperlihatkan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, acara pengayaan, layanan konseling dan/atau memperlihatkan kiprah baik kiprah individual maupun kelompok sesuai dengan hasil mencar ilmu pe serta didik; dan memberikan planning pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

10) Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen evaluasi proses dan hasil mencar ilmu diadaptasi dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.

11) Sumber belajar
Penentuan sumber mencar ilmu didasark an pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

D. Prinsip-prinsip Penyusunan RPP


Prinsip-prinsip penyusunan RPP berdasarkan Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 wacana Standar Proses yaitu sebagai berikut.

1) Memerhatikan perbedaan individu penerima didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khu sus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan penerima didik.

2) Mendorong partisipasi aktif penerima didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada penerima didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.

3) Mengembangakan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangakan kegemaran membaca, pemahaman bermacam-macam bacaan, dan berekspresi dalam banyak sekali bentuk tulisan.

4) Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan acara derma umpan balik positif, penguatan remedi dan pengayaan.

5) Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memerlihatkan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, bahan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, pencapaian kompetensi, dan sumber mencar ilmu dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pemb elajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

6) Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

E. Langkah-langkah Penyusunan RPP


Menurut Kunandar (2011: 271), langkah-langkah menyusun suatu RPP meliputi beberapa hal berikut.
1) Identitas mata pelajaran
Menuliskan nama mata pelajaran, kelas, semester, dan alokasi waktu (jam pertemuan).
2) Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Menuliskan standar kompetensi dan kompetensi dasar sesuai standar isi.

3) Indikator
Pengembangan indikator dilakukan dengan beberapa pertimbangan berikut.
(1) Setiap KD dikembangakan menjadi beberapa indikator (lebih dari dua).
(2) Indikator memakai kata kerja operasional yang sanggup diukur dan/atau diobservasi.
(3) Tingkat kata kerja dalam indikator lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam KD maupun SK.
(4) Prinsip pengembangan indikator yaitu urgensi, kuntinuitas, relevansi, dan kontekstual.

(5) Keseluruhan indikator dalam satu KD merupakan kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten.

4) Materi Pembelajaran

Mencantumkan bahan pembelajaran dan melengkapi dengan uraian-uraiannya yang telah dikembangkan dala m silabus, pengalaman mencar ilmu yang bagaimana yang ingin diciptakan dalam proses pembelajaran yang didukung oleh uraian bahan untuk mencapai kompetensi tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan yaitu kemanfaatan, alokasi waktu, kesesuaian, ketetapan, situasi dan kondisi lingkungan masyarakat, kemampuan guru, tingkat perkembangan penerima didik, dan fasilitas.

5) Tujuan Pembelajaran
Dalam tujuan pembelajaran dijelaskan apa tujuan dari pembelajaran tersebut. Tujuan pembelajaran diambil dari indikator.

6) Strategi atau Skenario Pembelajaran

Strategi atau skenario pembelajaran yaitu taktik atau skenario apa dan bagaimana dalam memberikan bahan pembelajaran kepada siswa secara terarah, aktif, dan efektif, bermakna, dan menyenangkan. Strategi atau skenario pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh guru secara beruntun untuk mencapai tujuan pembelajaran. Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi materi-materi yang memerlukan prasyarat tertentu.

7) Sarana dan Sumber Pembelajaran

Dalam proses mencar ilmu mengajar, sarana pembelajaran sangat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Yang dimaksud dengan sarana pembelajaran dalam uraian ini lebih ditekankan pada sarana dalam arti media/alat peraga. Sarana berfungsi memudahkan terjadinya proses pembelajaran. Sementara itu, sumber mencar ilmu yaitu segala sesuatu yang sanggup dijadikan sumber dalam proses mencar ilmu mengajar.

8) Penilaian dan Tindak Lanjut

Sistem evaluasi dan mekanisme yang dipakai untuk menilai pencapaian mencar ilmu siswa berdasarkan evaluasi ya ng telah dikembengkan selaras dengan pengembangan silabus. Penilaian merupakan serangakaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data wacana proses dan hasil mencar ilmu penerima didik yang dilakukan secara sist ematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian dilakukan dengan memakai tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, dan pe nilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan evaluasi diri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih evaluasi yaitu sebagai
berikut.
- Untuk mengatur pencapaian kompetensi penerima didik, yang dilakukan berdasarkan indikator
- Menggunakan pola kriteria
- Menggunakan sistem evaluasi berkelanjutan
- Hasil evaluasi dianalisis untuk memilih tindak lanjut
- Sesuai dengan pengalaman mencar ilmu yang ditempuh dalam kegiatan pembelajaran

Thursday, 31 January 2019

Jadi Cerdik Inilah Media Pembelajaran Yang Dapat Anda Coba Di Sekolah / Madrasah


Agar penyampaian materi kepada penerima didik sanggup diterima baik dan menarik, tidak cukup hanya memanfaatkan pendengaran saja, yaitu penyampaiannya hanya dengan metode ceramah atau dengan kalimat-kalimat lisan saja. Tetapi sebaiknya juga memanfaatkan alat peraga yang bisa dinikmati oleh indera penglihatan.

Ada beberapa macam media pembelajaran berupa alat bantu yang sangat simpel dan umumnya tersedia dikelas, yang bisa menciptakan suatu kegiatan pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Yaitu sesudah berakhirnya pembelajaran menghasilkan perubahan tingkah laris atau hasil perbuatan yang memberi petunjuk bahwa suatu proses mencar ilmu telah berlangsung. Atau pernyataan-pernyataan perihal apa yang harus dilakukan penerima didik atau perihal tingkah laris yang bagaimana yang diperlukan dari penerima didik sesudah ia menuntaskan pembelajaran tertentu.

Namun hal-hal yang idealis diatas tadi kemungkinan tidak akan tercapai apabila cara penyampaiannya tidak tepat. Meskipun materi pelajaran menarik minat bagi penerima didik atau situasi dan lingkungan sangat mendukung semuanya bisa saja menemui kegagalan apabila cara penyampaiannya materi pelajaran tidak menarik. Sangat berbagai cara-cara penyampaian materi pelajaran supaya sanggup diterima dan diingat dengan baik oleh penerima didik.Salah satu cara yang sangat efektif ialah pamakaian alat bantu media pembelajaran.

Mangapa kita harus memakai alat bantu pembelajaran?

Menurut penyelidikan para hebat , daya serap panca indera seseorang tidaklah sama, sebagai berikut :

  1. Penciuman: 1 %
  2. Perasa : 2,5 %
  3. Peraba : 3,5 %
  4. Pendengaran: 11 %
  5. Penglihatan: 82 %

Dari data tersebut diatas bisa kita lihat bagaimana peranan masing-masing kelima indera insan didalam membantu proses seseorang untuk belajar. Dan kemampuan mendapatkan pesan yang paling tinggi ialah pendengaran dan penglihatan, Darisitu bisa ditarik kesimpulan apabila penyampaian materi lebih banyak memanfatakan indera penglihatan akan memperoleh hasil yang pa;ing tinggi. Dan apabila jika bisa memanfaatkan indera penglihatan dan dipadu dengan pendengaran secara berbarengan hasilnya tentu akan lebih maksimal lagi.

Pengertian Media Pembelajaran


Media pembelajaran: ialah segala sesuatu yang sanggup dipakai untuk memberikan pesan atau informasi dalam proses mencar ilmu mengajar sehingga sanggup merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar.

Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran


  1. Memberi fasilitas kepada penerima didik untuk memahami materi pelajaran
  2. Memberikan pengalaman mencar ilmu yang berbeda dan bervariasi
  3. Menumbuhkan perilaku dan keterampilan dalam penggunaan teknologi
  4. Menciptakan situasi mencar ilmu yang tidak gampang dilupakan

Fungsi media pembelajaran


  1. Menciptakan situasi pembelajaran yang efektif
  2. Bagian integral dari keseluruhan situasi pembelajaran
  3. Meletakkan dasar-dasar yan kongkrit dan konsep yang aneh sehingga sanggup mengurangi verbalisme
  4. Membangkitkan motivasi belajar
  5. Mempertinggi mutu pembelajaran

Manfaat media pembelajaran


  1. memperlancar proses interaksi
  2. penyampaian materi pelajaran sanggup diseragamkan
  3. proses pembelajaran menjadi menarik
  4. proses pembelajaran menjadi iteraktif
  5. jumlah waktu pembelajaran sanggup dikurangi
  6. kualitas mencar ilmu siswa sanggup ditingkatkan
  7. proses mencar ilmu sanggup terjadi dimana dan kapan saja
  8. meningkatkan perilaku positif siswa
  9. peran guru lebih positif dan produktif
  10. mengatasi keterbatasan ruang
  11. menimbulkan pengalaman sama

Prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran


  1. Berdasarkan tujuan pembelajaran.
  2. Sesuai karakteristik penerima didik.
  3. Sesuai dengan kemampuan guru/dosen.
  4. Sesuai dengan situasi kondisi, waktu dan tempat.
  5. Sesuai dengan karakteristik media pembelajaran.
  6. Sesuai dengan ketersediaan media pembelajaran.

Prinsip umum penggunaan media


  1. media tidak sanggup 100 % menggantikan tugas guru
  2. perlu persiapan yang matang: ( siswa, guru, alat/program, tempat)
  3. pertimbangkan mutu media : (handal, sistem, spesipikasi, praktis, keselamatan/ keamanan)
  4. media harus terperinci dan menarik
  5. ketersediaan media
  6. pertimbangkan waktu yang ada

Jenis- jenis media pembelajaran


  1. Media visual dua dimensi tidak transparan
  2. Media visual dua dimensi yang transparan
  3. Media visual tiga dimensi
  4. Media Audio
  5. Media Audio–Visual
  6. Multimedia

1. Media visual bukan transparasi

  • grafik
  • chart atau bagan
  • Peta
  • Diagram
  • Poster
  • Karikatur
  • komik
  • gambar
  • photo
  • buku, majalah,
  • diktat, makalah dll

2. Media visual dua dimensi transparan

  • film slide
  • Ohp/oht
  • Film strip
  • Micro film

3. Media visual 3 dimensi

  • benda sesungguhnya
  • model
  • diorama
  • mock up
  • specimen

4. Media audio

  • radio
  • audio tape recorder
  • alat musik modern / tradisional
  • cd player
  • ph
  • sound system
  • telephone / hp

5. Media audio visual

  • television
  • video system
  • sinema/ film
  • computer

6. Multimedia

  • film/ tv / vcd/
  • radio
  • musik
  • e- mail, e- learning
  • media cetak/ berita
  • telecomprence

KESIMPULAN
Pemakaian media pembelajaran perlu adanya pengebangan media pengajaran, adapun berdasarkan arief s. Sadiman, mengemukakan urutan-urutan dalam pengembangan aktivitas media sebagai berikut :

  1. Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa.
  2. merusmuskan tujuan instruksional secara operasional dan jelas.
  3. menemukan butir-butir materi secara terperinci yang sanggup mendukung terciptanya tujuan.
  4. mengembangkan alat ukur keberhasilan.
  5. menulis naskah media.
  6. mengadakan tes dan revisi..

Sunday, 24 March 2019

Jadi Pintar Proses Pembelajaran Di Laboratorium Dengan Eksperimen Dan Demonstrasi


Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi proses pembelajaran bisa terjadi di mana saja, baik daerah yang didesain untuk berlangsungnya proses pembelajaran, maupun daerah yang tidak didesain secara khusus untuk proses pembelajaran. Laboratorium ialah daerah yang didesain untuk terjadinya proses pembelajaran.

Berbeda dengan ruangan kelas, laboratorium biasanya dipakai untuk acara pembelajaran tertentu yang bertujuan diantaranya untuk:

  • Pembuktian suatu konsep atau teori melalui eksperimen (percobaan)
  • Mendemonstrasikan suatu alat atau proses tertentu
  • Mencari dan menemukan sesuatu melalui cara dan mekanisme kerja tertentu.

A. Prinsip Belajar di Laboratorium


Ada beberapa prinsip umum proses pembelajaran di laboratorium. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya:

a. Prinsip Belajar untuk Berbuat


Laboratorium ialah daerah siswa berpraktik, baik untuk menguji suatu konsep, untuk mencari dan menemukan, maupun untuk memahami suatu proses atau mekanisme tertentu. Laboratorium bukan daerah untuk mempelajarai data dan fakta yang diarahkan untuk menguasai materi pelajaran yang bersifat hapalan. Dengan demikian guru sebaiknya menghindari kontak dengan siswa secara langsung. Biarkan siswa bekerja sesuai dengan pemahamannya. Kalaupun guru diharapkan sebatas membantu manakala siswa mengalami kesulitan-kesulitan dalam proses pembelajaran.

b.Curiosity (Keingintahuan)


Laboratorium ialah daerah untuk menguji atau mencari dan menemukan sesuatu. Oleh alasannya ialah itu proses pembelajaran di laboratorium akan efektif dipakai manakala siswa terdorong oleh rasa keingintahuan atau kepenasaran wacana sesuatu. Kadar keingintahuan itu akan memilih motivasi berguru di laboratorium. Semakin tinggi rasa ingin tahu siswa, maka semakin efektif siswa memanfaatkan laboratorium. Dengan demikian sebelum pembelajaran di laboratorium, guru perlu membuatkan kepenasaran siswa.

c.Berpikir Ilmiah


Pada umumnya laboratorium dipakai untuk membuatkan kemampuan siswa melaksanakan prinsip-prinsip berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah ialah proses berpikir secara sisitematis, empiris dan terkontrol. Sistematis ialah proses berpikir melalui tahapan-tahapan yang terang yang dimulai dari perumusan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, menguji hipotesis dan merumuskan kesimpulan. Empiris mengandung makna, bahwa proses berpikir ilmiah didasarkan pada pengalaman untuk menemukan data.

Oleh lantaran itulah laboratorium intinya dipakai untuk mencari dan menemukan data. Terkontrol ialah proses berpikir yang dilakukan setahap demi setahap dan setiap tahapan diikuti dengan seksama, sehingga setiap orang sanggup melaksanakan pengujian ulang.

Sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut biasanya laboratorium dipakai untuk melaksanakan eksperimen dan demonstrasi. Di bawah ini dijelaskan pelaksanaan eksperimen dan demonstrasi.

B. Pelaksanaan Eksperimen di Laboratorium


Eksperimen ialah cara penyajian pelajaran di mana siswa melaksanakan percobaan dengan mengalami dan menandakan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses pembelajaran melalui eksperimen siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melaksanakan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, menandakan dan menarik kesimpulan sendiri wacana suatu objek, keadaan atau proses tertentu.

a. Langkah-langkah Pelaksanaan


1. Persiapan Eksperimen
Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam melaksanakan eksperimen, yakni:

  • Tentukan dan rumuskan tujuan eksperimen dengan terang dan terukur. Tujuan yang terang dan terukur, bukan hanya sanggup membangkitkan motivasi berguru siswa akan tetapi juga sanggup berfungsi sebagai petunjuk untuk melaksanakan eksperimen.
  • Persiapkan alat dan materi yang diharapkan untuk melaksanakan eksperimen. Kalau seandainya di sekolah materi dan alat yang diharapkan tidak sesuai dengan jumlah siswa, guru sanggup melaksanakan eksperimen dengan mengelompokkan siswa. Untuk alat dan materi yang mempunyai resiko tinggi, siswa perlu memahaminya dengan baik untuk menghindari kesalahan dalam penggunaannya. Untuk itu, sebaiknya pada setiap alat dan materi dirumuskan cara dan mekanisme menggunakannya secara lengkap.
  • Memberikan klarifikasi secukupnya wacana mekanisme atau langkah-langkah melaksanakan eksperimen. Guru perlu memahami benar bagaimana mekanisme melaksanakan suatu acara eksperimen. Prosedur melaksanakan eksperimen sebaiknya disusun dalam bentuk pedoman sehingga sanggup dipelajari siswa.
  • Seandainya ada hal-hal khusus terdapat di laboratorium, siswa perlu memahaminya dengan benar. Oleh lantaran itu di dalam laboratorium perlu ada petunjuk yang jelas, termasuk petunjuk wacana mekanisme keselamatan kerja.

2. Pelaksanaan Eksperimen
Setelah semua dipersiapkan, termasuk apa yang seharusnya dilakukan siswa dalam mengadakan eksperimen, acara selanjutnya siswa memulai pelaksanaan eksperimen. Ada beberapa hal sebagai petunjuk dalam melaksanakan pembelajaran melalui eksperimen.

  • Guru jangan terlalu terlibat dalam pelaksanaan ekspeimen. Biarkan siswa
  • memperoleh pengalamannya sendiri, mencari dan menemukan serta bekerja sendiri. Seandainya ada kesulitan, guru tidak secara eksklusif memecahkan kesulitan tersebut, akan tetapi hanya menawarkan petunjuk-petunjuk data dukungan seperlunya.
  • Seandainya eksperimen dilakukan secara kelompok, guru harus mengatur biar setiap orang sanggup terlibat. Biasanya eksperimen dilakukan oleh siswa yang berilmu saja, sedangkan siswa yang kurang cenderung pasif. Oleh lantaran itu guru perlu mengatur susunan kelompok beserta tanggung jawab setiap kelompok.
  • Dalam setiap tahapan guru perlu melaksanakan kontrol. Hal ini dimaksudkan bukan hanya untuk mencek pelaksanaan eksperimen untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, akan tetapi juga untuk menawarkan dukungan manakala diperlukan.

3. Tindak Lanjut
Tindak lanjut ialah acara penutupan eksperimen. Ada beberapa hal yang sanggup dilakukan dalam acara ini diantaranya:

  • Siswa menyelidiki segala peralatan yang dipakai dalam eksperimen, kemudian mnyimpannya menyerupai posisi semula.
  • Siswa melaporkan hasil eksperimen kepada guru untuk dianalisis, kemudian diberikan umpan balik.
  • Secara bahu-membahu siswa mendiskusikan temuan-temuan atau masalah-masalah yang muncul dari hasil kerjanya.

C. Pembelajaran melalui Demonstrasi


Demonstrasi ialah proses pembelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa wacana suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebetulnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari klarifikasi secara mulut oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi, kiprah siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi sanggup menyajikan materi pelajaran lebih kongkret. Dalam taktik pembelajaran demonstrasi sanggup dipakai untuk mendukung keberhasilan taktik pembelajaran ekspositori dan inkuiri.

Langkah-langkah Pelaksanaan Demonstrasi


a. Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal yang harus dilakukan:

  • Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa sehabis proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini mencakup beberapa aspek menyerupai aspek penge-tahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.
  • Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis-garis besar langkah demonstrasi diharapkan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
  • Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba mencakup segala peralatan yang diperlukan.

b. Tahap Pelaksanaan
(1) Pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:

  • Aturlah daerah duduk yang memungkinkan semua siswa sanggup memperhatikan dengan terang apa yang didemonstrasikan.
  • Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa
  • Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa, contohnya siswa ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.

(2) Pelaksanaan Demonstrasi
Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsng siswa untuk berpikir, contohnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.

  • Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan
  • Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonnstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa.
  • Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.

(3) Langkah Mengakhiri Demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan menawarkan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diharapkan untuk meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain menawarkan kiprah yang relevan, ada bainya guru dan siswa melaksanakan penilaian bersama wacana jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.

Sunday, 13 October 2019

Jadi Arif Kajian Teoritis Wacana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Di dalam acara proses berguru mengajar, guru matematika bisa memakai model pembelajaran yang bisa menciptakan siswa ikut aktif di dalam acara proses berguru mengajar dan juga merasa tertarik dengan pelajaran matematika. Salah satu model pembelajaran yang bisa dipakai oleh guru yaitu model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Dalam penerapan jigsaw ini, siswa dibagi dalam bentuk kelompok dengan 4 atau 5 anggota kelompok berguru yang heterogen. Mulai dari tingkat kemampuan, jenis kelamin, suku/ ras yang berbeda. Materi pelajaran diberikan dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari penggalan tertentu materi yang diberikan itu.

Anggota dari kelompok lain yang menerima kiprah topik yang sama berkumpul dan berdiskusi mengenai topik tersebut, kelompok ini disebut kelompok ahli. Selanjutnya anggota kelompok hebat kembali ke kelompok asal, dan mengajarkan kembali apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan di dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada sobat kelompok asal. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam kelompok asal, masing - masing siswa dikenai kuis mengenai materi yang telah dipelajari.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


  1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).
  2. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi - bagi menjadi beberapa sub bab.
  3. Setiap anggota kelompok membaca sub penggalan yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
  4. Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub penggalan yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok hebat untuk mendiskusikannya.
  5. Setiap anggota kelompok hebat sehabis kembali ke kelompoknya bertugas mengajar sobat - temannya.
  6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa - siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
  7. Penghargaan kelompok, Guru memberikan penghargaan kepada salah satu kelompok yang nilainya lebih tinggi dari kelompok yang lain.

Kelebihan dan Kelemahan Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw


  1. kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
    Belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki kekerabatan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki kekerabatan antara siswa normal dan siswa penyandang cacat. Davidson (1991) memberikan sejumlah implikasi aktual dalam berguru matematika dengan memakai model berguru kooperatif, yaitu sebagai berikut:
    • Kelompok kecil memberikan santunan sosial untuk berguru matematika.
    • Kelompok kecil memperlihatkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa dalam matematika
    • Masalah matematika idealnya cocok untuk diskusi kelompok, lantaran mempunyai solusi yang sanggup didemonstrasikan secara objektif
    • Siswa dalam kelompok sanggup membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan mekanisme perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
  2. Kelemahan model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
    • Prinsip utama contoh pembelajaran ini ialah “peer teaching”, pembelajaran oleh sobat sendiri, ini akan menjadi hambatan lantaran perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan di diskusiskan bersama dengan siswa lain.
    • Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk bisa berdiskusi memberikan meteri pada teman, bila siswa tidak punya rasa percaya diri.
    • Rekod siswa perihal nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup usang untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.
    • Awal penggunaan model ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik
  3. Upaya Mengatasi Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ialah sebagai berikut :
    • Guru menunjukan terlebih dahulu materi yang akan didemontrasikan secara singkat dan terperinci disertai dengan aplikasinya
    • Mengoptimalisasi waktu dengan cara memberi batasan dalam pembuatan pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
    • Guru harus lebih bersahabat terhadap muridnya biar sanggup mengetahui kemampuan masing-masing siswanya
    • Guru harus sanggup mengatur waktu untuk memakai model pembelajaran tipe jigsaw tersebut.

Referensi :
Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Malang : YP2LPM 1984
Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Maling : Universitas Negeri Malang 2003

Tuesday, 19 November 2019

Lebih Cerdik Download Juknis / Juklak Osn Tingkat Smp Tahun 2018

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Berdasarkan pada Petunjuk Pelaksanaan Petunjuk Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP Tahun 2018 bahwasannya dalam upaya meningkatkan mutu sumber daya insan Indonesia semoga bisa bersaing dalam masa keterbukaan memandang perlu untuk membuat dan meningkatkan layanan pendidikan kepada seluruh warga negara minimal pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Selain itu banyak sekali kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan juga terus diselenggarakan baik dalam bentuk kegiatan pembelajaran maupun dalam bentuk kegiatan Lomba Festival dan Olimpiade tahun 2018.

Untuk mewujudkan kegiatan dimaksud, khususnya kegiatan Lomba, Festival dan Olimpiade tahun 2018 telah disusun banyak sekali kebijakan dan seni manajemen yang kemudian dijabarkan dalam bentuk aktivitas dan atau kegiatan yang dilaksanakan secara terpadu dan terkoordinasi, baik di tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, nasional dan internasional. Kegiatan di tingkat nasional mencakup Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI SMP), Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN), dan Gala Siswa Indonesia SMP (GSI). Sedangkan kegiatan di tingkat internasional ibarat International Junior Science Olympiad (IJSO), International Mathematics Competition (IMC), Basel Open Master (BOM), dan International Research Exhibition.

Agar aktivitas dan atau kebijakan tersebut sanggup mencapai sasaran yang telah ditetapkan, maka diterbitkan Buku Petunjuk Pelaksanaan untuk masing-masing jenis kegiatan, baik Lomba, Festival dan Olimpiade yang bersifat nasional maupun bersifat internasional.

Melalui buku ini diharapkan pihak-pihak terkait dalam pengelolaan kegiatan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan sekolah sanggup memakai buku petunjuk pelaksanaan ini sebagai pedoman pelaksanaan, sehingga kegiatan sanggup dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Akhirnya kami mengharapkan semoga semua pihak terkait secara gotong royong dan bergotong royong menyukseskan pelaksanaan aktivitas Lomba, Festival dan Olimpiade.


Dalam Petunjuk Pelaksanaan OSN Tingkat SMP 2018 ini terdapat beberapa petunjuk pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP Tahun 2018 sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Dasar Hukum
C. Tujuan
D. Pengertian Olimpiade Sains Nasional [OSN]
E. Bidang Lomba
F. Hasil yang diharapkan
G. Sasaran
H. Penyelenggaraan Seleksi OSN
I. Silabus OSN

BAB II PENYELENGGARAAN
A. Persyaratan Peserta
B. Bentuk Kegiatan dan Materi
C. Tahap Pelaksanaan Lomba
D. Pembiayaan
E. Hadiah dan Penghargaan
F. Waktu Pelaksanaan
G. Tim Juri
H. Tim Pendamping
I. Layanan Informasi

BAB III MEKANISME PENYELENGGARAAN
A. Seleksi Tingkat Sekolah
B. Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota
C. Seleksi Tingkat Provinsi
D. Lomba Tingkat Nasional
E. Soal dan Kriteria Penilaian
F. Rekapitulasi Peserta

BAB IV STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANISASI PELAKSANAAN
A. Panitia Seleksi Tingkat Sekolah
B. Panitia Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota
C. Panitia Selaksi Tingkat Provinsi
D. Panitia OSN SMP Tingkat Nasional
E. Tim Penyusun dan Penelaah Soal

BAB V EVALUASI DAN PELAPORAN
A. Evaluasi
B. Pelapopran

BAB VI PENUTUP

Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019, visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2015-2019 ialah terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong.

Pemerintah sebagai pengelola dan penyelenggara pendidikan berupaya keras dalam melaksanakan program-program peningkatan mutu pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan SMP berusaha mewujudkan aktivitas Nawacita Presiden Republik Indonesia, yakni meningkatkan kualitas hidup insan Indonesia dan melaksanakan revolusi abjad bangsa yang akan dilaksanakan melalui bidang sains pada Olimpiade Sains Nasional 2018.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMP diadakan semenjak tahun 2003. Ini menjadi aktivitas tahunan yang dilaksanakan di setiap satuan pendidikan mulai dari sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) merupakan wadah bagi siswa dalam mengimplementasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) melalui bidang sains. Ini melalui proses pembelajaran sains di sekolah untuk memperlihatkan dampak kasatmata dalam peningkatan mutu pendidikan sains yakni bidang Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Direktorat Pembinaan SMP berusaha memperlihatkan penemuan dalam peningkatan mutu pendidikan pada OSN SMP yakni pada periode 2003 s.d. 2009, bidang yang dilombakan pada OSN mencakup 3 bidang utama: Matematika, Biologi, dan Fisika. Pada tahun 2010, Direktorat Pembinaan SMP memasukkan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam bidang yang dilombakan pada OSN. Sehingga semenjak tahun 2010 s.d. 2015 bidang OSN SMP yang dilombakan ialah 4 (empat) bidang. Dengan adanya kurikulum 2013, Bidang Fisika dan Biologi digabungkan menjadi satu bidang dengan nama Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada tahun 2015. Sehingga mulai tahun 2015 s.d. 2018 bidang lomba mencakup 3 bidang yakni Matematika, IPS, dan IPA.

Perubahan yang terjadi ini dimaksud untuk memotivasi dan menumbuhkembangkan atmosfer kompetisi serta mendorong pihak-pihak yang berwenang untuk memperlihatkan ruang belajar, memfasilitasi dan menstimulus para siswa dan guru yang berprestasi dan mempunyai talenta minat pada sains semoga meningkatkan kemampuan akademisnya dengan berpartisipasi pada OSN SMP tahun 2018.

OSN SMP tahun 2017 ini memperlihatkan kesempatan kepada para siswa yang berprestasi terbaik di tingkat nasional untuk meningkatkan pencapaian prestasinya di tingkat internasional. Indonesia telah mengirimkan duta terbaik di bidang sains yakni Matematika dan IPA untuk berprestasi pada ajang kompetisi internasional yakni International Teenagers Mathematics Olympiad (ITMO) di Davao, Filipina dan International Junior Science Olympiad (IJSO) di Arnhem, Netherland. Mereka telah berhasil menyabet beberapa medali untuk diberikan kepada Negara Indonesia. Perolehan medali untuk 2 kompetisi Internasional ini 20 medali pada ITMO, sedangkan 6 medali untuk IJS0.

Oleh karenanya, Direktorat Pembinaan SMP dipandang perlu memprogram kegiatan OSN SMP tahun 2018 yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan OSN SMP tahun 2018 supaya terealisasi secara baik, disusunlah petunjuk pelaksanaan OSN SMP Tahun 2018 sebagai pola bagi panitia pelaksana kegiatan seleksi tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, dan tingkat nasional.

B. Dasar Hukum

Dasar Hukum pelaksanaan OSN tahun 2018 adalah:

1.      Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 wacana Sistem Pendidikan Nasional.
2.      Undang-Undang RI Nomor 23 tahun 2014 wacana Pemerintah Daerah.
3.      Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 wacana Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 wacana Standar Nasional Pendidikan.
4.      Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 wacana Pendanaan Pendidikan.
5.      Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 wacana Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
6.      Peraturan Presiden RI Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter.
7.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2008 wacana Pembinaan Kesiswaan.
8.      Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 wacana Penumbuhan Budi Pekerti.
9.      Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 20 tahun 2016 wacana Standar Kompetensi Lulusan pada Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah.
10.    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 21 tahun 2016 wacana Standar Isi pada Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah
11.    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 22 tahun 2016 wacana Standar Proses pada Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah.
12.    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 23 tahun 2016 wacana Standar Penilaian pada Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah.
13.    Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 24 tahun 2016 wacana Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran pada Kurikulum 2013 Pendidikan Dasar dan Menengah.
14.    Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor: 0422/MPK.C/PD/2015 wacana Penyelenggaraan Olimpiade, Lomba, dan Festival.
15.    PMK 168 berkembang menjadi PMK 173.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan umum OSN ialah untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya bidang Matematika, IPA, dan IPS yang berasaskan pendidikan karakter.

2. Tujuan Khusus

a.   Memotivasi sekolah semoga berperan aktif memfasilitasi siswa guna meningkatkan prestasi berguru Matematika, IPA, dan IPS.
b.   Membangkitkan minat dan kegemaran siswa terhadap bidang Matematika, IPA, dan IPS.
c.   Menumbuhkembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis, sistematis, kreatif, inovatif, dan produktif sebagai bekal dalam kehidupan.
d.   Menanamkan kesadaran dan keberanian siswa untuk mencoba, berguru menerapkan secara langsung, dan sanggup berprestasi secara optimal.
e.   Menanamkan sifat kompetitif dan kerjasama yang sehat semenjak dini.
f.    Memetakan kemampuan siswa dalam bidang Matematika, IPA dan IPS sesuai standar mutu pendidikan secara nasional.
g.   Mengidentifikasi siswa berprestasi di setiap sekolah, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional dalam bidang Matematika, IPA dan IPS.
h.   Menyeleksi siswa terbaik tingkat nasional pada jenjang SMP, MTs atau yang sederajat untuk diikutsertakan pada perlombaan tingkat internasional.
i.    Memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi dalam bidang Matematika, IPA dan IPS.

D. Pengertian Olimpiade Sains Nasional SMP

Olimpiade Sains Nasional (OSN) ialah suatu kegiatan yang bersifat kompetisi di bidang sains antara siswa SMP dalam lingkup wilayah atau tingkat lomba tertentu.

E. Bidang Lomba

1. Matematika
2. Ilmu Pengetahuan Alam
3. Ilmu Pengetahuan Sosial

F. Hasil yang diharapkan

Melalui lomba ini diharapkan terjadi peningkatan minat dan prestasi siswa dalam bidang Matematika, IPA, dan IPS, serta terpilihnya siswa yang bisa berprestasi pada lomba tingkat nasional dan internasional.

G. Sasaran

Sasaran kegiatan OSN ialah siswa SMP/MTs negeri dan swasta atau yang sederajat.

H. Penyelenggaraan Seleksi OSN

Seleksi diselenggarakan secara bertingkat, yakni:

1. Tingkat Sekolah
2. Tingkat Kabupaten/Kota
3. Tingkat Provinsi
4. Tingkat Nasional

I. Silabus OSN

Dalam persiapan keikutsertaan penerima didik dalam OSN SMP tahun 2018, pihak-pihak terkait sekolah, dinas pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi sanggup mempelajari dan merujuk pada pola materi tes 3 bidang (Matematika, IPA, dan IPS) dalam Silabus Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP Tahun 2018.

BAB II
PENYELENGGARAAN

A. Persyaratan Peserta

Kegiatan OSN tahun 2018 terbuka untuk siswa SMP/MTs negeri dan swasta, atau yang sederajat, berkewarganegaraan Indonesia, dan memenuhi persyaratan sebagai berikut.

1.   Bukan peraih medali emas, perak, dan perunggu pada OSN SMP Tingkat Nasional tahun sebelumnya.
2.   Terdaftar sebagai siswa SMP, MTs, atau yang sederajat, kelas VII atau kelas VIII pada ketika mengikuti seleksi OSN di tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi.
3.   Memiliki Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan terdaftar di Data Pokok Peserta Didik yang diperoleh dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
4.   Sekurang-kurangnya telah mengikuti proses berguru mengajar selama satu semester di sekolah tersebut, dibuktikan dengan surat keterangan kepala sekolah.
5.   Memiliki nilai rapor semenjak semester pertama serendah-rendahnya 75 (tujuh puluh lima) dalam skala 100 (seratus) untuk bidang lomba yang akan diikuti.
6.   Berkelakuan baik dan tidak terlibat penyalahgunaan obat terlarang dan minuman keras, yang dibuktikan dengan surat keterangan kepala sekolah.
7.   Dikirim oleh sekolah yang bersangkutan dibuktikan surat keterangan kepala sekolah.
8.   Peserta hanya berhak mengikuti satu bidang lomba.

B. Bentuk Kegiatan dan Materi

Kegiatan OSN dilaksanakan secara sedikit demi sedikit mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional dengan prosedur sebagai berikut.

1.   Tingkat sekolah: prosedur seleksi ditentukan menurut dua pilihan prosedur seleksi yang telah diatur pada cuilan III buku petunjuk pelaksanaan OSN.
2.   Tingkat kabupaten/kota dan provinsi: seleksi dilakukan melalui tes tertulis.
3.   Tingkat nasional: seleksi dilakukan melalui tes teori untuk Matematika, tes teori dan tes eksperimen untuk IPA serta tes teori dan keterampilan untuk IPS.
C. Tahap Pelaksanaan OSN Lomba

Seleksi dilaksanakan dalam 4 (empat) tahap, yaitu:

1. Tahap I : Seleksi tingkat sekolah
2. Tahap II : Seleksi tingkat kabupaten/kota
3. Tahap III : Seleksi tingkat provinsi
4. Tahap IV : Seleksi tingkat nasional

D. Pembiayaan

1.   Pelaksanaan kegiatan OSN tingkat kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi berasal dari APBD, sedangkan untuk perangkat tes di tingkatan tersebut berasal dari APBN.
2.   Biaya pelaksanaan OSN tingkat nasional berasal dari APBN untuk akomodasi, konsumsi, transportasi, persiapan serta penyelenggaraan. Sedangkan APBD Provinsi sebagai tuan rumah penyelenggaraan OSN tingkat nasional.

E. Hadiah dan Penghargaan

Hadiah dan penghargaan diberikan kepada penerima OSN SMP sebagai motivasi untuk meningkatkan prestasi, semangat belajar, dan penunjang pendidikan di sekolah.

Pengaturan hadiah dan penghargaan untuk para pemenang:

1.   Di tingkat kabupaten/kota dan tingkat provinsi diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah tempat sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah.
2.   Di tingkat nasional, medali yang diperebutkan untuk masing-masing bidang yaitu: 5 emas, 10 perak dan 15 perunggu. Khusus bidang IPA penghargaan pelengkap untuk kategori best theory dan best experiment. Semua hadiah dan penghargaan diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
3.   Para penerima OSN SMP tingkat nasional yang memenuhi persyaratan yang ditentukan Direktorat Pembinaan SMP akan mendapat Beasiswa Bakat dan Prestasi SMP tahun 2018 sebesar Rp3.000.000 (tiga juta rupiah).

F. Waktu Pelaksanaan

Jadwal pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP tahun 2018 direncanakan sebagai berikut:

G. Tim Juri

Tim juri untuk tingkat kabupaten/kota diadaptasi dengan sumber daya insan yang ada di kabupaten/kota/provinsi yang bersangkutan, namun tetap memperhatikan kriteria sebagai juri sebagaimana ketentuan yang ditetapkan.

1.   Tim Juri tingkat kabupaten/kota ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
2.   Tim Juri tingkat provinsi dan tingkat nasional berasal dari unsur perguruan tinggi dan Direktorat Pembinaan SMP.

Kriteria Tim Juri:

1.   Kompeten dalam bidang ilmu yang dilombakan.
2.   Memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan bidang lomba OSN SMP (minimal S2).
3.   Memiliki pengalaman dalam bidang olimpiade sejenis OSN secara nasional atau internasional minimal.
4.   Memiliki komitmen yang tinggi terhadap kiprah dan tanggung jawabnya.
5.   Tidak mempunyai kepentingan dan tidak memihak kepada siapapun.
6.   Tidak terlibat dalam training penerima OSN tingkat SMP, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional.

H. Tim Pendamping

Tim pendamping untuk tingkat nasional ialah petugas yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Provinsi untuk mendampingi penerima selama mengikuti kegiatan tingkat nasional. Tim pendamping sanggup berasal dari unsur Dinas Pendidikan provinsi dan atau guru pada bidang lomba yang memenuhi kriteria tim pendamping.

Kriteria Tim Pendamping

1.   Kompeten dalam bidang ilmu yang dilombakan
2.   Memiliki komitmen yang tinggi terhadap kiprah dan tanggung jawabnya dalam mendampingi siswa selama kegiatan OSN tingkat nasional
3.   Berkompeten menjadi perantara dalam proses moderasi penilaian untuk bidang lomba Matematika, IPA, dan IPS

I. Layanan Informasi


Direktorat Pembinaan SMP memperlihatkan layanan informasi yang sanggup dilihat dan diunduh melalui laman ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik untuk mendapat informasi terkini wacana perubahan-perubahan yang terjadi dalam waktu pelaksanaan, peraturan kompetisi, informasi seleksi/tes, surat pemanggilan dan hal lain seputar OSN SMP tahun 2018 yang dilaksanakan berjenjang.

Informasi layanan informasi sanggup diakses melalui:

FB Fan page : ditpsmp.OSN SMP talenta prestasi 2018
Instagram : ditpsmp.pestasi_2018
Twitter : @bakatprestasi18
YouTube : talenta prestasi

Alamat sekretariat lomba, pekan raya dan olimpiade SMP

Direktorat Pembinaan SMP
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Jalan Jenderal Sudirman, Gedung E lantai 17
Senayan, Jakarta Pusat 10270
Telepon. +62 21 5725683
Fax. +62 21 57900459
Hp. +6287781037040

BAB III
MEKANISME PENYELENGGARAAN

Kegiatan OSN dilaksanakan secara berjenjang mulai dari seleksi tingkat sekolah, tingkat kabupaten/kota, tingkat provinsi hingga tingkat nasional. Mekanisme pelaksanaan kegiatan OSN ialah sebagai berikut:

A. Seleksi Tingkat Sekolah

1.   Pelaksanaan seleksi tingkat sekolah dimaksudkan untuk menentukan wakil siswa dari sekolah yang bersangkutan sebagai penerima OSN tingkat kabupaten/ kota.
2.   Seleksi tersebut sanggup dilakukan oleh sekolah dengan menentukan salah satu prosedur dari pilihan berikut ini:
a.   Penunjukan menurut persyaratan administratif berupa rekam jejak prestasi siswa selama proses berguru di sekolah, dibuktikan contohnya melalui rapor dan/atau piagam/sertifikat prestasi lomba sains yang pernah diikuti (jika ada) serta ditentukan oleh kebijakan sekolah.
b.   Mengadakan kegiatan seleksi untuk semua siswa di sekolah yang berminat mengikuti OSN.

B. Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota

1.   Kegiatan OSN tingkat kabupaten/kota merupakan proses seleksi untuk setiap perwakilan sekolah di kabupaten/kota.
2.   Setiap sekolah mengirimkan 1 (satu) penerima lomba untuk setiap bidang lomba dari hasil seleksi tingkat sekolah.
3.   Bila sekolah mengirimkan lebih dari 1 (satu) penerima pada satu bidang lomba, maka semua penerima yang dikirimkan sekolah untuk bidang lomba tersebut akan didiskualifikasi.
4.   Perwakilan sekolah diseleksi untuk menentukan wakil dari kabupaten/kota yang akan mengikuti seleksi OSN tingkat provinsi.
5.   Perangkat soal seleksi OSN tingkat kabupaten/kota disiapkan oleh panitia sentra yakni Direktorat Pembinaan SMP dan diserahkan kepada panitia seleksi kabupaten/kota.
6.   Pelaksanaan investigasi dan penilaian lembar balasan seleksi tingkat kabupaten/kota dilakukan oleh panitia seleksi kabupaten/kota dengan mengikuti semua petunjuk penilaian yang diberikan oleh Panitia pusat.
7.   Hasil penilaian akan dilaporkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota kepada panitia sentra dan Dinas Pendidikan Provinsi dengan mengikuti batas waktu yang ditetapkan panitia pusat.
8.   Untuk memudahkan pelaksanaan proses seleksi tingkat kabupaten/kota, panitia seleksi tingkat kabupaten/kota diharapkan menjalin kerjasama, komunikasi dan koordinasi dengan Direktorat Pembinaan SMP, Dinas Pendidikan Provinsi dan institusi pendidikan di wilayah masing-masing.
9.   Pemenang per bidang per kabupaten/Kota dilaporkan kepada Direktorat Pembinaan SMP dan Dinas Pendidikan Provinsi dengan SK Penetapan Pemenang yang disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
10. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota mendaftarkan para pemenang per bidang melalui pendaftaran daring (registrasi online) untuk mengikuti seleksi OSN SMP tingkat provinsi, dengan memakai Kata Kunci (password) dari Direktorat Pembinaan SMP.

C. Seleksi Tingkat Provinsi

1.   Peserta seleksi tingkat provinsi ialah Peringkat 1, 2, dan 3 seleksi OSN tingkat kabupaten/kota per bidang lomba di provinsi tersebut.
2.   Perangkat soal seleksi tingkat provinsi disiapkan oleh panitia sentra dan diserahkan kepada panitia provinsi pada ketika pelaksanaan seleksi OSN.
3.   Dinas Pendidikan Provinsi berafiliasi dengan Direktorat Pembinaan SMP dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dalam proses pemanggilan dan keikutsertaan pemenang OSN SMP tingkat kab./kota untuk mengikuti seleksi OSN SMP tingkat provinsi.
4.   Dinas Pendidikan Provinsi memastikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk kelengkapan dokumen dan pendaftaran daring yang harus diisi oleh pemenang kab./kota melalui laman ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik/registrasi.
5.   Pelaksanaan seleksi OSN tingkat provinsi diselenggarakan oleh panitia tingkat provinsi dan dipantau oleh panitia pusat.
6.   Pemeriksaan dan penilaian lembar balasan seleksi tingkat provinsi dilaksanakan oleh panitia pusat.
7.   Dinas Pendidikan Provinsi sebagai panitia pelaksanaan seleksi OSN SMP tingkat provinsi mengumpulkan perangkat soal siswa sebagai berikut:
a.      Lembar Jawaban Siswa;
b.      Daftar Hadir;
c.      Biodata Peserta;
d.      Instrumen;
e.      Berita Acara Serah Terima (BAST) Penyerahan Soal;
f.       BAST Lembar Jawaban Siswa;
g.      SK Daftar Peserta OSN SMP Provinsi Per Bidang; dan
h.      Kelengkapan dokumen lain yang ditentukan lebih lanjut.

D. Seleksi Tingkat Nasional

1.   Peserta OSN SMP tingkat nasional berjumlah 132 (seratus tiga puluh dua) orang untuk masing-masing bidang OSN SMP yang terdiri dari 64 (enam puluh empat) penerima terbaik peringkat nasional dan 68 (enam puluh delapan) penerima terbaik perwakilan dari 34 (tiga puluh empat) provinsi.
2.   Perwakilan provinsi ialah 2 penerima terbaik per bidang OSN SMP, selain yang termasuk ke dalam 64 penerima terbaik peringkat nasional.
3.   Kegiatan OSN SMP tingkat nasional terdiri dari tes tertulis (tes teori, tes eksperimen/tes keterampilan), penilaian, moderasi, dan penetapan hasil penilaian.
4.   Moderasi ialah diskusi antara pendamping penerima dengan dewan juri mengenai perolehan nilai peserta, dengan tujuan menyamakan persepsi antara dewan juri dan pendamping peserta. Tidak ada perubahan nilai sehabis proses moderasi dilaksanakan.
5.   Tahapan pelaksanaan moderasi yaitu tim pendamping akan diberikan lembar soal, lembar balasan siswa dan hasil skoring penerima yang dibentuk oleh dewan juri.
6.   Tim pendamping diberikan waktu 2 jam untuk menelaah balasan peserta. Moderasi antara tim pendamping dan dewan juri dilaksanakan selama 15 menit untuk setiap provinsi. Jadwal moderasi ditentukan oleh panitia.

E. Soal dan Kriteria Penilaian

Direktorat Pembinaan SMP menyelenggarakan seleksi OSN SMP di tingkat kabupaten/kota, provinsi dan nasional. Berikut ialah informasi jenis soal dan kriteria penilaian OSN SMP tahun 2018 yang sanggup menjadi sarana berguru para siswa mempersiapkan keikutsertaannya dalam rangkaian seleksi OSN SMP.

F. Rekapitulasi Peserta

Keikutsertaan penerima OSN di setiap tingkatan seleksi diuraikan menurut tabel berikut. Ini memudahkan para penyelenggara seleksi OSN SMP di setiap tingkatan dalam menentukan penerima yang akan berpastisipasi.

BAB IV
STRUKTUR DAN FUNGSI ORGANISASI PELAKSANAAN

Agar kegiatan OSN Tahun 2018 sanggup berlangsung secara efektif dan efisien, perlu penataan organisasi pelaksananya. Organisasi pelaksana kegiatan seleksi untuk setiap tahapan ialah sebagai berikut.

A. Panitia Seleksi Tingkat Sekolah

1.  Unsur kepanitiaan:
a.   kepala sekolah
b.   guru mata pelajaran
c.   komite sekolah

2.  Tugas dan tanggung jawab panitia seleksi tingkat sekolah adalah:
a.   merencanakan dan menyosialisasikan kegiatan seleksi;
b.   mendaftarkan nama-nama penerima yang berminat mengikuti kegiatan seleksi OSN dan memenuhi ketentuan persyaratan penerima OSN;
c.   melakukan seleksi tingkat sekolah melalui salah satu dari dua prosedur berikut:
1)   menyeleksi menurut prestasi dari rapor dan/atau prestasi OSN SMP mencakup tahapan mengidentifikasi siswa berprestasi, menyusun rubrik penilaian, mengumpulkan dokumen, membentuk tim juri, dan melaksanakan penilaian dokumen.
2)   menyelenggarakan seleksi OSN tingkat sekolah: mempersiapkan perangkat soal tes, pengawas, ruangan, dan investigasi lembar jawaban.
d.   menetapkan 1 (satu) penerima setiap bidang yang mewakili sekolah dengan surat keterangan kepala sekolah;
e.   mendaftarkan secara tertulis penerima yang mewakili sekolah dan guru pendamping kepada panitia OSN tingkat kabupaten/kota.

B. Panitia Seleksi Tingkat Kabupaten/Kota

1. Unsur kepanitiaan:
a. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota
b. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

2. Tugas dan tanggung jawab:

a.   merencanakan dan menyosialisasikan seleksi tingkat kabupaten/kota;
b.   menyiapkan surat-surat dan keperluan lain yang terkait dengan penyelenggaraan;
c.   menetapkan dan menyiapkan tempat penyelenggaraan seleksi OSN tingkat kabupaten/ kota;
d.   berkoordinasi dengan Direktorat Pembinaan SMP untuk perangkat soal tingkat Kabupaten/Kota;
e.   menetapkan penerima OSN tingkat kabupaten/kota maksimal 1 orang per bidang lomba untuk setiap sekolah;
f.    menetapkan pengawas pelaksanaan seleksi OSN tingkat kabupaten/kota;
g.   menyelenggarakan seleksi tingkat kabupaten/kota;
h.   membentuk tim penilai seleksi tingkat kabupaten/kota;
i.    menetapkan penerima wakil kabupaten/kota untuk OSN SMP tingkat provinsi;
j.    menyampaikan SK penetapan pemenang OSN tingkat Kab./Kota dan daftar milai pemenang per bidang melalui email ke bakatprestasi.psmp@kemdikbud.go.id, sedangkan dokumen orisinil dikirim melalui pos ke panitia sentra paling lambat 10 hari kerja sehabis pelaksanaan seleksi;
k.   memberikan penghargaan berupa sertifikat/surat keterangan sebagai penerima OSN SMP tingkat Kab./Kota;
l.    menyampaikan laporan pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota kepada panitia provinsi;
m.  menyampaikan rekap hasil penilaian seleksi dan isu aktivitas hasil seleksi ke panitia sentra Direktorat Pembinaan SMP ; dan
n.   mendaftarkan para pemenang per bidang melalui pendaftaran daring (registrasi online) pada laman ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik/registrasi untuk mengikuti seleksi OSN SMP tingkat provinsi.

C. Panitia Seleksi Tingkat Provinsi

1.  Unsur kepanitiaan:
a.   Dinas pendidikan provinsi
b.   MGMP
c.   Perguruan tinggi (jika mungkin)
2.  Tugas dan tanggung jawab :
a.   Pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota:
1)   menyiapkan petugas provinsi yang bertugas di kabupaten/kota;
2)   menyiapkan manajemen yang diperlukan;
3)   memberikan pembekalan kepada panitia OSN SMP tingkat kabupaten/kota;
4)   melakukan monitoring pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota.
b.   Pelaksanaan seleksi tingkat provinsi:
1)      merencanakan dan menyelenggarakan OSN SMP tingkat provinsi;
2)      menyiapkan surat-surat dan keperluan lain yang terkait dengan penyelenggaraan OSN SMP tingkat provinsi;
3)      menyosialisasikan penyelenggaraan OSN terkait tempat pelaksanaan kepada Direktorat Pembinaan SMP dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
4)      mengirim surat pemanggilan penerima OSN SMP tingkat provinsi menurut SK Penetapan Pemenang 1, 2, dan 3 OSN SMP tingkat Kabupaten/Kota per bidang yang disahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
5)      menginformasikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota dan sekolah untuk mendaftarkan pemenang kab./kota melalui pendaftaran daring (registrasi online) yang sanggup diakses pada laman ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik/registasi dengan batas waktu yang ditetapkan oleh Direktorat Pembinaan SMP;
6)      kata kunci (password) akan diberikan oleh Direktorat Pembinaan SMP;
7)      menyerahkan Surat Keputusan (SK) Peserta OSN SMP Tingkat Provinsi ke Direktorat Pembinaan SMP;
8)      menetapkan pengawas OSN SMP tingkat provinsi dengan surat keputusan;
9)      menetapkan dan menyiapkan tempat penyelenggaraan OSN SMP tingkat provinsi;
10)    melaksanakan OSN SMP tingkat provinsi;
11)    menyerahkan semua perangkat terseleksi menurut ketentuan panitia sentra (penjelasan pada Bab III poin C nomor 7) kepada panitia pusat, Direktorat Pembinaan SMP;
12)    memberikan penghargaan/apresiasi kepada penerima seleksi OSN SMP tingkat provinsi;
13)    menindaklanjuti pengumuman dari Direktorat Pembinaan SMP mengenai Penetapan Peserta OSN tingkat nasional;
14)    menyiapkan kelengkapan dokumen penerima OSN SMP tingkat nasional untuk kelengkapan Beasiswa Bakat dan Prestasi SMP tahun 2018;
15)    menetapkan pendamping penerima tingkat nasional sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan oleh Direktorat Pembinaan SMP untuk mengikuti semua aktivitas OSN tingkat nasional dan proses moderasi yang diberikan oleh Juri dan Panitia Pusat.

D. Panitia OSN SMP Tingkat Nasional

1. Unsur kepanitiaan





Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah membentuk Panitia OSN Tingkat Nasional, terdiri dari unsur- unsur:

a. Direktorat Pembinaan SMP;                                                   
b. Dinas Pendidikan Provinsi sebagai tuan rumah pelaksanaan OSN tingkat nasional;
c. Pemerintah tempat tempat pelaksanaan OSN tingkat nasional; dan
d. Perguruan tinggi/instansi pendukung;

Direktur Pembinaan SMP membentuk panitia lomba OSN SMP Tingkat Nasional, untuk menjalankan kiprah kepanitiaan selama pelaksanaan OSN.

2. Tugas dan tanggung jawab :

a. OSN SMP Tingkat Kabupaten/Kota

1)      menyiapkan soal dan mengirimkan soal-soal tersebut ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota;
2)      menyiapkan petunjuk pelaksanaan yang memuat tata cara pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota;
3)      menyiapkan panduan dan instrumen monitoring dan penilaian kegiatan OSN tingkat kabupaten/kota;
4)      Menyiapkan surat informasi pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota;
5)      Mengumpulkan Biodata Pengelola OSN SMP tingkat Kabupaten/Kota;
6)      Menyediakan jalan masuk pelayanan informasi melalui microsite ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik;
7)      Menyosialisasikan kegiatan OSN baik melalui surel maupun informasi dalam media internet;
8)      Memberikan layanan informasi kepada semua unsur yang akan mengikuti dan terlibat dalam pelaksanaan OSN SMP tingkat kab./kota;
9)      memberikan pembekalan kepada petugas dari Direktorat Pembinaan SMP wacana tata cara pelaksanaan OSN SMP tingkat Kab./Kota sesuai dengan petunjuk teknis;
10)    memantau dan melaporkan pelaksanaan OSN SMP tingkat kabupaten/kota;
11)    Membawa dan memperlihatkan kunci balasan dan petunjuk penilaian kepada Dinas Pendidikan Kab./Kota, sehabis proses tes berakhir di semua wilayah;
12)    Memberikan kata kunci (password) kepada Dinas Pendidikan Kab./Kota dalam proses pendaftaran daring (registrasi online); dan
13)    Ketentuan lain yang akan diinformasikan lebih lanjut.

b. OSN SMP Tingkat Provinsi

1)      menyiapkan soal dan berkas manajemen yang diperlukan;
2)      menyiapkan petunjuk pelaksanaan yang memuat tata cara pelaksanaan OSN SMP tingkat provinsi;
3)      menentukan petugas Direktorat Pembinaan SMP sebagai pemantau pelaksanaan seleksi OSN tingkat provinsi;
4)      menyiapkan panduan dan instrumen monitoring dan penilaian kegiatan OSN SMP tingkat provinsi;
5)      Menyiapkan surat informasi pelaksanaan lomba tingkat provinsi;
6)      Mengumpulkan Biodata Pengelola OSN SMP, Festival dan Olimpiade SMP tingkat Provinsi tahun 2018;
7)      Menyediakan jalan masuk pelayanan informasi melalui microsite ditpsmp.kemdikbud.go.id/pesertadidik;
8)      Menyosialisasikan kegiatan OSN baik melalui surel maupun informasi dalam media internet;
9)      Memberikan layanan informasi kepada semua unsur yang akan mengikuti dan terlibat dalam pelaksanaan OSN SMP tingkat provinsi;
10)    memberikan pembekalan kepada petugas dari Direktorat Pembinaan SMP wacana tata cara pelaksanaan OSN SMP sesuai dengan petunjuk teknis;
11)    Memantau dan melaporkan pelaksanaan OSN SMP tingkat Provinsi;
12)    Membawa semua perangkat OSN SMP/seleksi tingkat provinsi menurut ketentuan panitia sentra (penjelasan pada Bab III poin C nomor 7);
13)    Menerima hasil/lembar balasan penerima seleksi OSN SMP tingkat provinsi dari petugas monev;
14)    Mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan penilaian OSN SMP tingkat provinsi;
15)    Menetapkan para penilai lembar balasan siswa dan kepanitiaan pada OSN SMP tingkat provinsi;
16)    Menetapkan dan mengumumkan Peserta OSN SMP tingkat nasional menurut hasil penilaian;
17)    Memberikan kata kunci (password) kepada Dinas Pendidikan Provinsi dalam proses pendaftaran daring (registrasi online) penerima OSN SMP tingkat nasional;

C. OSN SMP Tingkat Nasional

1)      membentuk dan memutuskan panitia penyelenggara dan dewan juri;
2)      menyiapkan surat keputusan penyelenggaraan;
3)      menyosialisasikan OSN melalui banyak sekali media seperti: leaflet, poster, iklan media cetak dan elektronik, serta banyak sekali lembaga pertemuan sesuai situasi dan kondisi;
4)      menyiapkan surat-surat dan keperluan manajemen lainnya untuk keperluan penyelenggaraan OSN SMP tingkat nasional;
5)      Menyiapkan buku aktivitas pelaksanaan OSN SMP tingkat nasional;
6)      Bekerjasama dengan pemerintah tempat sebagai tuan rumah penyelenggara OSN tingkat nasional, dan instansi terkait dalam persiapan OSN SMP;
7)      Menyiapkan layanan informasi kepada penerima untuk memperlihatkan informasi tercepat dan terbaru melalui microsite ditpsmp.kemdikbud.go.id/ pesertadidik;
8)      Menyiapkan soal OSN tingkat Nasional 3 bidang [Mat, IPA, IPS];
9)      Menyiapkan perangkat lomba dan tool kits peserta;
10)    Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi dan Sekolah dalam menyiapkan lokasi tes;
11)    Menyiapkan aktivitas acara dalam mendukung kegiatan OSN tingkat nasional;
12)    Melakukan rapat koordinasi dengan pihak provinsi, sekolah dan para juri dalam persiapan penyelenggaran tes/seleksi dan aktivitas pendukung;
13)    Menyiapkan hadiah, medali, sertifikat, dan beasiswa talenta dan prestasi SMP;
14)    Menyiapkan survey lokasi untuk persiapan akomodasi, konsumsi dan transportasi untuk para peserta, panitia, dewan juri dan tamu seruan selama kegiatan berlangsung;
15)    menyelenggarakan kegiatan penilaian lembar balasan kerja siswa tingkat nasional dan memutuskan peraih medali;
16)    Menyiapkan sarana dan prasarana dalam proses moderasi antara guru pendamping dan dewan juri 3 bidang; dan
17)    Ketentuan lain dalam mendukung kegiatan OSN SMP tingkat nasional akan diadaptasi lebih lanjut.

E. Tim Penyusun dan Penelaah Soal

Tim penyusun dan penelaah soal OSN SMP untuk tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional ialah tenaga andal di bidangnya yang ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan SMP.

F. Tim Monitoring dan Evaluasi OSN

Ini dilaksanakan dalam hal membawa kunci balasan OSN SMP tingkat kabupaten/kota yang diberikan kepada dinas pendidikan provinsi, koordinasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi dalam pelaksanaan seleksi OSN, membawa soal OSN tingkat provinsi dan memantau jalannya pelaksanaan tes. Tim monev ialah tenaga yang ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan SMP.

BAB V
EVALUASI DAN PELAPORAN

A. Evaluasi

Evaluasi bertujuan untuk mengetahui ketercapaian dan hambatan aktivitas kegiatan, serta upaya penanggulangannya. Evaluasi dilakukan terhadap penyelenggaraan OSN dengan memakai format-format evaluasi. Hasil penilaian ini dijadikan landasan untuk menentukan arah kebijakan yang akan ditempuh dalam penyempurnaan aktivitas dan penyelenggaraan OSN di masa yang akan datang.

B. Pelaporan

Setelah semua kegiatan OSN dilaksanakan, perlu disusun laporan penyelenggaraan mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan hingga hasil pelaksanaan. Laporan tersebut disampaikan oleh panitia pelaksana pada tiap tingkatan kepada Direktorat Pembinaan SMP. Laporan singkat yang diberikan terdiri dari:

1) Landasan pelaksanaan kegiatan;
2) perencanaan kegiatan;
3) pengorganisasian kegiatan;
4) pelaksanaan kegiatan (waktu, tempat, dan peserta);
5) hasil yang dicapai;
6) hambatan dan upaya penanggulangan;
7) kesimpulan dan saran;
8) lampiran.
BAB VI
PENUTUP

Keberhasilan OSN tahun 2018 ditentukan oleh semua pihak yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraannya. Oleh alasannya ialah itu, semua pihak yang terlibat dalam kegiatan OSN ini perlu berpartisipasi secara aktif mendukung keberhasilan kegiatan OSN mulai dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan pelaporan dari tingkat sekolah hingga tingkat nasional. Dengan demikian diharapkan OSN 2018 sanggup memberi manfaat untuk peningkatan mutu pendidikan di bidang sains serta menghasilkan siswa yang berprestasi pada nasional dan tingkat internasional, sebagai cuilan dari upaya membuat generasi emas Indonesia.

Hal-hal lain yang belum tercantum dalam buku petunjuk pelaksanaan ini akan ditentukan kemudian oleh panitia penyelenggara berupa surat keputusan tambahan, adendum atau hukum pelengkap dalam peraturan seleksi/lomba OSN SMP ini.

Menyadari masih banyak kekurangan dalam panduan ini, kami sangat mengharapkan kritik dan saran sebagai materi masukan bagi perbaikan penyelenggaraan olimpiade olahraga di tahun-tahun mendatang.

Download / unduh Petunjuk Pelaksanaan Petunjuk Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) SMP Tahun 2018 silahkan klik pada tautan tersedia pada tampilan di bawah ini. Semoga bermanfaat dan terimakasih... ...!